Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Masih takut mempercayai nya



Ciuman hangat dan dalam itu akhirnya terlepas, Eden tampak tersenyum menatap wajah Ramira yang Masih shok serta serta terkejut dengan kehadiran nya yang tiba-tiba.


"Apa kalian baik-baik saja?"


Tanya Eden lantas mendekati perut Ramira, seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka kemarin, laki-laki itu selalu seperti itu, paling enggan membicarakan persoalan di masa lalu.


"Aku masih sering merasa mual, kadangkala aku suka muntah tiba-tiba, Belakangan juga sering susah tidur saat malam tiba"


Ucap Eden sambil menempelkan telinganya di perut Ramira.


Perempuan itu masih terkejut, cukup bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


"Apa anak kita menyusahkan kamu?"


Tanya Eden lagi sambil memejamkan bola matanya, mencoba mendengarkan suara didalam sana.


"Apa dia membuat kamu kesulitan?"


Tanya laki-laki itu lagi.


"Apa dia membuat kamu menangis seperti aku yang sering membuat kamu menangis?"


Pertanyaan terakhir Eden Seketika membuat bola mata Ramira berkaca-kaca.


"Maafkan aku karena terlambat tahu, terlambat datang untuk menjemput kalian hmmm"


"Maafkan aku untuk banyak hal yang tidak aku ketahui, soal perasaan kamu, soal anak kita, soal diam nya bibir ini dan soal apapun yang tidak pernah aku ketahui"


"Jangan membenci ku atau menghindari aku lagi, mari tidak mengingat soal masa lalu, tidak mengingat siapa yang berkorban atau di korban kan di antara kita, mari membuka lembaran baru bersama, antara aku, kamu dan anak-anak kita hmm"


Ucap Eden sambil menyentuh kedua belah pipi Ramira dengan kedua belah tangan nya, bola mata Eden terlihat berkaca-kaca begitu juga bola mata Ramira.


"Aku mencintai kamu, tulus! tidak ada sandiwara didalam nya, tidak ada keterpaksaan, tidak ada kebohongan, semua murni berjalan begitu saja, aku tanpa kamu bagaikan rumah tanpa penyangganya, persis seperti kendaraan tanpa mesin nya, tidak bisa bergerak, tidak bisa berjalan kemana pun ketika kehilangan kamu"


"Mari memulai semua nya kembali dari awal, dimana kita bertemu dimasa lalu, dan mulai merangkai kembali mimpi bersama tanpa melibatkan siapapun di antara cerita kita, kita akan menulis kisah kita sendiri di atas diary baru yang belum terjamah oleh tangan siapapun, memulai nya kembali dari lembar pertama dan menutup nya hingga hari dimana kita menua dan ajal menjemput kita"


Seketika air mata Ramira tumpah, dia terisak begitu pelan tanpa berani mengeluarkan suara apapun, pemandangan didepannya bagaikan mimpi yang takut dia sentuh, dia takut saat wajah itu dia genggang, saat bibir itu dia sentuh tiba-tiba bayangan didepan nya menghilang.


Dia masih berfikir dirinya berada di antara dua tempat dimana posisinya di antara bangun dan tertidur, rasa lelah selama bertahun-tahun dengan banyak sekali kesedihan dan penderitaan membuat dia tidak lagi bisa membedakan mana nyata mana mimpi untuk nya.


Saat Eden menyentuh tangannya dengan lembut, menempatkan tangan itu ke pipi Eden, dia baru sadar ini bukan mimpi nya, ini nyata, benar-benar nyata untuk dirinya.


Saat Eden tiba-tiba memeluk erat tubuhnya secara refleks, dia baru sadar lagi-lagi ini nyata hingga membuat Ramira mulai menangis sesenggukan di dalam dada bidang itu untuk waktu yang begitu lama.


Tuhan nyatakah ini?


Jika bukan maka jangan bangunkan aku dari mimpi terindah mu.