Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Panggilan tiba-tiba



Setelah sesi panjang bergelut melewati malam panas pertama mina bersama Emir, mereka memutuskan untuk membersihkan diri, lantas berbaring di atas kasur sambil menatap jutaan bintang hingga fajar menghilang berganti Waktu lagi di kamar bernuansa skylight romance, sejenak mereka mulai terlelap bersama.


Mina tenggelam didalam pelukan Emir, terlelap dalam tidur lelah nya hingga pagi hari tiba.



Meskipun sinar matahari telah menampakkan batang hidungnya, tapi rasa lelah dan enggan bergelayut didalam dirinya, belum lagi rasa perih dan pedih masih terus mendominasi di bawah sana.


Benar kata orang-orang, malam pertama itu kebanyakan tidak ada Nikmat nya,rasa sakit, sulit, sesak dan perih di sertai rasa pedih bercampur aduk menjadi satu.


Mungkin Mina harus membiasakan diri untuk beberapa waktu lebih dulu, jika sudah terbiasa mungkin akan merasakan satu kenyamanan dan kenik..matan dari sudut lainnya.


Tapi ada keuntungan yang dia dapatkan dari sang suami, Emir memperlakukan dirinya dengan begitu lembut dan hati-hati sekali, seolah-olah laki-laki itu takut dia terluka dan merasa begitu kesakitan.


Emir jelas bukan sosok egois yang mementingkan ras Puas dan nik..mat nya sendiri, laki-laki itu memastikan diri nya mendapatkan kenyamanan nya, mendapatkan puncak kenik..matan dan pelepasan nya lebih dulu baru melakukan pengatuan.


Tidak ada ke egoisan yang mendominasi, memperhatikan kebutuhan nya lebih dulu baru memenuhi kemauan dan kenik..matan laki-laki itu sendiri.


Mina kembali menggeliat pelan, dia mencoba untuk masuk kembali kedalam selimut nya, meringkuk enggan untuk bangun dari sana.


Dan Mina Fikir Untung nya hari ini Minggu, jika tidak bisa dipastikan Betapa remuk nya tubuh mina saat ini jika dia harus pergi kuliah dan melakukan aktifitas lain seperti biasanya.


Weekend benar-benar waktu yang begitu tepat untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang tercinta.


Lagi-lagi Mina menggeliat perlahan saat dia mendengar suara handphone Emir terus memenuhi gendang telinga nya.


Secara perlahan Mina mengintip ke arah luar selimut nya, mencoba meraba-raba Asal dering telepon sang suami yang terletak di atas kasir di atas tempat tidur mereka, sejenak Mina mengintip nama siapa yang tertera di layar handphone tersebut.


"Kak."


Emir tampak bergerak Sejenak, mengencang kan pelukan nya pada Mina.


"Hmmm?"


Emir bertanya ber Hmm ria.


Bisik Mina pelan.


"Angkatlah"


Ucap Emir dengan kantuk yang masih begitu melekat, dia mencium sejenak puncak kepala mina kemudian kembali mengencangkan pelukan nya.


Sejenak Mina mengembangkan senyuman nya, sepersekian detik kemudian dia langsung mengangkat panggilan itu untuk beberapa waktu.


"Halo?"


Tanya nya pelan.


Sejenak dia mencoba mendengarkan jawaban dari sana,dia sebenarnya masih mengantuk namun tiba-tiba saja rasa kantuk yang masih menyerang nya menghilang berganti dengan ekspresi aneh dari wajah nya yang berubah ekspresi tiba-tiba.


"Bagaimana?"


Saat menjawab suara di seberang sana, Sejenak Mina menoleh ke arah Emir.


"Lalu apa yang terjadi?"


Dia berusaha mengendurkan pelukan Emir untuk beberapa waktu, bergerak perlahan menjauhi tubuh laki-laki yang masih terlelap itu.


"Tidak adakah pilihan lain?"


Tanya Mina pelan.


"Aku akan memberikan keputusan nya sore nanti"


Setelah berkata begitu Mina mematikan panggilan nya, berjalan perlahan mendekati Emir lantas mendekati sang suami.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari perempuan itu, hanya ada keheningan untuk beberapa waktu.