
Ramira hanya mengangguk pelan, dia Tampak sibuk mencari sesuatu didalam tas nya.
"Bicaralah"
Ucap Ramira pelan tanpa berniat menoleh kearah Farhan.
"Aku tidak bisa meneruskan permainan untuk menjalin hubungan dengan Selena"
Ucap Farhan pelan, dia perlahan duduk disamping Ramira.
Ramira sejenak menghentikan gerakan tangan nya, dia menoleh kearah Farhan.
Perempuan itu menarik nafasnya pelan.
"Kenapa?"
"Apa aku harus memaksakan hati ku untuk orang lain? kamu tahu bukan siapa orang yang aku cintai hingga sejauh ini?"
Farhan bertanya sambil menatap dalam bola mata Ramira.
"Saat permainan ini berlanjut, akan ada banyak yang terluka di antara kita"
Ucap Farhan lagi.
Ramira tampak menggigit bibir bawahnya.
"Realita nya kita tidak mungkin mundur lagi, Farhan"
"Aku tahu, aku tidak bilang kita akan mundur, tapi rencana yang kamu gagaskan jelas tidak menguntungkan aku atau Selena, mungkin benar laki-laki seperti aku bisa berpura-pura mencintai dia, tapi dia bisa jadi terluka"
"karena itu kita akan menggiring nya memilih bahrat, dia akan membenci mu dan lebih memilih bahrat"
"Lalu bagaimana dengan perasaan ku? apa kamu bisa menggiring diri ku menuju ke hati mu? kamu bahkan bermain terlalu dalam bersama Eden"
Suara Farhan kali ini mulai meninggi.
Ramira memejamkan sejenak bola matanya.
"Soal perasaan ku kamu tidak harus tahu"
Ucap Ramira lantas membuang wajahnya.
"Apa kamu mulai jatuh cinta pada nya?"
Farhan menarik tubuh Ramira dengan cepat.
"No, aku melakukan nya karena sebuah janji"
Farhan mendengus.
"Janji? lalu aku? aku juga melakukan nya demi janji, tapi aku jelas tidak bisa menggadaikan perasaan ku pada Selena, aku mencintai kamu, sejak awal aku katakan aku mencintai kamu"
"Aku bilang berhenti mencintai aku, jangan gunakan perasaan dulu dalam permainan ini, kita harus menyelesaikan semuanya hingga akhir, mengungkap kematian valentine, menggiring mereka pada bukti-bukti autentik nya, menggiring Aland untuk mencintai Ailee, menggiring Murat agar menikahi aishe dan menggiring Selena menuju ke arah Bern (Eden Al Jaber) yang asli"
Ramira membentak balik Farhan, dia memukul dada Farhan dengan keras.
"Kau fikir aku menyukai semua ini?"
Bola mata Ramira mulai berkaca-kaca, air mata nya mulai tumpah.
"Dibandingkan Diri mu, aku lebih lelah"
Dia terisak sejenak.
"Jadi jangan gunakan perasaan kamu dalam permainan ini hingga semua nya tuntas.
Air mata Ramira tumpah tidak terbendung, dia membuang pandangannya, dengan tangan gemetaran dia mencoba mencari apa yang di cari nya tadi.
Farhan tampak diam, berdiri memunggungi Ramira.
"Sekarang aku paham kemana hati mu, kamu memang tidak pernah mencintai ku"
Ucap laki-laki itu pelan.
Ramira memejamkan bola matanya sejenak.
"Ya, sejak awal kamu sudah tahu itu bukan?"
Farhan mengangguk kan kepala nya.
"Aku akan kembali ke club"
Ucap laki-laki itu cepat, lantas secepat kilat melangkah meninggalkan Ramira.
Perempuan itu membulatkan bola matanya, dengan cepat Ramira membalikkan tubuhnya.
"Kau akan tidur dengan sembarangan perempuan lagi?"
Tanya nya dengan tangan gemetaran.
Farhan menoleh sejenak.
"Sejak kapan itu menjadi urusan mu? bukan kah kamu tidak mengharapkan aku? jdi aku ingin tidur dengan perempuan manapun tidak harus jadi urusan kamu juga bukan?"
Setelah berkata begitu Farhan dengan cepat berbalik, rahang wajah laki-laki itu mengeras dan dengan gerakan cepat laki-laki itu membuka pintu kamar lantas menutup nya dengan gerakan yang begitu kasar.
Ramira terdiam, lantas secepat kilat perempuan itu terduduk dilantai, seketika tangis nya pecah untuk waktu yang lama, dia memukul beberapa kali dada nya.
"Sebentar lagi, sebentar lagi, tunggu lah sebentar lagi"
Ucap nya pelan pada dirinya sendiri.