
Disisi lain
Mansion utama Luck Stephard
Manhattan.
Lea terlihat gusar, sejak semalam sama sekali tidak bisa tidur, berulangkali dia berusaha untuk memejamkan bola matanya tapi ternyata dia sama sekali tidak berhasil melakukannya seolah-olah ada beban berat yang menghantam dirinya.
tidak tahu kenapa tapi rasanya ingin sekali dia kembali ke Swiss menyusul Luck Stephard suami nya, ingin sekali dia bertanya apa kabar dengan kakak laki-lakinya, apakah suaminya telah menemukan kenyataan tentang kakak laki-lakinya tersebut saat ini.
apakah Aries baik-baik saja dan sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya.
ada berbagai macam pertanyaan-pertanyaan menghantam kepalanya saat ini hingga membuat dia berpikir apakah tidak sebaiknya dia kembali ke Swiss saja, tapi jika dia ingat pada kehamilannya hal tersebut jelas langsung di urungkan olehnya karena dia tidak mungkin pergi dalam masa kehamilannya, tapi tidak pergi benar-benar menjadi beban berat untuk dirinya.
Entah sejak pukul berapa dia mencoba untuk memejamkan bola matanya namun sama sekali tidak berhasil, berkali-kali dia memaksakan diri untuk tidur tapi dia sama sekali tidak bisa melakukannya dan tidak mampu untuk melakukannya.
lagi-lagi kali ini Lea berusaha untuk memejamkan bola matanya sejenak siapa tahu dia bisa mengambil waktu tidur meskipun hanya beberapa menit saja, namun semakin dia berusaha untuk memejamkan bola matanya semakin kegelisahankan menghantam dirinya hingga membuat perempuan itu langsung kembali membuka bola matanya.
sejenak Lea tidak melakukan pergerakan apapun membiarkan bola matanya menatap ke arah depan untuk beberapa waktu, suara jarum jam terdengar memenuhi kamar mendominasi berwarna putih tersebut dan tidak tahu kenapa kerinduannya pada Luck Stephard seketika menjadi-jadi.
perempuan itu memperhatikan handphonenya untuk beberapa waktu tidak tahu kenapa tapi rasanya ingin sekali dia mencoba untuk menghubungi suaminya saat ini tapi dia berusaha untuk menahan perasaannya mengingat waktu saat ini jelas bukan waktu yang tepat untuk menghubungi suaminya.
kemungkinan besar sang suami telah terlelap didalam tidurnya.
Lea menghela nafasnya untuk beberapa waktu, kemudian secara perlahan dia mencoba untuk beringsut dari posisinya dan memilih untuk bangun dari tempatnya tersebut secara perlahan.
dia bergerak dari kasur di mana dia tadinya tertidur menuju ke arah pintu depan dengan gerakan cukup lambat, secara perlahan perempuan tersebut mulai keluar dari kamarnya dan bergerak menuju ke arah dapur.
dia pikir mungkin sebaiknya dia mencari sesuatu untuk mengisi perut dan juga melegakan sedikit tenggorokannya.
saat ini Lea tahu dia tidak baik-baik saja, berbagai macam pemikiran berhantam dirinya terutama soal kakaknya, meskipun Luck Stephard berulang kali memperingati dirinya agar dia tidak memikirkan soal apapun tentang kakaknya, namun tetap saja sebagai seorang adik dia tidak bisa melakukan hal tersebut karena baginya semua seolah-olah menjadi beban berat untuk dirinya.
Semua masih terlalu abu-abu.
belum dia mendapatkan kakaknya rasanya semua terus menghantui dirinya dan membuatnya tidak bisa tidur dan makan dengan tenang.
perempuan itu sejenak menghela nafasnya ketika dia telah berada di dapur, dia memilih membuka lemari pendingin dan mencari sesuatu di dalam sana, meraih botol minuman dingin dan juga mencoba untuk menikmati puding yang tersisa di sana.
keheningan terjadi karena dia tidak memiliki satu teman pun saat ini, para teman dekatnya tidak ada di antara mereka, semua berada di Indonesia atau bahkan di Paris, sangat sulit sekali untuk dirinya berkomunikasi dengan para sahabatnya tersebut mengingat jauhnya jarak mereka.
Lea terkadang merindukan semua orang pada saat ini, butuh teman berbagi, dia merasa kesepian, namun realitanya dia sama sekali tidak bisa menuntaskan kerinduan karena jarak yang terjadi di antara mereka.
secara perlahan perempuan tersebut meneguk minumannya kemudian menikmati puding yang ada di hadapannya, membiarkan dirinya larut di dalam pemikirannya sebenarnya di mana sebuah ingatan manis pada masa kecil dirinya bersama kakaknya datang menghantam.
*****
Kembali ke masa lalu.
Mansion utama Karlos Al Jaber.
Lea menatap sosok kakak laki-laki muda yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu, dimana bisa dilihat laki-laki tersebut tampak membeku menatap punggung Daddy mereka yang mulai bergerak menjauh dari mereka.
pertengkaran seperti nya kembali terjadi antara mommy nya dan daddy nya, tapi karena dia masih terlalu kecil dia tidak paham dengan apa yang terjadi pada orang dewasa, yang dia dengar hanyalah tangisan dari mommy nya atau bahkan teriakan dari Daddy nya.
kedua orang tersebut seringkali bertengkar tanpa memikirkan situasi sama sekali atau bahkan tanpa peduli jika di sekitar mereka ada anak-anak yang memperhatikan.
begitu Aries membalikkan tubuhnya, laki-laki tersebut menatap Lea untuk beberapa waktu, awalnya Aries membeku dan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali hingga pada akhirnya di detik berikutnya laki-laki itu mengembangkan senyumannya lantas berkata.
"apa kamu mau makan es krim, sayang?"
Senyuman hangat tersebut mengusik diri nya, wajah tampan dengan suara tenang dimana kakak nya memiliki tingkat kesabaran yang tidak bisa dia ukur tingkat nya.
Lea kecil menganggukkan kepalanya.
Laki-laki tersebut tersenyum, dia meraih tubuh Lea, menggendong nya secara perlahan.
"Kita akan pergi ke Mall untuk menikmati es krim"
Ucap laki-laki tersebut cepat.
iya pikir mungkin kakaknya berbohong untuk membawanya ke Mall guna menikmati semangkuk es krim, tapi siapa sangka laki-laki tersebut benar-benar melakukannya, mereka duduk di salah satu kursi panjang sembari menikmati es krim di mana bola mata mereka berdua menatap para pengunjung yang hilir mudik, kesana kemari, naik turun untuk menikmati kegiatan belanja mereka.
"apa kamu bahagia?"
barisan pertanyaan itu dilesatkan oleh kakak laki-lakinya.
Lea menghentikan gerakan tangannya menyendok es krim yang ada di hadapannya, dia langsung menoleh ke arah kakak laki-lakinya tersebut sembari menatap dalam wajah Aries yang bertanya kepadanya tapi tidak menoleh ke arahnya.
"Tentu saja"
gadis kecil itu menjawab dengan polos, dia belum begitu paham saat kehidupan orang dewasa, baginya selama dia diberikan makanan, berbagai macam cemilan, buku-buku kesukaan nya atau apapun yang menjadi kegemaran nya, itu jelas merupakan sebuah kebahagiaan untuk dirinya.
dan dia tidak mengerti kebahagiaan yang lainnya di usianya yang masih sangat muda belia.
dia masih menatap wajah kakaknya untuk beberapa waktu di mana Aries terlihat menghela nafasnya secara perlahan.
"Kakak bahagia?"
Lea kemudian bertanya ingin tahu apakah kakaknya bahagia.
Aries langsung menoleh ke arah dirinya dan menatap bola mata Lea untuk beberapa waktu.
"aku punya harapan untuk diriku saat ini"
kakaknya berucap sedikit melenceng dari pertanyaannya, membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"aku ingin memiliki sebuah keluarga harmonis di mana Mommy dan daddy saling mencintai, memperlakukan anak-anak nya dengan baik dan memperlakukan aku dengan hangat"
setelah berkata seperti itu Aries membuang pandangannya dan membiarkan bola matanya kembali menatap lurus ke depan.
"aku berharap aku terlahir kembali dari keluarga impianku, melupakan apa yang terjadi pada kehidupanku yang saat ini"
lanjut laki-laki itu lagi kemudian.
lihat terlihat diam dia menundukkan kepalanya memperhatikan es krimnya untuk beberapa waktu, kemudian gadis kecil itu kembali mengambil es krim tersebut dan menyuapinya ke mulutnya.
"jika kakak terlahir kembali apakah kakak akan melupakanku nanti?"
sebaris pertanyaan tersebut meluncur dari balik bibir Lea, dia menatap ke arah Aries yang juga menetap ke arah dirinya.
Aries sama sekali tidak menjawab di mana jemari tangan kanannya menghapus lembut sisa es krim yang ada di bawah bibirnya, laki-laki itu hanya mengembangkan senyumannya tanpa berniat untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya bahkan hingga hari ini.
*****
Kembali ke masa sekarang.
Seketika air mata Lea jatuh, dia mencoba menggigit bibir bawahnya dengan keras, terasa asin, dia pikir bibirnya berdarah.
Apa kakak sengaja melupakan semuanya?!.
Sebaris tanya meluncur dibalik hati Lea.