Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Semuanya sudah terlambat



kembali ke masa


2 ½ jam sebelum Alestor menculik Ramira.


Rumah sakit xxxxxxx


Manhattan


Perempuan itu tampak terdiam saat seorang laki-laki berwajah oriental berdiri tepat dihadapan nya sambil melebarkan senyuman nya.


Ramira baru saja kembali melesat kerumah sakit saat dokter pribadi nya berkata ada yang salah dengan pemeriksaan kandungan nya.


Dia jelas panik, berusaha untuk kembali kerumah sakit dengan perasaan khawatir, tapi rupanya dia sedikit tertipu, sebab begitu masuk ke dalam ruangan dokter tersebut, tiba-tiba laki-laki yang sangat dia kenal telah berdiri tepat dihadapan nya.


Dengan ekspresi terkejut Ramira menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.


"Arisu?"


Ramira fikir kenapa ada laki-laki ini di hadapan nya saat ini.


"Merindukan ku kah?"


Tanya laki-laki itu sambil terus mengembang kan senyuman nya kemudian laki-laki itu berjalan mendekati Ramira, menepuk-nepuk lembut kepala Ramira lantas berkata.


"Kenapa selalu bergerak sesuka hati? merasa semua baik-baik saja, membohongi perasaan kepada semua orang hmmm?"


Mendengar ucapan laki-laki itu, seketika Ramira menelan salivanya.


"Tidak mau menyelesaikan sebuah perkara Rumit?"


"Maafkan aku"


Ucap Ramira pelan.


"Asha sudah cerita Semua nya"


"Ya?"


Seketika Ramira mendongakkan kepalanya, menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Dia ingin bicara dengan mu"


Seketika Ramira mundur beberapa langkah.


"No....please kali ini jangan lagi melarikan diri, sekali ini saja biarkan dia bicara pada mu"


Ramira buru-buru menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin lagi berurusan dengan Ramira atau Eden, bagi Ramira semua sudah baik-baik saja saat ini.


Dia akan pergi sejauh mungkin, semua orang boleh bahagia tanpa diri nya.


"Tidak ada lagi yang harus di bahas di antara kami"


"Ada, ada yang masih harus dijelaskan di antara kita"


Tiba-tiba Asha muncul dari arah balik pintu masuk sambil menggunakan kursi rodanya.


Ramira rasanya ingin segera pergi dari sana saat ini, dia mati-matian menghindari semua orang tapi hari ini dia melihat perempuan itu telah berdiri tepat dihadapan nya.


********


2 jam sebelum Ramira diculik.


"Aku tahu mungkin ini akan sulit, tapi maafkan Mommy ku atas semua perbuatan nya, menekan mu, memaksa mu bahkan memperlakukan diri mu dengan tidak adil"


Ucap Asha pelan ke arah Ramira.


"Aku sudah memaafkan nya sejak dulu, realita nya untie oh ha Ra orang yang baik, aku pikir untie hanya khilaf hingga berfikir melakukan hal seperti itu, sebab seorang ibu kadang kala menginginkan kebahagiaan putri nya tapi bingung mencari cara yang tepat"


Jawab Ramira cepat.


"Aku sudah lama melupakan persoalan kemarin, kamu bisa hidup dengan tenang kedepan nya, tidak usah merasa jika aku adalah beban yang akan mengganggu pernikahan kalian"


Lanjut perempuan itu lagi.


"Aku telah menandatangani surat cerai dengan Eden"


Ucap Asha cepat.


Seketika bola mata Ramira membulat, dia langsung menoleh ke arah Asha.


"Kau bilang apa?"


Dia sama sekali tidak bahagia mendengar ucapan perempuan itu, Seketika rasa kecewa dan marah jelas menyergap perasaan nya, seolah-olah apa yang dilakukan oleh nya selama ini sia-sia, bahkan pengorbanan dia selama ini benar-benar tidak ada gunanya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Ramira, Asha berkata.


"Cinta memang buta tapi bukan berarti kita boleh dibutakan olehnya. minimal mengguna kan sedikit logika saat jatuh cinta"


Ucap Asha pelan lantas menoleh ke arah Ramira.


"Kamu tahu kenapa? Agar saat dijatuhkan oleh cinta kita tidak perlu sakit hati, merasa dunia tidak adil dan Logika diperlukan saat jatuh cinta agar kita tidak jatuh dalam hal yang seharusnya tidak perlu kita alami Sehingga ketika ada hal yang mengecewakan terjadi Dengan logika kita akan tahu benar dan salah nya"


Setelah berkata begitu Asha menatap lurus ke depan.


"Kembali lah kepada Eden, dibandingkan aku dia jelas lebih membutuhkan kamu"


Setelah berkata begitu, Asha dengan cepat meraih telapak tangan Ramira, dia berusaha untuk menggenggam erat tangan Ramira sambil tersenyum menatap wajah perempuan itu.


Sejenak Ramira memperhatikan tangan Asha menggenggam erat tangan nya, Sepersekian detik kemudian Ramira Langsung melepaskan tangan nya dari perempuan itu.


"Semua sudah terlambat, aku akan menikah dalam waktu dekat"


"Kamu sedang membohongi aku"


Asha buru-buru menyela, mencoba kembali melepas kan tangan nya dari genggaman Asha.


Ramira menggeleng kan kepalanya dengan cepat.


"Meskipun kamu telah menceraikan nya, realita nya perasaan ku telah menghilang bersama angin untuk dirinya, bukan hanya karena untie oh ha Ra yang membuat ku memutuskan untuk meninggalkan Eden, tapi ada jutaan pertimbangan lain yang benar-benar telah aku fikirkan dengan matang sebelum nya"


Ucap nya dengan nada yang begitu pasti.


"Semua nya sudah terlambat Asha, benar-benar sudah terlambat"


Ramira menggelengkan kembali kepalanya secara perlahan.


Setelah berkata begitu Ramira langsung berdiri dari duduknya, dia menundukkan pelan kepalanya lantas secara perlahan meninggalkan perempuan itu seorang diri dalam diam.