Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Bergerak cepat



Dimasa Edo & Vio.


Edo berjalan tergesa-gesa menuju ke arah club malam xxxxxxx Jakarta, Dia, Ramira dan farhan telah berjanji untuk bertemu disana guna membicarakan sesuatu yang sedikit terdesak.


"Aland akan kembali ke Indonesia bulan depan"


Ucap Edo langsung mendekati farhan yang tengah sibuk memberi instruksi beberapa karyawan nya yang bekerja malam ini.


"Apa?"


Farhan langsung menoleh ke arah laki-laki itu dan meminta karyawan nya keluar dari ruangan nya.


"Aku fikir sebaiknya Ramira bergerak lebih cepat untuk menggali informasi soal Bern de Lucas, dan Kamu harus mengiring Selena untuk melihat hasil tes DNA eden dan Bern, juga tes DNA aland dan Ailee, saat Aland tiba kita sudah harus menyakini Selena dan Aland soal semua hal yang terhubung"


Ucap Edo cepat.


"Aku cukup kesulitan masuk ke sarang mafia"


Ucap Ramira tiba-tiba dari arah belakang Edo, perempuan itu langsung duduk di atas kursi sofa yang terletak di sudut kiri nya.


"Jika aku masuk,aku jamin seluruh sekutu mafia akan melaporkan aku pada Keluarga Stephard"


Tambah Ramira sambil melirik ke arah Farhan.


"Aku akan menggiring Selena untuk mencari informasi sendiri ke Manhattan bersama Bahrat, mungkin aku akan minta bantuan teman lama Luck untuk bisa membawanya masuk ke sarang mafia"


Ucap farhan tiba-tiba.


Edo menaikkan alisnya.


"Siapa?"


"Winda"


Oh shi.tttt.


Edo mengumpat.


"Aku Fikir itu bukan teman lama kawan, tapi itu adalah mantan kekasih Luck"


"Yeah, dia bisa masuk lebih mudah dengan koneksi sesama mafia, aku akan menghubungi Winda untuk membawa masuk Selena menuju ke arah Bern, cukup pastikan Winda mendapatkan rambut Bern atau yang lainnya yang bisa kita gunakan untuk melakukan tes DNA"


Setelah berkata begitu seketika mereka diam didalam keheningan, sibuk dan larut dalam fikiran masing-masing untuk waktu yang cukup lama.


*******


Saat Edo dan Ramira telah pergi dari hadapan nya, Farhan dengan cepat mencoba untuk menghubungi seseorang dari balik handphone nya.


"Halo...ini aku"


Ucap Farhan cepat dengan nada yang terdengar begitu teratur.


"Apa kamu bisa membantu ku untuk melakukan sesuatu?"


Farhan tampak diam sejenak, mencoba mendengar kan jawaban dari lawan bicaranya.


"Bantu aku membawa adik perempuan Aland untuk pindah dari perusahaan Al Jaber Prancis menuju ke Indonesia, dan pastikan Asha membatalkan pernikahan nya dengan laki-laki itu dan buat Eden menjauhi Ramira dan lebih memilih Asha untuk dijadikan istri oleh nya"


Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Farhan, laki-laki itu menggenggam erat telapak tangan nya, dia memejamkan perlahan bola matanya.


"Aku ingin Eden menghindari Ramira bagaimana pun caranya, buat dia menyakini hati nya jika Asha gadis yang paling tepat mendampingi hidup nya"


Lanjut Farhan lagi sambil menarik pelan nafasnya.


"Aku fikir dia akan melamar Ramira kembali dalam waktu dekat, pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi, setelah semua usai aku akan membawa nya ke Manhattan"


Setelah Farhan berkata begitu, dia langsung mematikan panggilan nya.


Farhan membuka secara perlahan kaca raksasa yang menghadap ke arah jutaan lampu kota Jakarta, dia berjalan menuju ke arah teras depan sambil membawa gelas minumannya, kemudian secara perlahan menyesap minuman nya sambil menatap dalam jutaan bintang yang menghiasi langit malam.


Mungkin dia terlihat kejam, tapi dia tidak rela melepaskan Ramira untuk laki-laki itu, eden sudah 3x melamar perempuan itu, mungkin kemarin Ramira menolak nya karena alasan menjaga janjinya pada Valentine, tapi kali ini Farhan mulai tidak yakin.


Jika Eden bisa mengubah perasaan cintanya pada valentine menjadi ke Ramira, maka tidak dia pungkiri Ramira yang mulai meragukan perasaan nya bisa tiba-tiba menerima lamaran laki-laki itu kali ini.


Bukankah cinta itu buta? mereka tidak punya alasa pasti untuk datang dan pergi, begitu pula perasaan Farhan.


Meskipun Farhan tidak tahu betul kemana sebenarnya hati Ramira berlabuh, tapi dia mulai ragu jika perempuan itu mungkin tidak mencintai dirinya, terbukti betapa dia ingin mempercepat pernikahan mereka, Ramira selalu menolak nya.