Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Tidak mau kehilangan moment sekali lagi



Sejenak Eden mengulum senyumannya sambil beberapa kali melirik ke arah Ramira yang tengah sibuk dengan pakaian dan Koper nya.


Perempuan itu tampak mulai mengepak beberapa barang-barang miliknya tanpa banyak bicara, sambil sesekali dia melirik ke arah Eden juga dan mengembangkan senyuman nya.


Eden jelas tampak begitu senang, akhirnya setelah perjuangan panjang menyakinkan perempuan itu untuk pulang selama beberapa waktu, di tolak dengan gelengan Beberapa kali, bahkan ditatap dengan jutaan keraguan, akhir nya Ramira setuju juga untuk kembali ke Manhattan dan Indonesia.


Rencana mereka besok akan pergi dan mengikuti penerbangan menuju ke Manhattan, Pagi ini sebelum nya mereka telah melakukan pemeriksaan ulang kandungan Ramira, memastikan jika bayi mereka juga Ramira dalam kondisi fit untuk melakukan perjalanan jauh, sebab akan sangat sulit sekali mendapatkan izin terbang mengingat Ramira masih hamil di trimester pertama dan penerbangan nya pasti akan memakan waktu yang cukup lama.


Dan untungnya kondisi janin dan juga tubuh Ramira begitu sehat dan baik, maka mereka mendapatkan persetujuan dari dokter kandungan disana untuk pergi melanjutkan perjalanan pulang besok.


Dan kemungkinan dari Manhattan ke Indonesia, mereka akan mengikuti penerbangan menggunakan pesawat jet pribadi keluarga Al Jaber.


Hari ini setelah menyakinkan kondisi Ramira baik-baik saja serta siap untuk melakukan penerbangan, mereka memilih menghabiskan waktu sejenak untuk menikmati musim dingin di sana setelah selesai mengepak barang-barang mereka.


"Kemarilah"


Ucap Eden tiba-tiba saat Ramira baru selesai mengepak pakaian mereka.


Sejenak perempuan itu menoleh, dia mengerut kan keningnya sejenak.


"Kenapa?"


Eden sama sekali tidak menjawab, tiba-tiba laki-laki itu mendekati Ramira, meraih tubuh nya dan tiba-tiba saja Eden menggendong Ramira.


"Akhhhhhhh... Eden"


Gerakan refleks Eden jelas membuat dia terkejut setengah mati, Tangan Ramira mencoba berusaha memegang erat leher.


Eden berjalan perlahan menggendong Ramira menuju ke arah kasur mereka.


Laki-laki itu kemudian membiarkan Ramira duduk ditepi kasur mereka.


"Kenapa?"


Ramira masih mengerutkan keningnya.


Eden duduk sambil membiarkan kedua kakinya menopang tubuhnya, dia mencoba menggenggam erat telapak tangan Ramira.


"Mari menghabiskan waktu membicarakan soal apa yang akan kita lakukan pada bayi kita kedepannya"


Ucap Eden tiba-tiba, laki-laki itu menatap dalam bola mata Ramira.


Mendengar ucapan eden Ramira tampak terdiam.


"Aku tidak ingin kehilangan moment yang sama seperti kehilangan moment bersama Ailee yang sama sekali tidak aku sadari kehadiran nya di masa lalu"


Ucap Eden sambil terus menatap dalam bola mata Ramira.


Melihat bola mata Eden yang terlihat serius dan berkaca-kaca menatap dirinya, Ramira Tampak menelan salivanya.


Jutaan rasa bersalah karena diam-diam hamil dan menghindari Eden tanpa memberitahu kan laki-laki itu soal kehamilan nya membuat Ramira merasa begitu berdosa.


Benar seharusnya dia tidak membuat Eden sekali lagi kehilangan moment berharga nya soal anak-anak.


"Mari tinggal bersama dan izinkan aku merasakan bagaimana rasanya menjadi laki-laki sempurna seutuhnya"


Ucap Eden lagi sambil terus mengelus lembut tangan Ramira.


"Anak-anak butuh orang tua yang lengkap, dia butuh perhatian total Daddy nya, dia pasti ingin kita terus bersama menyaksikan tumbuh kembang nya dengan sempurna"


"Jangan buat dia merasakan pedihnya kehidupan seperti Ailee, jika tidak aku tidak akan pernah memaafkan diri ku sendiri karena jutaan rasa bersalah mengabaikan para buah hati ku dikala mereka membutuhkan aku hmm"


Tiba-tiba dia melihat bola mata Eden berkaca-kaca.


"Kau tahu kadang kala ada jutaan rasa bersalah yang menghantam ku ketika melihat wajah Ailee, aku kehilangan semua moment berharga nya, tidak menyentuh nya saat masih di perut valentine, tidak tahu bagaimana rasanya membeli susu dan vitamin untuk nya"


Laki-laki itu tiba-tiba menundukkan kepalanya, dia menangis.


Yah Eden menangis.


Laki-laki itu mencoba menarik nafasnya beberapa waktu.


Laki-laki itu kembali mendongakkan kepalanya, menatap lagi bola mata Ramira.


"Aku kehilangan moment dalam tiap bulan perkembangan nya, tidak tahu bagaimana rasanya saat melihat dia pertama kali lahir dan melihat dunia ini, aku tidak tahu bagaimana suara tangisan nya bahkan aku tidak tahu bagaimana pertama kali dia memanggil ku Daddy ketika usia nya masih balita, rambut nya mungkin di kuncir tinggi dengan pakaian lucu yang aku bahkan tidak tahu berapa harganya"


Mendengar ucapan Eden Seketika air mata Ramira ikut Tumpah.


"Aku bahkan kehilangan moment bagaimana rasanya memeriksakan diri ke dokter, melihat foto USG pertama nya, menyentuh jari-jari mungil nya, atau bahkan bagaimana rasanya ketika dia pertama kali menangis, tertawa atau bahkan marah"


"Jadi...mari tinggal bersama, izinkan aku menjadi Daddy yang sempurna untuk anak kita hmm"


"Biarkan aku tahu bagaimana rasanya melayani Mommy nya, memenuhi semua kebutuhan kamu dan dia, memasak sesuatu untuk kalian, membeli pakaian bayi yang lucu-lucu bersama kamu dan melewati semua hal yang sempat aku lewatkan Dimasa lalu, sekali ini aku mohon mari hapus Ego kita masing-masing dan rasa bersalah soal masa lalu, mari saling menggenggam tangan untuk mengurus anak kita hmmm"


"Karena dia butuh orang tua utuh untuk terus bersama dirinya"


Lanjut Eden lagi sambil menyentuh lembut perut Ramira.


Kemudian laki-laki itu kembali menunduk kan kepalanya, laki-laki itu tampak diam sejenak, lantas lagi-lagi terdengar isakan kecil dibalik bibirnya.


Bahu Ramira tampak terus bergetar, perempuan itu ikut terisak, dia menyentuh lembut kepala Eden, mengelus lembut rambut laki-laki itu untuk beberapa waktu.