
Flow masih menegang saat menatap semua berkas milik arsen basah kuyup dan laptop ny mati total, wajah cantik tersebut terlihat pucat dan mengeluarkan ekspresi cukup takut, kemudian bola mata gadis tersebut seketika menatap ke arah arsen.
"kak...aku...maafkan aku"
Dia pikir apa yang telah dilakukan hingga dia dengan bodoh nya mengacaukan semuanya, dia pikir Arsen pasti akan marah besar.
Laki-laki tersebut berdiri dengan cepat hingga membuat Flow langsung memejamkan bola matanya dan mencoba menahan kedua tangan nya di kedua belah pipinya.
Alih-alih marah Arsen malah mengulum senyuman nya, laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya lantas menyentuh puncak kepala Flow secara perlahan.
Flow seketika terkejut, gadis tersebut langsung membuka bola matanya secara perlahan.
"Kita akan mengganti nya dengan yang baru, masih bisa menyelamatkan data nya jika memang laptop nya mati total, kita hanya butuh hardisk nya, dan bisa berikan aku lap hmm Kita akan membersihkan semua kekacauan nya"
Setelah berkata begitu, Arden terlihat Mencoba melepas kan pakaian atasannya yang terkena kopi Panas, seketika hal tersebut membuat Flow sedikit terkejut dan juga panik, dia pikir perut Laki-laki tersebut memerah.
"Mereka memerah"
Flow tampak panik, dia bergegas membalikkan tubuhnya, berlarian keluar mencoba mencari kain lap dan alat p3k.
Arsen sama sekali tidak bersuara, menatap punggung Flow yang berlarian kecil keluar kemudian dia menatap bagian perutnya.
Sisa luka tembak diperut dan sebuah luka memanjang di dadanya terlihat menghiasi bagian tubuh indah nya, laki-laki tersebut menghela pelan nafas nya.
Arsen Althap Petlers Peterson, siapa yang tidak tahu bagaimana watak laki-laki tersebut?!.
Dia bukan type laki-laki yang suka memperkeruh suasana, bukan type laki-laki yang memiliki temperamental tinggi, arogan dan buruk, semua orang tahu bagaimana kapasitas kesabaran besar nya, dia jelas laki-laki yang tidak suka tersulut emosi dan marah tanpa alasan, bagi Arsen dari pada menghabiskan diri nya pada kemarahan yang tidak berguna dan tidak menyelesaikan masalah malah semakin membuat runyam isi kepalanya, dia lebih suka bertindak tenang dan berpikir setiap persolan akan ada pemecahan permasalahan nya.
Karena itu jika orang bertanya apakah Arsen pernah marah atau bertindak di luar batasannya?.
Tidak pernah.
Kecuali dalam keadaan terjepit dan nyawa nya terancam, dia tidak pernah mengeluarkan sedikit pun amarah nya.
Sesuai nama nya, karakter Arsen didapat sesuai makna nama nya sendiri.
Arsen Althap Petlers Peterson.
Arsen \= jantan dan maskulin
Althap \= lemah lemby
Patlers \= berbakat, cerdas, dan sangat kreatif.
Mereka menyatu pada diri Arsen pada sifat yang sama seusai nama nya.
Laki-laki tersebut memilih duduk di atas kursi sofa, mencoba mendinginkan perut nya yang jelas memerah karena air panas dari kopi yang di bawa oleh Flow.
Gadis itu masuk kembali keruangan kerja nya dengan gerakan tergesa-gesa, terlihat panik dan langsung mendekati Arsen dengan sejuta rasa bersalah, dia buru-buru mengeluarkan obat-obatan yang ada di kotak P3K, berusaha untuk membantu laki-laki tersebut menempelkan salam yang bisa meredakan lepuhan memerah yang terjadi di perut Arsen.
"Aku akan melakukan nya"
"Biar aku saja"
Flow bicara cepat, buru-buru dengan tangan gemetaran menyentuh permukaan perut Arsen dan mulai mengolesi salap pada permukaan kulit perut laki-laki tersebut.
"Maaf kan aku"
"Itu bukan kesalahan mu"
Jawab Arsen.
"Aku terlalu fokus, hingga lupa pada Orang-orang disekitar ku"
Laki-laki tersebut bicara sembari membiarkan tangan Flow bergerak di permukaan perutnya, satu sensasi perih, dingin dan lainnya bercampur aduk menjadi satu Menghantam dirinya.
Perih dan dingin dari efek siraman air panas dan rasa obat yang mulai memenuhi permukaan kulitnya.
"Tidak seharusnya aku yang bicara pada kakak dan berkata aku meletakkan minuman nya di atas meja"
Ucap Flow pelan.
"Itu artinya kita memiliki kesalahan yang sama, kita akan memperbaiki nya untuk ke depannya"
Laki-laki tersebut bicara dengan cepat sembari mengulum senyumannya, binatang ekspresi flow yang penuh dengan rasa bersalah.
Arsen menikmati wajah cantik gadis yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, bisa dilihat ekspresi wajah penuh rasa bersalah tergampang jelas di balik wajah cantik Flow.
"Ya?"
Mendengar ucapan arsen jelas membuat lo sedikit terkejut, kata memperbaiki semuanya ke depan seketika membuat wajahnya memerah seolah-olah laki-laki tersebut benar-benar sedang berencana untuk menata masa depan bersama dirinya.
Seakan-akan apa yang diucapkan oleh Arsen memberikan pernyataan jika pernikahan mereka tidak sedang dijalankan dengan cara main-main.
"Dua orang dalam satu rumah tidak akan memiliki kesamaan antara satu dengan yang lain tanpa mengikat komunikasi yang intens, hari ini salah satu kesalahan di mana kita tidak mengandalkan komunikasi yang baik hingga menyebabkan sedikit kecelakaan kecil yang terjadi, mungkin jika aku laki-laki yang kurang sabaran kita akan berakhir pada pertengkaran dan adegan saling pukul memukul atau bahkan saling bisa bersatu dengan yang lainnya, aku tidak suka hal seperti itu"
Tiba-tiba saja laki-laki itu mulai bicara mengeluarkan isi hatinya pada flow.
"Anggaplah hari ini pembelajaran agar lain kali kita berdua lebih berhati-hati dan sering melakukan komunikasi intern saat melakukan sesuatu hingga tidak menyebabkan hal yang sama terjadi lagi untuk berikutnya"
Lanjut laki-laki tersebut sembari menatap tenang bola mata gadis yang ada di hadapannya itu.
Mendengar ucapan arsen sejenak membuat Flow sedikit bingung, apa yang dikatakan laki-laki itu seolah-olah mereka memang benar-benar sedang menjalin ikatan untuk menata masa depan bersama.
"Terkadang membuatku"
Pada akhirnya gadis tersebut mencoba mengeluarkan suaranya.
"Sebenarnya apa yang kakak pikirkan soal pernikahan kita nanti?"
Dia bertanya dengan nada sedikit bergetar, cukup takut jika pertanyaan yang dilontarkannya salah, bola mata gadis itu mencoba menelisik dan menelusuri wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
Seolah-olah gadis itu ingin tahu apa yang sebenarnya di inginkan Arsen di dalam pernikahan mereka.
Mendengar pertanyaan flow sejenak membuat arsen diam, dia mencoba menikmati menatap wajah gadis di hadapannya untuk beberapa waktu, menyusun kata paling terbaik yang dia rasakan saat ini.
"Aku tidak pernah berpikir sebuah pernikahan seperti sebuah perjanjian main-main, tidak peduli apa yang ibu ku janjikan padamu tapi menurutku ini seperti pernikahan sesungguhnya dan aku tidak pernah berpikir untuk berhenti di tengah jalan setelah memilih maju melangkah ke depan"
Laki-laki tersebut bicara dengan mantan menatap lawan bicaranya dengan tulus dan sungguh-sungguh, hal tersebut jelas saja membuat terkejut dan cukup kehilangan kata-katanya.
"Aku tidak pernah tahu pandangan dari sudut pikiranmu, kita bisa membicarakan yang sekarang secara terus terang dan terbuka, aku menikahimu tidak dalam keadaan main-main, Flow"
Lanjut Arsen lagi kemudian.