Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
RAMIRA DIQRAH adil dan bijaksana



Malam tragedi kecelakaan


Daddy dan Mommy Ramira


Brakkkk


Sebuah Hantaman keras menerjang salah satu laki-laki yang ada dihadapan nya.


Alestor menatap tajam ke arah 2 anak buah nya tersebut, bola mata nya seolah-olah ingin keluar saat dia tahu pasangan suami istri itu dibawah oleh orang-orang menuju ke rumah sakit xxxxxxxx.


Satu anak buah yang dia hantam dengan tendangan nya berusaha untuk berdiri tegak dihadapan nya, menundukkan kepalanya secara perlahan.


"Cari, temukan, bawa dan tenggelamkan mereka dari muka bumi ini"


Ucap Alestor sambil mengeratkan rahangnya.


Dia Fikir jika polisi menggali lebih dalam lagi soal kecelakaan maut putra Ghanem Hurairah company, maka identitas nya selama ini akan terbongkar sudah.


Dia telah berjalan sejauh ini, siapa pun yang jadi menghalang harus segera disingkirkan sekarang juga.


"Kau yakin dia hanya memiliki seorang anak, Evan?"


Alestor kembali bertanya pada laki-laki yang dia berikan terjangan tadi.


"Iya tuan"


Ucap laki-laki yang dipanggil Evan itu cepat.


"Musnahkan mereka hingga tak bersisa"


"Ya, tuan"


*******


Rumah sakit xxxxxxxx


Jakarta


Dini hari.


Evan berjalan menyelinap ke arah belakang rumah sakit xxxxxxxx Jakarta tersebut, menunggu 3 orang yang tengah mengangkut 2 orang lainnya di atas Kursi Roda menuju ke arah diri nya.


Seorang laki-laki muda dan seorang perempuan muda tampak memasukkan sepasang manusia kedalam mobil itu dengan gerakan terburu-buru.


Tanpa sedikitpun ada percakapan, mereka tampak bergerak dengan begitu cekatan.


Sepersekian detik kemudian Evan langsung melesat membawa mobil tersebut menuju ke arah pinggiran kota Jakarta.


1 teman nya tampak begitu panik, duduk disamping Evan dengan perasaan kacau.


"Kau mengkhianati Alestor?"


Ucap nya sambil mencoba meraih rokok didalam kantong jaketnya, Mencari pamatik dan mulai menyulut api ke rokok nya.


Kemudian laki-laki itu menghisap rokok tersebut beberapa kali.


Laki-laki itu sama sekali tidak menjawab, hanya diam sambil terus fokus membawa mobilnya.


"Mereka sudah mengkremasi mayat nya?"


Tanya Evan tiba-tiba pada perempuan yang ada dibelakang nya.


Perempuan itu mengangguk cepat.


"Bagus"


Ucao Evan pelan.


"Evan, aku fikir kami akan pergi menggunakan jalur laut"


Perempuan didepan nya bicara cepat, dia masih sibuk mengatur jarum infus di tubuh pasangan laki-laki dan perempuan yang terbaring lemah tak berdaya itu.


"Burja apa kamu yakin kapal nya akan berlayar di jam segini?"


"Ada, kapal nya terus menyeberang ke Lampung dalam beberapa jam sekali, kita bisa melesat melewati Lampung, memutar menuju jalanan Sumatera, lalu kita bisa berhenti di Batam"


Burja mulai membicarakan rute yang harus mereka lalui saat ini.


"Saat di Batam aku akan kembali ke Jakarta, kalian larilah menyeberang pulau menuju ke Singapura, setelah itu kalian akan melakukan perjalanan menuju ke negara yang kalian inginkan"


"Kenapa kamu ingin membantu kami?"


Perempuan itu bertanya sambil menatap dalam wajah laki-laki dihadapan nya itu.


"Karena keluarga mereka begitu baik pada kami, ada hutang budi yang mungkin tidak akan bisa kami bayar hingga akhir"


Ucap laki-laki itu sambil mengembangkan senyuman nya.


Perempuan itu tampak diam, mencoba melihat 2 orang yang tergeletak tidak berdaya itu.


"Kau paling tahu bagaimana kebaikan mereka bukan?"


Tanya burja pada perempuan itu kemudian.


"Jika tidak kamu dan evan tidak mungkin keluar jalur hanya demi ingin menyelamatkan mereka berdua bukan?"


Mendengar ucapan burja semua orang tampak terdiam.


*********


Masa Lalu


sebelum Ramira dilahirkan.


"Asna?"


Seorang perempuan muda tampak menyembul mengintip kedalam rumah sederhana dipinggiran kota Jakarta.


"Ya? Kak Luna?"


Perempuan itu buru-buru berdiri dengan bersusah payah, dengan perut besarnya di kehamilan yang sudah memasuki usia 9 bulan, dia berjalan kedepan lantas langsung menghampiri perempuan muda itu dengan wajah penuh kebahagiaan.


"Aihhh dimana Kevin?"


Dia bertanya sambil menoleh kekiri dan ke kanan, cukup merindukan bocah riang itu yang acapkali hilir mudik ke rumah mereka.


"Membantu burja menuju ke gedung konstruksi pusat kota"


Mendengar ucapan Luna dia hanya menghela pelan nafasnya.


"Seharusnya Kevin tidak usah sering-sering ikut ke pusat konstruksi bangunan, itu cukup berbahaya"


Ucap nya sambil berjalan perlahan menuju ke arah kursi sofa.


"Sebenarnya tadi tidak mau pergi, dia bilang akan kemari untuk melihat calon istri nya"


Luna bicara sambil terkekeh, menyentuh lembut perut Asna untuk beberapa waktu.


Seketika Asna ikut terkekeh mendengar ucapan Luna, dia mencoba menyandarkan punggungnya di kursi sofa.


"Kevin benar-benar jatuh cinta pada calon bayi kami yang bahkan wajah nya belum dia ketahui"


"Ahhhh anak-anak selalu seperti itu, mereka fikir jodoh itu begitu mudah di atur di tangan mereka sendiri"


Luna mendesah pelan lalu tertawa renyah.


"Aliyah mana?"


"Baru saja terlelap dalam tidurnya"


Mereka diam sejenak.


"Ngomong-ngomong yakin kelahiran nya akhir bulan ini?"


"He em"


"Sudah punya nama?"


"Hmmm Kak Imran bilang nama nya RAMIRA DIQRAH dalam bahasa Spanyol artinya anak perempuan yang penuh kebijakan dan bertidak sesuai aturan yang berlaku, adil dan bijaksana."


Ucap perempuan itu sambil mengembangkan senyuman nya.


Luna ikut tersenyum kembali mengelus lembut perut perempuan itu, kemudian dia berkata.


"Kevin pasti menyukainya"