Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Perasaan yang tidak dia pahami



Ramira secara perlahan memasuki ruangan rumah sakit, menenteng Kantong kresek berwarna hitam yang ada di tangan nya.


Setelah semalam Eden berkata tidak apa-apa meninggalkan dia dan meminta Ramira membàwa Belle Istirahat di apartemen nya, Ramira memutuskan untuk pulang ke apartemen nya meskipun hanya untuk 3 jam saja, terlelap sejenak dan membersihkan dirinya.


Bukan karena apa, rasa lelah bergerak kesana-kemari seharian mengurusi urusan Edo cukup membuat dia kewalahan, belum lagi Ramira harus nyaris begadang karena menemani Eden yang lagi-lagi terpuruk karena kondisi mama nya yang terus naik dan turun.


Dia meninggal kan Belle sendirian di apartemen nya, membiarkan gadis kecil itu untuk menghabiskan waktu istirahat nya dan mau tidak mau Ramira meminta izin pagi-pagi kesekolah Belle.


Perempuan itu tampak melangkah menuju ke ruangan mama eden, membuka perlahan pintu kamar VVIP elite room rawat inap itu.


Sejenak Ramira mundur beberapa langkah saat dia menyadari ada sosok seorang gadis cantik tampak tertidur pulas di samping kasur dimana mama eden berbaring, Eden terlihat berdiri di belakang gadis itu beberapa waktu lantas mencoba untuk berbalik.


Seketika bola mata mereka bertemu untuk beberapa waktu.


Dengan langkah cepat Eden keluar dari ruangan itu, menutup pintu nya Secara perlahan lantas mendekati Ramira, berniat untuk bicara dengan perempuan itu tapi Ramira langsung menyerahkan bungkusan hitam ke arah Eden.


"Sarapan"


Ucap Ramira sambil mengembangkan senyuman nya.


Alih-alih menjawab Eden dengan cepat berkata.


"Aku tidak punya hubungan khusus dengan Asha"


Eden berusaha untuk menetralisir perasaan nya, tidak ingin Ramira berfikir yang tidak-tidak pada gadis yang terlelap di kamar rawat inap mama nya.


Gadis itu selama bertahun-tahun ini sudah cukup setia membantu Eden merawat mama nya, meskipun tidak dipungkiri Eden tahu gadis itu menyukainya tapi Eden tidak pernah berfikir hingga sejauh itu soal Asha.


Baginya gadis itu hanya gadis muda yang dengan Setia membantu dirinya, karena memang tugas Asha sebagai seorang dokter jadi sudah merupakan kewajiban nya juga untuk terus mengawasi kondisi Pasien, meskipun tidak dipungkiri beberapa kali Eden meminta pertolongan gadis itu untuk menjaga mama nya dikala dia berada di luar kota atau luar negeri ketika bersama Ramira, bahkan beberapa kali juga Eden minta pada gadis itu untuk membantu mengajari Belle bagaimana cara untuk mengobati orang yang terluka.


Eden tahu Asha, gadis itu memendam perasaan suka padanya untuk waktu yang sangat lama, tapi Eden berusaha untuk menjaga jarak dari gadis itu agar tidak terlalu jauh melangkah, sebab sejauh ini bagi Eden Ramira lah satu-satunya orang yang pantas masuk kedalam relung hati nya.


Tapi justru Ramira yang mencoba tidak menggunakan hati selama bersama dirinya. Kadang Eden bingung mengartikan sifat perempuan itu, Ramira selalu ada untuk nya, seolah-olah dia adalah pengganti valentine didalam hidup nya sejak perempuan itu meninggal 15 tahun yang lalu, bahkan bisa dibilang hubungan mereka sudah mengalir begitu dalam tapi Ramira acapkali menjaga jarak agar Eden tidak membicarakan lebih dalam hubungan mereka.


Alasan nya cukup simple.


"Tapi kita ..."


"itu karena kita saling membutuhkan, tidak lebih"


"Asha akan menikah, jadi jangan berfikiran yang tidak-tidak"


Lanjut Eden lagi.


Ramira tampak terkekeh.


"Kamu seolah-olah sedang berusaha menjelaskan pada seorang kekasih ketika kepergok kencan dengan gadis lain"


"Ramira"


Eden berusaha menelan Saliva nya.


"Kita kan tidak punya hubungan apapun kak, jangan khawatir soal itu"


Ucap Ramira lagi.


Perempuan itu melirik cepat ke arah jam tangan nya.


"Aku cukup telat kekantor"


Ucap Ramira kemudian mencoba berbalik, tapi secepat kilat Eden meraih tubuh Ramira dan memeluk nya dengan erat


"Kita menikah saja hmm"


Ucap laki-laki itu sambil memejamkan bola matanya, menggesek-gesekkan pelan dagunya ke puncak kepala Ramira.


Sejenak Ramira mematung, membiarkan Eden memeluk dirinya, perempuan itu sama sekali tidak membalas pelukan Eden, dia membiarkan kedua belah tangan nya terus terjuntai ke bawah sambil membawa fikiran nya entah terbang kemana.