
Bola mata Lea berapa kali celingak-celinguk mencari seseorang di antara kerumunan para mahasiswa, cukup lama bola matanya mengitari sekitaran hingga tiba-tiba dia melambaikan tangan nya pada seorang laki-laki yang berpenampilan kalem dengan wajah teduh se indah pohon sakura.
Laki-laki itu bergerak cepat mendekati Lea, sambil tersenyum menyerahkan tumpukan buku kearah gadis itu.
"Aku dengar uncle mu menjemput mu kemarin?"
Laki-laki itu bertanya sambil mensejajarkan langkah nya pada Lea.
"Ah iya"
Lea menjawab cepat sambil berjalan menuju ke gedung utama kampus nya.
"Merasa nyaman dengan nya?"
Laki-laki itu terus bertanya.
Selim sahabat baik nya di masa SMA di Jakarta, adik kandung untie Ramira, Mereka acapkali kemana-mana berdua, dulu orang-orang sering berkata jika mereka pasangan kekasih, bahkan beberapa anak-anak di sekolah mereka pernah menyebar gosip dan rumor luar biasa.
Lea dan selim pernah tidur bersama.
Alasannya Karena mereka sering keluar masuk k diskotik bersama, selim juga satu-satunya laki-laki yang selalu melindungi dirinya, tidak heran gosip tidak baik itu terus merebak.
Padahal realita nya mereka keluar masuk ke diskotik karena ada alasan khusus, meskipun tidak dipungkiri Lea sering duduk manis di sana tapi dia dan selim jelas tahu batasan, bahkan berciuman pun mereka belum pernah, bagaimana mungkin bisa tidur bersama, lucu bukan?.
Selim selalu tahu batasan nya, selalu menghargai Lea dalam keadaan apapun, dia paling paham apa yang Lea inginkan.
Dimana ada selim, disana ada Lea. Hingga akhirnya saat puncak keluarga Al Jaber memanas,uncle bahrat dan kak murat nya memindah kan sekolah nya ke Prancis, selim masih di Indonesia. Lalu Lea melanjutkan sejenak kuliah nya di Prancis dan selim di Manhattan.
Hingga saat seluruh berita soal Daddy Karl nya pecah, laki-laki itu dengan cepat menghubungi dirinya.
"Kembali ke Manhattan bersama ku, kak Ramira dan kak farhan akan pulang ke Manhattan juga"
Hingga akhirnya Lea memutuskan untuk pindah ke Manhattan dengan jutaan pertimbangan.
Tapi pagi kemarin untie Ramira nya minta bertemu dan bicara 4 mata secara tiba-tiba saat Lea berkata dia butuh uang dan menerima syarat yang di ajukan perempuan itu.
"Untie hanya ingin membersihkan nama baik kalian, bukan untuk Daddy mu atau aries, tapi untuk Mommy mu dan kamu"
Ucap Ramira sambil menggenggam erat tangan Lea.
"Ini adalah satu-satunya cara untuk kamu bisa menarik nafas dengan lega saat bertemu dengan banyak orang, saat ini orang-orang berfikir kesalahan terbesar itu dari keluarga kalian, realita nya ada pengaruh lain yang membuat keluarga kalian hancur berkeping-keping, membuat Mommy mu menderita bertahun-tahun di dalam rumah sakit jiwa dan membuat kamu kehilangan banyak kasih sayang"
Mendengar ucapan Ramira seketika bola mata Lea berkaca-kaca.
"Tapi kami baik-baik saja, Mommy sudah cukup bahagia dengan hidup nya yang baru,dan aku sudah cukup bahagia dengan keadaan saat ini"
Ucap Lea sambim berusaha menahan tangisannya.
"Kau bisa membohongi semua orang, tapi tidak di mata untie, Lea"
Ucap Ramira sambil menyentuh lembut wajah Lea.
Lea tampak diam, menatap dalam bola mata perempuan yang ada di hadapannya itu untuk beberapa waktu.
Sejenak dia menganggukkan kepalanya.
"Itu bagus"
Ucap Ramira sambil mengembangkan senyuman nya.
"Apa yang harus aku lakukan? syarat apa yang harus aku jalankan?"
"Saat Luck meminta mu menikah dengan nya, terima dan ajukan syarat yang sepadan untuk masa depan mu"
Ucap Ramira tiba-tiba.
"Ya?"
"Laki-laki itu bisa membawa mu menghancurkan keluarga Kahranan secara perlahan"
Lanjut Ramira lagu sambil menatap dalam bola mata Lea.
Mendengar ucapan untie Ramira nya, sejenak Bola mata Lea jelas membulat dengan sempurna.
"Tinggalkan selim, jangan terima dia saat dia menyatakan perasaannya pada mu"
Sejenak Lea menelan Saliva nya.
"Untie?"
"Kak Ramira pulang beberapa waktu ini, sudah bertemu dengan mu?"
Suara Laki-laki itu seketika memecah pemikiran Lea, secepat kilat Lea menoleh, laki-laki itu terlihat mengulas senyumannya.
Lea mengangguk cepat.
"Sudah kemarin pagi"
Jawab Lea pelan.
Sejenak bola mata Selim menelusuri Jemari Lea yang tampak menggenggam erat buku-buku yang dia berikan tadi, sebuah cincin tampak melingkar indah di balik Jemari gadis itu.
"Kamu menggunakan cincin sekarang, Lea?"
Tanya Selim sambil mengerutkan keningnya.
Dia fikir sejak kapan gadis itu suka menggunakan cincin di jari manisnya.
Lea secepat kilat menghentikan langkahnya, sejenak dia menoleh ke arah Selim.
"Ini...aku..."