Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Tersenyum lah selalu meskipun sulit



Ditengah keheningan malam Dua sosok manusia itu tampak duduk menatap rembulan malam dan jutaan bintang dari atas atap gedung rumah sakit, mereka duduk di atas kursi panjang yang di siapkan untuk orang-orang yang memang menghabiskan waktu.


sejenak Ramira mencoba membuka kaleng minuman Coca cola yang ada di tangan nya, lalu dia memberikan nya pada Eden sambil mengembangkan senyuman nya.


"Tersenyum lah untuk ku"


Ucap Ramira sambil memiringkan kepalanya, perempuan itu tertawa kecil sambil menggoyang-goyangkan kaki nya yang menjuntai ke bawah.


Seketika Eden tampak mengulum senyuman nya, menyentuh lembut kepala Ramira sambil mengacak-acak pelan rambut nya.


"Kamu tahu kak?"


Ucap Ramira sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


"Aku lebih suka melihat kamu tersenyum ketimbang bersedih, itu terlihat begitu jelek"


Ucap perempuan itu sambil menyesap Coca cola nya secara perlahan.


"Tetaplah Tersenyum, Walaupun Dirimu Sedang Tidak Baik-Baik Saja"


Ucap Ramira pelan, dia kembali menoleh ke arah Eden, mencoba mengembangkan senyuman nya selebar mungkin.


"Terkadang sebuah senyuman adalah sebuah kunci dalam sebuah permasalahan yang ada. Ketika dirimu sedang merasa tidak baik cobalah untuk mengeluarkan senyuman kecil, terkadang pula senyuman itu membuat keadaan hatimu membaik dari hati yang penuh dengan kelabu bisa digantikan dengan hati yang penuh dengan rasa bersyukur"


Ramira mencoba mengalihkan pendangannya, bola matanya menatap jutaan lampu kota yang menyinari gelapnya malam.


"Terkadang semesta memiliki kode yang harus kita pahami, ketika dirimu sedang kelabu dan tidak tahu harus berbuat apa dan kamu ingin mengubah kegelisahan yang tersirat di hati kecilmu, cobalah dengan mulai tersenyum dengan tersenyum maka akan mengobati luka yang pernah tergoreskan"


"Luka yang tersisa memanglah sangat menyakitkan, namun tidaklah bijak jika kita selalu di dalam kondisi tidak baik-baik saja, jika kamu ingin menangis maka menangislah tidak apa-apa, keluarkan semua emosi yang tersimpan dan jika kamu berhasil melakukannya maka dirimu hebat!"


Ramira menggenggam erat telapak tangan kanan nya, mengangkat nya ke depan dadanya.


"Kakak orang yang hebat"


Eden tampak menatap bola mata Ramira untuk waktu yang cukup lama.


"Ketika kamu sudah merasa lebih baik, maka hapuskanlah air matamu, semesta akan ikut bersedih jika kamu masih mengeluarkan air matamu itu. Sekarang hapuskan semua kesedihanmu, gantikan dengan senyuman terbaikmu, Kevin Burja"


Ramira masih terus berusaha mengembangkan senyuman nya, berusaha untuk tidak menangis saat melihat kondisi Eden yang acapkali terpuruk.


"Bukan kah hidup begitu tidak adil Hmmm?"


Eden bertanya sambil mulai merebahkan diri nya, kepalanya berada tepat di atas paha Ramira, laki-laki itu memejamkan bola matanya.


"Tuhan mungkin lupa dimana tempat ku berada"


Ucap Eden begitu lirih.


Sejenak air mata perempuan itu tumpah, dengan gerakan cepat Ramira menghapus air matanya.


"Tuhan tidak lupa, hanya saja Tuhan mungkin sedang membuat sebuah rencana lain yang tidak pernah kita duga"


Ucap Ramira pelan sambil mengelus wajah Eden secara perlahan.


"Tuhan sedang membuat skenario indah untuk kehidupan pelik yang kamu jalani selama ini, yakinlah Tuhan sedang mempersiapkan sebuah bonus Indah untuk kakak"


Masih dengan bola mata yang terpejam, Secara perlahan eden meraih telapak tangan Ramira, membuat gerakan agar tangan ini terus mengelus wajah nya.


"Ada aku yang akan selalu berada di samping kamu, tidak perlu mengingat ku di kala bahagia, kamu cukup mengingat ku dikala bersedih"


Ucap Ramira pelan sambil menundukkan kepalanya, perempuan itu mencium lembut kening Eden lantas melepaskan nya dan membiarkan laki-laki itu larut dalam tidur nya.


"Tidurlah, aku akan membangunkan mu setelah nya nanti.