Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Terasa familiar



Mansion utama Bern.


"apa kalian sudah mendengarnya?"


Tiba-tiba seseorang masuk dari arah luar, Farhan bertanya pada semua orang.


di sana saat semua orang terlalu sibuk dengan diskusi mereka soal Arsen seketika semua orang langsung menoleh sembari mengerutkan keningnya menatap ke arah Farhan.


"soal?"


seketika luck Stephard bertanya sembari mengerutkan keningnya.


Farhan belum menjawab dia langsung duduk di salah satu kursi sofa di mana semua orang kini tengah duduk sembari beberapa orang tampak menikmati rokok mereka atau bahkan ada yang menyesap minuman yang ada di hadapan mereka.


"Ramira bergerak masuk ke dalam keluarga Patlers Peterson dan malam ini dia ada di kamar rawat inap Arsen"


Saat laki-laki tersebut berkata seperti itu seketika semua orang membulatkan bola matanya dan terkejut setengah mati mendengarkan apa yang diucapkan oleh Farhan.


"Apa?"


"What?"


"Kau bilang apa?"


pertanyaan demi pertanyaan saling sahut menyahut di dalam ruangan tersebut, mereka langsung menoleh ke arah Farhan dengan fokus, dan ekspresi wajah mereka menampilkan keterkejutan yang luar biasa.


"Ramira sudah berinteraksi dengan Arsen, kabar baik nya laki-laki tersebut cukup baik-baik saja tapi belum bisa banyak bergerak atau mengamini orang-orang, Ramira tengah berbincang dengan Vivian dan mommy Arsen"


Lanjut Farhan lagi.


dan semua orang jelas saja terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Farhan dan seketika semua orang membeku.


mereka yang mati-matian memikirkan cara untuk bisa bicara dengan Vivian mencari celah bagaimana caranya menekan perempuan tersebut untuk mendesak nya mengaku siapa Arsen realitanya ramira bergerak lebih dulu dengan sangat hati-hati dan dengan perlahan masuk ke dalam keluarga tersebut.


Tetap dengan gaya seperti biasanya, begitu santain dan tidak tergesa-gesa, dimana seperti dulu perempuan itu mencoba membaca misteri dalam kehidupan semua orang Antara keluarga Al Jaber, Faith yildis dan burja, menyambung benang kusut di antara semua peristiwa hingga terkuat identitas demi identitas dan juga hal-hal yang terjadi di masa lalu secara tidak terduga.


"Siapa yang memberikan kabar jika orang Mira telah masuk ke dalam keluarga Patlers Paterson?"


Murat jelas bertanya dengan nada penasaran menatap ke arah Farhan untuk berapa waktu.


"Eden mengirimkanku beberapa gambar dan juga video melalui email, itu cukup membuatku terkejut kawan."


ucap Farhan kemudian sembari menaikkan kedua alisnya di mengeluarkan laptop nya yang ada didalam tas kerjanya.


"dia selalu bergerak di luar ekspektasiku"


Abigail bicara dengan cepat sembari mereka tidak percaya ke arah Farhan.


"Yeah, perempuan itu selalu seperti itu karena itu dulu aku jatuh cinta padanya"


Farhan bicara sembari mengulum senyumannya, dia menampilkan beberapa pesan di email nya.


yah dia pernah jatuh cinta pada perempuan itu pada masanya karena dia begitu memuji cara kerja perempuan tersebut sangat hati-hati dan pelan dan juga tidak menampilkan tentang ekspresi perasaannya sama sekali, membuat orang-orang di sekitarnya bisa salah paham atas kebaikan Ramira.


Orang-orang akan berpikir jika perempuan itu mencintai mereka padahal nyatanya perempuan itu sangat jarang sekali menggunakan perasaannya dalam hal cinta, melainkan menggunakan perasaan yang lemah lembut dan sisi yang lainnya untuk mengungkapkan berbagai macam tabir rahasia.


Farhan kemudian bicara mencoba untuk memperingati semua orang agar jangan bergerak dulu saat ini karena takut rencana yang dibuat oleh Ramira akan berakhir berantakan mengingat perempuan itu mampu masuk ke dalam keluarga Patlers Paterson, kepercayaan keluarga tersebut akan hilang jika semua orang bergerak terlalu tergesa-gesa.


Mendengar ucapan Farhan semua orang terlihat diam, seolah-olah mereka paham apa yang dimaksud oleh laki-laki itu saat ini.


******


masih kembali ke rumah sakit Patlers Paterson.


Kamar rawat inap Arsen.


Eden terlihat menatap Arsen yang terbaring di atas kasur mendominasi berwarna putih di mana laki-laki tersebut masih berusaha untuk menahan nyeri yang ada di dadanya.


satu tembakan melesat tepat mengenai bagian dada laki-laki tersebut oleh Jackson Ville, Untung nya bukan di bagian sisi berbahaya yang mengancam nyawa.


Mommy Arsen terlihat membenahi selang infus di tangan putranya tersenyum sembari dia bicara kepada Ramira.


"Apa mommy kamu sudah pulang dari Indonesia sayang?"


Wanita tersebut bertanya pada Ramira, dia tengah setelah membenahi selang infus yang menancap di lengan putranya.


"Mereka akan pulang dalam beberapa hari lagi karena ada pekerjaan yang harus mereka lakukan di Indonesia, untie"


Ramira menjawab cepat pertanyaan dari nyonya Peterson.


"Mommy bilang dia akan datang kemari untuk melihat keadaan Arsen saat kembali ke Swiss"


dikala istrinya mengobrol dengan nyonya Peterson, bola mata Eden menatap kearah Arsen untuk beberapa waktu, dia menelisik bola mata laki-laki tersebut di mana Arsen secara perlahan membuka bola matanya, saat ini laki-laki itu telah melewati masa kritis.


Dia sengaja memperhatikan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, Eden sengaja melakukannya karena dia tahu betul bagaimana Aries di masa lalu karena dia cukup lama berada di dalam keluarga Al Jaber saat dia menjadi Bern.


Dia tahu betul bagaimana karakter Arsen pada awalnya sebelum laki-laki tersebut berubah menjadi begitu mengerikan, seakan-akan di masa lalu Arsen memiliki kepribadian ganda di mana laki-laki tersebut yang awalnya sangat baik dan juga sangat hangat tiba-tiba berubah menjadi begitu mengerikan dan sangat menyukai perempuan


Di antara mereka terdapat seorang gadis muda yang usianya mungkin di atas usia keponakannya Belle, di bawah usia adik Alan Aishe, gadis cantik yang berpenampilan sederhana di mana gadis tersebut tampak sibuk mengupas buah-buahan.


tidak lama bisa dia lihat gadis itu mendekati Arsen yang mulai sadar dari tidurnya di mana dengan cara yang begitu hangat dan lembut gadis tersebut membenahi posisi Arsen kemudian mengajak laki-laki tersebut bicara dan melakukan tanya jawab, sepertinya gadis itu bertanya apa yang arsen inginkan dan apa yang Arsen rasakan saat ini.


dan percayalah cara Arsen bicara dan menatap garis tersebut pun terlihat sangat begitu hangat dan juga penuh dengan tatapan cinta layaknya seperti dia menatap Ramira seolah-olah laki-laki itu menyiratkan sebuah nada cinta dibalik bola matanya.


Eden menyakini diri jika Arsen mencintai gadis yang kini bicara pada laki-laki tersebut.


"Lalu bagaimana dengan laki-laki yang mencoba menculik calon istri Arsen dan mencoba untuk mencelakai Arsen?"


Terdengar suara istrinya bertanya pada nyonya Peterson, Bern seketika menoleh kearah istrinya.


"Vivian yang mengurus semuanya, laki-laki tersebut sangat mengerikan, membuat untie berpikir sebaiknya pergi untuk melenyapkan laki-laki itu secepat nya agar tidak mengacaukan hubungan Arsen dan Flow"


Ucap wanita tersebut cepat.


Ditengah percakapan mereka, tiba-tiba suara Arsen mengejutkan mereka.


"Wajah suami mu terasa familiar dan tidak asing"


Ucap laki-laki itu pada Ramira.