
Kembali kemasa Edo & Vio.
Ramira sejenak memijat-mijat kepalanya, dia fikir semua urusan benar-benar membuat dia mulai kehilangan akal warasnya.
Selain harus mengurusi persoalan Edo yang tiba-tiba datang, dia harus membuat pernikahan dirinya dan Murat dibatalkan dengan cepat, karena realita nya dia tidak pernah mencintai laki-laki itu sama sekali.
Jika pernikahan Terjadi semua akan kacau balau tanpa bisa dihentikan.
Saat perempuan itu baru membuka pintu Apartemen nya tiba-tiba seseorang menyambar tubuh nya dan mendorong nya dengan cepat kedalam.
Brakkkk
Seketika pintu tertutup.
Tubuh perempuan itu secepat kilat didorong hingga Kedaun pintu.
Ramira seketika membulat kan bola matanya saat sadar siapa orang itu.
"Eden?"
"Kita harus bicara"
Laki-laki itu bicara dengan cepat,memepetkan tubuh nya hingga menempel ke tubuh Ramira, seketika Ramira merasa kehilangan nafasnya.
"Aku fikir kita..."
Belum juga Ramira menyelesaikan kata-katanya,Eden secepat kilat menautkan kening mereka, seketika Ramira memejamkan bola matanya, dia salah berfikir jika Eden akan mencium nya seperti kebiasaan laki-laki itu.
Melihat ekspresi Ramira seketika Eden mengulum senyumannya.
"Dia bilang mari menjauh, tapi saat aku mendekat wajahnya terlihat memerah"
Ucap Eden sambil tersenyum menatap tiap lekuk wajah indah perempuan yang ada di hadapannya itu.
Eh?.
Perempuan itu terkejut.
Seketika Ramira membuka bola mata nya, wajah nya kembali memerah, secepat kilat dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi Eden mencoba menahannya.
Dia mengerjai ku.
Rutuk Ramira dalam hati.
"Katakan pada ku sambil menatap dalam-dalam bola mata ku jika kamu tidak mencintai aku"
Eden meraih dagu Ramira, mencoba membuat perempuan itu menatap dalam bola matanya.
Perempuan itu berusaha melepaskan tangan eden agar menjauh dari dagu nya.
"Tidak mau"
Eden bicara dengan gaya manja nya pada Ramira, dia menatap dalam bola mata itu.
"Sebelum kamu mengatakan pada ku kamu tidak mencintai ku, aku tidak akan melepas kan nya"
Seketika Ramira mengedipkan bola matanya, hati nya bergetar.
"Aku ingin dengar dari bibir ini sambil menatap ku dan berkata jika dia tidak menginginkan ku, bukan dari balik pintu atau dari balik Handphone nya"
Eden terus bicara sambil jemari nya menyentuh lembut bibir Asha, menggesek nya beberapa waktu sambil bola mata Eden terus menatap dalam bola mata Ramira.
Seketika Ramira menelan Saliva nya.
"Sekali saja bilang dia tidak mencintai ku, katakan agar aku menghilang dari kehidupan mu, boleh memaki diri ku bahkan mengutuk kematian ku secepat nya hmmm"
Ramira menggeleng kan pelan kepalanya, secepat kilat kedua tangannya menutup mulut Eden.
"Dia ingin melihat aku mati dan menghilang dari muka bumi ini hmm?"
"Aku benar-benar akan menghilang dari dunia ini"
Alih-alih menjawab, seketika bola mata Ramira berkaca-kaca, dia terus menggelengkan kepalanya.
Eden meraih jemari-jemari halus itu.
"Dia tidak bisa hidup tanpa ku bukan? seperti aku yang tidak bisa hidup tanpa nya hmm?"
"Kamu tahu sayang? berhentilah menghindari ku, satu-satunya titik kelemahan ku adalah kamu, satu-satunya orang yang bisa membuat ku tersenyum dan tertawa adalah kamu, katakan pada ku, jika kamu pergi bagaimana caranya aku tertawa seperti kemarin lagi hmm?"
"Aku tidak akan pernah bisa mengatakan seberapa banyak aku menyukaimu dan betapa istimewanya dirimu untukku. Akan tetapi, aku bisa mengatakan bahwa duniaku selalu berwarna saat bersama denganmu, jadi berhenti berkata menjauh, aku bisa mati jika kamu terus berkata mari menjauh"
Eden menggelengkan kepalanya secara perlahan, membiarkan tangan itu mengelus lembut wajah nya yang di penuhi oleh bulu-bulu itu.
"Jangan menghindari aku lagi hmmm"
"Maafkan aku"
Suara Ramira terdengar begitu serak, jutaan perasaan saat ini menghantam dirinya.
Disatu sisi dia tidak bisa melepas kan Eden, disatu sisi lagi dia tidak bisa mengkhianati teman nya dan disisi lain ada banyak orang yang mendesaknya untuk menjauhi laki-laki itu.
Kenapa urusan hati begitu rumit? bahkan untuk bahagia pun begitu mahal sekali harganya?.