
Masih dirumah sakit Patlers Paterson
kamar rawat Arsen.
Di ruang kamar rawat inap Arsen yang mendominasi berwarna putih, bisa dilihat mommy arsen sibuk mengupas buah-buahan untuk putra nya sedangkan Arsen mencoba untuk membenahi posisi tubuhnya agar jauh terasa lebih nyaman.
Setelah selesai mengupas buah-buahan, Wanita itu buru-buru membalikkan tubuhnya, dia duduk di samping Arsen secara perlahan.
"Apa kamu sudah merasa baikan?"
Mommy nya bertanya dengan cepat ke arah Arsen, masih cukup khawatir dengan kondisi putranya tersebut.
"aku pikir ini sedikit lebih baik dari hari kemarin"
Arsen menjawab dengan cepat di mana mommy nya secara perlahan mulai menyuapi dirinya dengan buah-buahan.
"waktu pernikahan sudah sangat dekat, mommy cukup khawatir jika kondisi tubuhmu masih belum baik-baik saja, mommy takut pada hari pernikahan malah akan mengganggu kesehatan kamu"
wanita tua itu terlihat gelisah menatap putranya, dia pikir terlalu banyak tragedi yang terjadi pada Arsen belakangan ini, meskipun tidak dia pungkiri kadang kalanya putranya keranjang karena di masa kemarin putranya pernah bermain mafia-mafian, belum lagi ada bagian keluarga mereka yang cukup iri dengan arsen dan selalu berusaha untuk menyingkirkannya.
"Mami pikir tidakkah sebaiknya kami menambah pengawal?"
wanita tua tersebut kembali bertanya, kembali menyikapi putranya dengan buah apel yang ada di hadapannya.
Arsen belum menjawab membiarkan mulutnya terbuka dan menerima suapan dari mommy nya.
"aku pikir mungkin itu sedikit berlebihan, mungkin ada baiknya aku berlatih kembali menggunakan senjata untuk perlindunganku sendiri"
laki-laki itu bicara sembari memikirkan apa yang seharusnya memang dia lakukan untuk bisa melindungi dirinya sebab beberapa kali nyawanya terancam.
"itu membuat Mommy semakin khawatir"
ucap nyonya Peterson kemudian.
"katakan padaku bagaimana dengan pakaian pengantinnya?"
arsen tiba-tiba ingat dengan pakaian pengantin mereka, terakhir kali pergi ke galeri untuk fitting pakaian pengantin mereka ternyata siapa tahu malah berakhir menjadi seperti itu di mana baku tembak dan hantam-hataman terjadi antara dirinya dan laki-laki yang mengejar-ngejar flow.
"mereka sudah menyelesaikannya, bagian-bagian mana yang kurang juga telah diselesaikan, semuanya tinggal menunggu kondisi kesehatanmu pulih, setelah itu kita sudah bisa pergi untuk merayakan pernikahannya"
Ucap mommy Arsen cepat.
"itu juga bagus, aku pikir aku sudah bisa keluar dari rumah sakit besok, aku dan flow bisa pelan-pelan persiapkan semua kekurangannya"
Arsen berusaha meyakinkan mommy nya jika dia kini telah baik-baik saja dan siap untuk keluar dari rumah sakit.
"Vivian belum mengizinkan mu untuk keluar dari rumah sakit, dia masih terlalu khawatir dengan keadaan sayang"
dia pikir putrinya memang sedikit berlebihan soal Arsen, perempuan itu selalu melindungi adiknya dengan berbagai macam cara, sejak kecil Vivian selalu melindungi Arsen, tidak membiarkan siapapun melukai adiknya bahkan setiap kali ada yang melukainya percayalah Vivian akan maju menjadi garuda paling terdepan untuk menjadi tameng perlindungan untuk arsen dan perempuan itu mampu menghajar siapapun yang berani macam-macam pada adiknya.
mendengar ucapan mommy nya pada akhirnya Arsen terlihat mengulum senyumannya.
"nada bicara Mommy seperti tengah cemburu pada kakak?"
Laki-laki tersebut mencoba menggoda mommy nya.
"Yeah, dia menggantikan peran mommy jadi seorang ibu dan itu terkadang membuat mommy sedikit cemburu"
wanita tua itu terlihat merenggut kemudian dia meraih cangkir air putih yang ada di sisi kirinya lantas secara perlahan memberikannya pada putranya tersebut.
Alih-alih mengambil air putih yang diberikan mommy nya, Arsen lebih memilih untuk memeluk wanita tua itu dengan cepat.
"I love you Mom, so much.."
"bagiku kalian berdua orang yang paling berharga dalam hidupku, jika ada yang bertanya mana yang lebih besar cintaku di antara mommy dan kakak, aku pikir aku tidak mampu menjawabnya, aku mencintai kalian berdua sangat"
Laki-laki tersebut bicara sambil terus memeluk mommy nya.
mereka sejenak Diam tanpa banyak pergerakan, membiarkan rasa di antara ibu dan anak tenggelam bersama dalam kerinduan hingga pada akhirnya tiba-tiba dari arah pintu masuk ruang kamar tersebut.
"He em, he em"
buru-buru mommy Arsen melepaskan pelukannya diikuti oleh Arsen.
"kenapa ibu dan anak selalu saja terlihat cengeng?"
Daddy Arsen bertanya sambil menyeruak masuk kedalam, tangan kanannya memegang sebuah kantong kresek yang tidak tahu isinya apa dia mengangkat kantong tersebut kemudian berkata.
"ini bisa melepaskan kerinduan kita"
ucapnya kemudian meletakkan kantong kresek tersebut ke atas meja.
"Daddy membawakan makanan kesukaanmu, son"
ucap laki-laki tua tersebut cepat kemudian dia menunggu istrinya untuk menyambut makanan tersebut dan membukanya.
"Kamu mampir ke restoran langganan kita?"
Wanita tersebut bertanya cepat.
"aku rela mengantri lama demi putra kita, ah bayangkan bagaimana rasanya aku harus berdiri berjam-jam hanya demi makanan kesukaannya"
laki-laki itu protes sembari melirik ke arah Arsen, Membuat Arsen mengembangkan senyuman nya mendengar ucapan daddy nya.
"aku harus berkata terima kasih dad untuk semua nya"
"Yeah kamu memang seharusnya berterimakasih, meskipun sebenarnya aku masih sedikit keberatan kamu menolak Arsita untuk menjadi istri mu"
laki-laki tersebut masih protes soal perempuan pilihan nya, hal tersebut seketika membuat Arsen mengulum senyuman nya.
"Daddy masih marah?"
Tanya nya cepat.
"Kau bisa melihat nya"
"Sayang itu berlebihan,flow gadis yang baik meskipun dia bukan orang dari kalangan kelas atas, Cuba sesekali ajak dia bicara, yakinlah kamu pasti akan menyukainya"
Nyonya Peterson bicara dengan cepat, suaminya hanya bisa menghela pelan nafasnya.
"Maafkan aku sayang, hanya sedikit melampiaskan kekecewaan, apapun pilihan Arsen aku akan mengikutinya dan menghargainya"
laki-laki tersebut berucap dengan cepat makanan favorit putranya dan dirinya di atas meja yang ada di ruangan rawat inap VVIP rumah sakit tersebut.
Arsen terlihat siap untuk bergerak, daddy nya buru-buru menggeser infus yang ada di tangan kirinya.
"Ini cukup baik, infus nya disebelah kiri, apa mau daddy suap? sepertinya aku sudah lama tidak menyuapi kamu makan"
Dan seketika obrolan demi obrolan ringan terjadi pada ayah, anak dan ibu di ruangan tersebut, terkadang Terdengar tanda tawa di antara mereka bertiga sembari mereka menikmati makanan ya ada di atas meja.
mereka sering melakukan hal tersebut jika mereka mendapatkan waktu luang bersama, terkadang arsinta kau nah seperti ini akan hilang dari kehidupannya, dimana terkadang dia menata secara bergantian wajah kedua orang tuanya.
seakan-akan ini adalah suasana yang paling dia rindukan dan selalu dia rindukan di dalam hidupnya dan dia berharap suasana ini tidak akan pernah hilang hingga kematian memisahkan mereka.