
Beberapa hari kemudian
Setelah kondisi tubuh Arsen mulai membaik
Bola mata laki-laki tersebut menatap sosok gadis muda yang ada dihadapan nya, Arsen menebak usia gadis itu sekitar 21 tahunan mungkin lebih sedikit, masih sangat muda, terlalu jauh dari usia nya, mungkin selisih usia mereka hampir 14-15 tahunan, entahlah Arsen tidak bisa untuk menghitungnya.
Tatapan mata gadis tersebut terlihat sedikit bingung, dia terlihat duduk di atas kursi sofa yang ada di depan Arsen dengan perasaannya sedikit, bisa dilihat gadis tersebut menggambar telapak tangannya seolah-olah berpikir kapan waktunya dia keluar dari sana.
"jadi kau yang menyelamatkan aku kemarin?"
Tanya Arsen pada gadis itu cepat.
Dia sama sekali tidak bisa mengingat peristiwa yang terjadi malam itu, entahlah rasanya aneh seolah-olah seluruh ingatannya selama 3 bulan ini menghilang di bawah angin dan tidak tahu ke mana.
Orang-orang di keluarganya berkata dia telah menghilang hampir 3 bulan tapi Yang dia ingat dia terakhir kali keluar dari perusahaan dan berencana untuk kembali ke apartemennya menggunakan mobil kesayangannya, namun berikutnya dia sama sekali tidak ingat bahkan jika memang ada kejadian selama hampir tiga bulan ini di luar itu sangat aneh sekali karena dia sama sekali tidak bisa untuk mengingat di mana dirinya dan apa yang terjadi selama itu.
Awalnya dia berpikir keluarganya bercanda kepada dirinya tapi saat dia melihat kalender dan menghitung tanggal dia benar-benar telah kehilangan waktu 3 bulannya begitu saja tanpa memiliki sedikitpun ingatan di dalam kepalanya.
Terkadang dia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi selama beberapa bulan ini tapi yang ada satu sakit di kepalanya menghantam tanpa henti, seolah-olah sejak awal ingatannya memang sengaja ditahan di dalam kepalanya.
Sebenarnya dia cukup heran dengan keadaan tapi orang-orang di dalam keluarganya termasuk kakak perempuannya selalu menekankan dirinya agar dirinya tidak usah mengingatnya cerita soal 3 bulan yang menghilang di dalam ingatannya.
"tidak, sebenarnya kita saling menyelamatkan tepat nya, aku dalam keadaan tidak baik-baik saja di mana aku juga berada dalam masa terjepit dan sulit, tiba-tiba kamu datang dan menyelamatkan aku tapi saat itu kamu juga di dalam keadaan yang cukup kritis"
Gadis tersebut mulai membuka suaranya dia bercerita sembari mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin.
"Setelah itu aku berusaha untuk menyeret langkahmu keluar dari tempat yang sangat gelap tersebut, dan tanpa di duga aku bertemu dengan beberapa orang yang sama sekali tidak aku kenal kemudian kita dibawa ke tempat ini"
Lanjut nggak di situ lagi bercerita lantas dia menundukkan kepalanya.
"Aku dalam keadaan cukup kritis?"
Arsen bertanya sambil mengerutkan keningnya, dia menatap gadis itu dengan seksama.
Penampilan gadis di depannya itu begitu terlihat sederhana, tapi bukan berarti kesederhanaannya menampilkan satu sosok yang terlihat begitu tidak bernilai.
Tidak tahu kenapa Arsen pikir jika gadis tersebut dipoles dia berani bertaruh Jika gadis tersebut akan berubah menjadi sosok Cinderella.
Gadis itu memiliki wajah yang cantik dengan hidung mancung dan kecil, rambut bergelombang yang diikat dengan rapi juga kulit yang putih dan bersih, suara gadis itu mencerminkan bagaimana sosoknya, dia yakin gadis itu bukan tipe yang keras kepala juga bukan gadis cengeng yang bisa mewek dan merepotkan banyak orang.
Dia yakin gadis yang ada di hadapannya tersebut merupakan garis Mandiri yang tidak Suka bergantung kepada orang lain, namun dia memiliki kriteria atau karakter yang sedikit pemalu dan juga takut menatap bola mata orang lain, tepatnya mungkin karena dia tidak percaya diri dengan keadaannya sendiri ketika berhadapan dengan orang-orang kaya yang berkuasa.
"Ya, anda tidak dalam keadaan baik-baik saja, ada luka di..."
Gadis itu berusaha untuk mengingat beberapa posisi luka yang terdapat di tubuh Arsen.
"Disisi, disini, hmmm disini dan... beberapa luka memar seperti habis di pukul dan di hajar dan luka tembak di perut juga di..."
Gadis itu menghentikan kalimatnya, dia tidak tega meneruskan ucapannya.
Tangannya sejak tadi mencoba untuk menunjukkan beberapa tempat luka yang terdapat di tubuh Arsen melalui tubuhnya.
Mendengar penjelasan dan juga apa yang diucapkan oleh gadis tersebut beberapa waktu, laki-laki tersebut sama sekali tidak bicara tapi dia berpikir dengan sangat keras soal luka-luka yang dia dapat.
Arsen pikir ini sejauh ini dia sama sekali tidak memiliki musuh bahkan di dalam dunia bisnis pun dia bukan tipe orang yang terlalu kejam dan menekan lawan bisnisnya, dia menggunakan prinsip kesetaraan dan juga keadilan di dalam perusahaannya setiap kali orang-orang merasa jika apa yang seharusnya mereka targetkan tidak sesuai dengan kemauan Arsen atau sebaliknya, dirinya sama sekali tidak tega untuk menyalahkan sebelah pihak dan merasa apa yang mereka kerjakan menjadi tidak berguna dan merugikan perusahaan.
Dia belajar menghargai apa yang dikerjakan oleh orang lain, jika memang terjadi kerugian besar maka dia berusaha untuk mencari solusi dan pemecahan masalahnya ketimbang menyalahkan hingga memecat orang-orang yang ada di perusahaannya.
Bahkan hubungannya dengan para investor atau ketika perusahaan mereka yang menjadi investor pun terjalin dengan sangat baik, meskipun proyek kerjasama mereka telah selesai dan usai Arsen selalu berusaha untuk membuat ikatan dan hubungan baik di antara semua mantan datang bisnis mereka di mana terkadang dia mengundang orang-orang tersebut untuk bermain kartu atau bahkan memberikan hadiah untuk mereka.
Jadi jika ada yang berniat untuk melukai dan membunuh nya, Arsen pikir siapa?. Dia jelas tidak memiliki sama sekali orang-orang yang bisa dia curigai untuk melukai dirinya.
"Apa kamu yakin atas hal tersebut?"
Arsen kembali bertanya sembari mengerutkan keningnya.
Sebenarnya tidak heran dan dia tidak merasa gadis itu berbohong karena dia masih bisa melihat bekas luka-luka di beberapa anggota tubuhnya hingga hari ini.
"Ya tuan"
Jawab gadis itu pelan.