
Masih di masa kemarin
Sebelum Ramira kembali ke Manhattan
Setelah berita Karlos Al Jaber pecah
Penjara xxxxxxx
Jakarta
Gadis itu berjalan perlahan menuju ke ruangan gelap dan pengap didampingi 2 sipir penjara, langkah kakinya begitu pasti melewati tiap-tiap jeruji besi yang berisikan banyak laki-laki, mata orang-orang di sana melirik dan menatap Begitu takjub saat melihat seorang perempuan muda dan cantik melangkah menyusuri lorong penjara yang begitu suram.
Ramira terus melangkah dengan tatapan dingin menuju ke arah depan, bola matanya terus menyusuri ruang penjara itu hingga menuju ke satu titik di ujung sana, dimana seorang laki-laki tua tampak duduk di atas kursi rodanya.
Ramira masuk ke sebuah ruangan khusus untuk pengunjung sembari 2 sipir tadi menyeret langkah membawa Karl menuju ke arah nya.
Perempuan itu menatap Karl dari ruangan yang berbataskan sekat kaca di seluruh sisi mereka, sejenak Karl menaikkan ujung alisnya, dia fikir kenapa Ramira perempuan muda itu bisa datang mengunjungi dirinya?.
"Aku cukup terkejut kamu mau mengunjungi uncle disini"
Ucap Karl masih dengan kebingungan nya.
Ramira tak bergeming, tidak tertawa juga tidak tersenyum saat melihat wajah laki-laki itu.
"Aku hanya berinisiatif, tiba-tiba ingin datang melihat anda, uncle"
Nada bicara Ramira begitu datar, tidak ada Ramira yang biasa nya tersenyum begitu ramah saat berhadapan dengan Karl.
"Apa ada yang harus aku ketahui, nak?"
Karl bertanya masih dengan tatapan bingung sebab Ramira yang dia lihat hari ini jelas bukan Ramira yang di kenal.
"mau mendengarkan 1 cerita, Uncle?"
Tanya Ramira tiba-tiba.
"Ya?"
Alih-alih menunggu Karl menjawab ucapan nya Ramira langsung melanjutkan kata-katanya.
"Awal nya aku cukup senang bisa masuk ke ke keluarga Al Jaber melalui aries, saat uncle sendiri meminta ku pada Daddy ku dan meminta menjodohkan kami, rupanya tuhan berkata adil, sebelum aku hancur di tangan aries tuhan melindungi ku dengan membuat uncle Ali Al Jaber memutar perjodohan ku dengan Murat."
Karl jelas tidak paham dengan kata-kata Ramira, dia ingat harusnya aries yang dijodohkan dengan Ramira, tapi saudara laki-laki nya itu meminta mereka menukar perjodohan nya, sebab Ali Al Jaber berkata gadis seperti Ramira jelas paling pantas menjadi menantu tertua kekuarga Al Jaber, Mereka bisa mengurus pernikahan nya setelah Ramira menyelesaikan kuliahnya.
Karl jelas tidak bisa berkata apa-apa, tapi aries jelas begitu marah, sebab sang putra jelas mencintai Ramira begitu lama, dan di mulai dari sana lah puncak kemarahan sang putranya Aries pecah pada Murat.
Tanpa menyelesaikan kata-kata awalnya, Ramira tiba-tiba mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Beberapa puluh tahun yang lalu, seorang perempuan muda datang ke Al Jaber company untuk mendapatkan pekerjaan, perempuan itu memiliki seorang suami yang begitu tulus dan baik tapi mereka bukan dari kalangan kelas atas, sang suami hanya bekerja serabutan dan mereka memiliki seorang putri yang masih Berada di sekolah dasar nya"
"Harapan besar yang dia miliki untuk mengubah kehidupan keluarga mereka tercetak begitu jelas diwajahnya saat dia diterima menjadi sekretaris CEO Karlos Al Jaber"
Mendengar kalimat Ramira seketika wajah Karl memucat, dia tercekat dan mencoba memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama, tiba-tiba ingatan tentang masa lalu menghantam diri nya.
"Tiba-tiba harapan itu musnah ketika sang CEO mempemerkosa nya, tidak ada bukti, tidak ada saksi, hanya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa untuk menuntut si kaya raya"
Ramira mendongakkan kepalanya.
Karl jelas tercekat, dia fikir bagaimana mungkin Ramira adalah putri perempuan itu.
"Perempuan itu koma, suami nya berjuang mati-matian untuk mencari kebenaran dan putri nya tidak punya daya upaya, adik dari perempuan itu bahkan harus mengabaikan sekolah nya demi untuk berjuang mengurus sang kakak"
"Meskipun kasus itu naik kepermukaan dan laki-laki itu di tuntut dan dinyatakan bersalah, bukan kah uang bisa mengalahkan segala-galanya? dia bebas melanglang buana sedangkan aku kehilangan Mommy dan Daddy ku untuk selama-lamanya"
Seketika bola mata Ramira berkaca-kaca.
"Adik perempuan Mommy ku harus merangkak naik mati-matian agar bisa menikah dengan laki-laki kaya raya, membuat diri ku menjadi putri nya dan mengangkat derajat ku agar sama dengan anak-anak lainnya"
Kata-kata Ramira mulai penuh amarah.
"Aku masuk ke keluarga Karlos Al Jaber untuk membalas sakit hati mommy Ku, hanya berniat untuk menyakiti diri mu, agar kamu tahu bagaimana rasa nya menatap wajah menantu dari perempuan yang telah kamu perkosa dimasa lalu"
"Tapi realita memang tidak seperti apa yang di rancang, aku cukup kecewa saat pertunangan nya di tukar oleh uncle Ali Al Jaber,tapi aku fikir menyakiti diri mu Melalui aries cukup luar biasa"
"Tapi siapa sangka like father like a son, Aries putra mu bahkan tidak kurang bejat nya dari pada kamu, dia memperkosa seorang gadis yang tidak bersalah, Valentine dan kau mati-matian menutupi kelakuan nya"
"Malam itu aku ingin sekali melaporkan semua perbuatan kalian dari masa lalu hingga ke masa saat itu, tapi seseorang mengingat kan ku, aku tidak akan menang melawan mu"
"Kami menyusun strategi matang, dan Aku harus bersabar menunggu waktu begitu lama untuk meruntuhkan semua pertahanan mu, tuan Karlos Al Jaber"
"Kau.."
Seketika jantung Karl berdetak dengan kencang.
Ramira menyeringai lalu terkekeh kecil lantas tiba-tiba ekspresi wajah langsung berubah.
"Kau begitu banyak menyakiti perasaan orang lain, demi memenuhi keinginan istri sirih mu"
Karl benar-benar tidak percaya dengan semua yang Ramira ketahui soal diri nya.
"Bahkan kau menyakiti istri mu sendiri demi istri sirih mu itu dan menyakiti putri mu sendiri demi putri orang lain"
"Ya?"
Karl membulat kan bola matanya.
Ramira seketika tertawa.
"Kau tidak tahu uncle?"
Ramira mendekati wajah nya ke arah kaca pembatas.
"Putri yang kau banggakan itu bukan putri kandung mu sendiri"
Ramira menggeser sebuah map di atas meja pembatas ruangan.
"Aku cukup kasihan kamu tidak tahu jika sudah di manfaatkan oleh wanita itu,bahkan kau tidak pernah sadar dia mencurangi mu sejak kalian remaja"
Setelah berkata begitu Ramira membalikkan perlahan tubuh nya, di mulai melangkah menjauhi laki-laki itu sedikit demi sedikit.
Perempuan itu mencoba menahan air mata nya, dia terus berjalan menuju ke arah depan.
Mom, Dad apa kalian baik-baik saja disana? aku sudah bergerak hingga sejauh ini, bisakah kalian melihat nya dari sana?
Karl jelas meraih amplop coklat itu dengan tangan gemetaran sambil mencoba membuka amplop itu secara perlahan.
Seketika dia kehilangan kata-kata nya, untuk pertama kali nya dia meneteskan air mata, dia benar-benar menui seluruh perbuatan nya di masa lalu satu per satu.