Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Tak paham jalan fikiran nya



Catatan \=


Untuk beberapa episode ini khusus Ramira ya maafkan lah, meluruskan kesalahpahaman soal siapa Ramira di PPMD season 1 dan 2.


Yang kurang suka bagian Ramira bisa d skip dulu hingga edisi vio & Edo juga Lea & luck keluar.


******


Beberapa waktu setelah peristiwa penjebakan


Sebelum sesi berperang dan menegang di Putri perawan milik Daddy.


"Kau sudah gila"


Edo tampak begitu marah menatap Ramira, dia menggenggam bahu perempuan itu dengan jutaan kekesalan.


"Kau benar-benar akan meninggalkan Eden? tidak meluruskan persoalan malam itu? kau di manfaatkan mommy Asha, kau mencintai Eden, Eden mencintai kamu"


Edo jelas begitu marah, tidak habis fikir bagaimana mungkin Ramira masih bersedia untuk mengalah.


Alih-alih menjawab, perempuan itu malah mengembangkan senyuman nya.


"Aku akan menikah dengan Farhan"


Ucap Ramira sambil tangan nya mencoba meraih sesuatu di lemari pakaian nya.


Vio tampak duduk di sudut spring bed untie Ramira nya, membantu perempuan itu mengepak beberapa barang-barang lama Eden.


Edo memijat perlahan kepalanya, seketika rasa pening menghantam dirinya.


Sejak peristiwa malam itu Eden benar-benar telah salah paham pada Ramira nya, laki-laki itu berfikir betapa murahan nya Ramira nya, bahkan menjajah diri tidur dengan sembarang laki-laki.


Eden fikir Ramira benar-benar memperlihatkan jati diri aslinya soal ucapan nya dulu yang awalnya Eden masih ragu soal kata-kata Ramira tentang dia bebas tidur dengan laki-laki manapun yang dia mau.


Eden berusaha tidak mempercayai ucapan Ramira selama ini karena matanya sendiri tidak pernah melihat nya, tapi malam itu Eden akhir nya sadar jika Ramira benar-benar merupakan perempuan yang bisa menjajakkan Dirinya pada laki-laki manapun yang dia mau.


Dan Edo jelas marah karena Ramira tidak mengizinkan mereka untuk mengklarifikasi soal kenyataan yang sebenarnya yang terjadi malam itu, bahkan yang lebih mengerikan adalah Mommy Asha lah yang telah menjebak Ramira dengan jutaan cara.


"Bukankah selama ini aku cukup sulit menghindar? ini satu-satunya kesempatan terbaik yang aku punya untuk menghindar dari nya, Edo"


"Tapi tidak dengan menurunkan harga diri mu, dia menganggap mu persis seperti perempuan yang tidak punya harga diri"


Protes Edo penuh kemarahan.


"Tapi dengan cara Begitu Eden benar-benar akan menjauhi ku"


Ucap Ramira lagi.


"Akhhhhh....Kau benar-benar sudah gila"


Vio tampak diam sambil menggigit bibir bawahnya, dia menghela pelan nafasnya.


"Apa untie yakin akan bahagia menikah dengan uncke Farhan?"


Tanya Vio cepat, mencoba menelusuri bola mata Ramira.


"Selama Farhan bisa membahagiakan untie, itu sudah lebih dari cukup"


"Tapi itu sama saja untie membelenggu hati sendiri"


Protes Vio cepat.


"Anggap lah pernikahan kami adalah sebuah kata kompromi"


Ucap Ramira sambil mulai memisahkan beberapa barang di hadapan nya.


Edo tampak mendengus.


"Kompromi? apa kamu tahu apa itu kompromi?"


Tanya Edo cepat


"Kompromi merupakan upaya untuk memperoleh kesepakatan di antara dua pihak yang saling berbeda pendapat"


"kompromi adalah bagian penting dari pernikahan yang sukses, Agar kedua pihak dapat bekerja bersama sebagai satu tim, dimana setiap orang harus memberi dan menerima sesekali"


"Tapi pernikahan kalian bagaimana bisa dikatakan sebagai kata kompromi?"


"Realita nya hubungan kalian pada akhirnya dapat dengan cepat berubah menjadi perasaan tidak puas dan perselisihan."


"Kamu tidak mencintai Farhan, sedangkan Farhan masih terbelenggu perempuan di masa lalu nya meskipun tidak aku pungkiri dia begitu mencintai kamu saat ini tapi hati seseorang siapa yang tahu?"


"Begitu kalian berkomitmen pada suatu  hubungan pada akhirnya kalian harus mempertimbangkan antara kebutuhan, keinginan, dan kebahagiaan pasangan"


"Hubungan kalian pada akhirnya akan mengalami kegagalan telak, yakin pada ku Ramira, kau memilih jalan yang salah"


Edo terus berusaha menyakini Ramira soal keputusan nya.


"Tapi dibandingkan diri ku, Asha lebih membutuhkan Eden saat ini"


Ucap perempuan itu masih berusaha mengembangkan senyuman nya.


Seketika bola mata Edo membulat, rahang nya langsung mengeras.


"Kau...sudah gila"


Edo berteriak kesal ke arah Ramira.