
Saat Daddy Lea bicara dengan penuh kekesalan, Seketika Daddy Luck menghentikan kegiatan tangannya dalam bermain catur, dia menoleh sejenak ke arah daddy Lea.
"Anak-anak sejak lama sudah di jodohkan oleh Daddy, aku fikir kamu sudah tahu dengan keputusan itu sebelumnya, Hendy?"
Ucap Daddy luck dengan suara yang begitu datar, terdengar tidak marah juga tidak dalam keadaan melempam.
"Aku tahu itu, tapi seharusnya Luck punya etika saat mengambil anak gadis kami"
"Aku fikir Mereka pasti punya alasan kenapa harus melakukan nya, apakah begitu Lea?"
Grandma luck bertanya cepat ke arah Lea.
"Ya?"
Lea Fikir kenapa suasana nya lama-lama jadi semakin tidak mengenakkan?.
"Aku dan Uncle..."
"Berhenti memanggilku uncle sayang"
Luck mulai menggerutu soal nama panggilan nya, dia meraih gelas minuman nya dengan cepat.
"Ah... iya Daddy aku dan suami ku.."
Suami ku??
hahahaha manis Juga.
Batin Lea.
Luck yang baru menikmati minuman nya langsung tersentak.
Ya? suami ku?.
Seketika laki-laki itu menaikkan alisnya.
Suami ku? kata-kata itu bukan kah terdengar terlalu estetik?.
Laki-laki itu ingin tertawa saat ini saat Lea dengan gamblang memanggil nya suami ku.
pada akhirnya luck hanya bisa mengulum senyumannya.
"Maksudku Daddy.. ada sedikit permasalahan kemarin hingga kami belum membicarakan nya, tapi aku dan suami ku sudah sepakat untuk bicara dengan Daddy dan Mommy setelah kami menyelesaikan nya"
"Tapi keburu Mommy dan Daddy datang ke Manhattan"
Ucap Lea pelan sambil meremas jemari tangan nya.
Kenapa urusan pernikahan begitu rumit sekali?.
Batin Lea pelan.
Dia fikir selama ini menjadi orang dewasa dan menikah itu gampang, tinggal cari pasangan, menuju kesepakatan, menikah dan tidur bersama, lalu punya anak dan menikmati kebersamaan.
"Seharusnya kalian minimal menghubungi kami"
Protes Daddy Lea cepat.
"Maafkan aku Daddy"
"Kenapa kamu yang harus minta maaf?"
Daddy Lea jelas menampilkan ekspresi yang Sulit untuk dijelaskan.
Tapi Luck secepat kilat berdiri, berjalan mendekati Lea lantas duduk disamping gadis itu, meraih tubuh Lea dan membiarkan nya masuk kedalam pelukan nya.
Eh?.
Lea tampak terkejut dengan gerakan refleks luck yang meraih tubuh nya agar masuk kedalam dekapannya.
"Aku minta maaf Karena menikahi Lea tanpa izin, tapi kami punya alasan khusus melakukan nya, ada hal yang cukup sulit untuk kami bicarakan disini yang menjadi pemicu kami belum membicarakan nya dengan kalian kemarin"
Luck berusaha untuk menjelaskan perihal pernikahan mereka, agak sulit memberikan penjelasan paling logis untuk semua orang saat ini tentang mereka.
"Apa Lea hamil?"
Tiba-tiba Mommy Lea langsung berspekulasi, pemikiran nya sedikit tidak masuk akal, tapi pemikiran seorang ibu kadang terlihat berlebihan.
Ya?
Seketika Lea membulatkan bola matanya ketika sang Mommy bicara soal kehamilan, Lea buru-buru menoleh ke arah perut rata Luck, seketika kejadian malam itu membuat dia teringat dengan kata.
Pemerkosaan yang dia lakukan pada luck.
Hahhhh....?.
"Apa...? suami ku...masa bisa hamil secepat itu? kan belum lama? mereka bilang harus nya harus melewati masa datang bulan di bulan berikutnya?"
Tanya Lea tiba-tiba sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah luck.
"Apa?"
Seketika semua orang menoleh ke arah Lea dan luck secara bergantian.
"What?"
Luck langsung menoleh kearah Lea.
Apa lagi yang anak ini fikirkan?.
Dan bisa dibayangkan bagaimana situasi saat ini?
Ketika seluruh keluarga menoleh ke arah Lea lantas menuju ke arah perutnya, Lea jelas menatap ke arah perut Luck, Sedang kan Luck jelas membulat kan bola mata nya.
"Kau benar-benar hamil?"
Jelas saja grandma luck langsung memasang wajah penuh kebahagiaan, menatap Lea dan Luck secara bergantian.
"Ah...aku? bukan maksudku suami ku"
Ucap Lea mengibas-ngibaskan tangannya.
Oh shi..t.
Jangan membuat perkara baru.