
Di atas kasur mendominasi berwarna putih, Arsen terlihat masih terlelap didalam tidurnya untuk waktu yang cukup lama, belum ada pergerakan sama sekali dari laki-laki tersebut sejak tadi.
Flow menatap lurus kearah depan nya, dia mencoba menghela pelan nafasnya untuk beberapa waktu.
Kekhawatiran jelas Menghantam gadis tersebut saat ini, namun dia tidak bisa apa-apa bahkan tidak bisa membantu apapun.
Entahlah berapa lama waktu berlalu, yang jelas gadis itu sejak tadi terus meratap arsen dari atas kursi sofa yang dia duduki saat ini, gadis itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, berbagai macam pikiran berkacamuk menjadi satu di atas kepalanya.
Bola matanya cukup mengantuk sejak tadi tapi dia pikir dia jelas tidak bisa terlelap dan meninggalkan Arsen sendirian saat ini.
Di tengah perasaan nya saat ini tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara pintu dibuka dengan Cepat oleh seseorang hingga membuat Flow seketika langsung menoleh ke sisi kirinya.
Seketika dia terkejut saat dia melihat seorang perempuan muda masuk dengan ekspresi panik ke dalam ruangan tersebut, disusul oleh seorang wanita berusia sekitar hampir setengah abad.
Tidak tahu siapa kedua orang tersebut tapi Flow mereka pasti bukan orang yang tidak mampu, melihat dari penampilan mereka bisa dipastikan kedua orang itu merupakan orang kaya raya di kota tersebut.
"Arsen...?"
Perempuan muda itu bicara dengan cepat kemudian mendekati tubuh arsen yang masih terlelap sejak tadi.
Ketika perempuan muda itu mendekati tumbuh arsen seketika wanita baru bangun itu menoleh kearah Flow, dia tanpa memperhatikan Flow untuk beberapa waktu kemudian wanita itu mengerutkan keningnya.
"Kau siapa?"
Wanita tersebut bertanya ke arah Flow, tatapan matanya sangat tidak bersahabat dan juga menatap gadis tersebut dengan tatapan sedikit mengejek.
"Apa kau pembantu baru keluarga Patlers Paterson? Atau kau pelayan baru Arsen?"
Wanita itu kembali bertanya sembari menelisik tubuh Flow dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya, bisa dilihat tatapan wanita itu sangat tidak bersahabat, Flow menebak type wanita itu tipe wanita yang suka merendahkan orang lain dan merasa dirinya adalah orang paling kaya dan pantas untuk di puja-puji.
Ucapan pedas wanita tersebut jelas cukup menyinggung perasaan, Flow pikir bagaimana bisa ada type manusia seperti wanita itu dimuka bumi ini?!.
"Aku pikir kau memang pelayan baru Arsen, baguslah, aku tidak suka wanita tua itu terus berada di samping Arsen, dia akan memberi pengaruh buruk pada hubungan Arsen dan Netti"
Setelah berkata seperti itu wanita itu langsung membuang pandangannya, dia bergerak berjalan mendekati Arsenal gimana perempuan muda tadi sudah lebih dulu duduk di samping di atas kursi kayu mahoni yang tersedia di ruangan tersebut.
Mendengar ucapan wanita itu jelas membuat Flow mengernyit heran, kata-kata pengaruh buruk pada hubungan Arsen dan Netti cukup mengganggu dirinya, dia pikir siapa Netti? Apakah perempuan muda yang duduk di samping arsen tersebut?!.
Usia perempuan tersebut Lo pikir mungkin kisaran antara 27 atau 28 tahun, sudah cukup matang dan dewasa mengingat usia flow sendiri yang masih 21 tahunan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Arsen? Mereka bilang kesehatan nya cukup menurun belakangan?"
Wanita tua itu terus bicara seorang diri sejak tadi, dia yang bertanya dia juga yang menjawab sendiri pertanyaannya, Flow pikir sepertinya ada yang salah dengan isi kepala wanita tersebut.
"Bisa ambilkan kami air minum? Oh di sini sangat gerah sekali"
Wanita itu bicara dengan cepat kemudian kembali menoleh ke arah flow, dia memerintahkan gadis tersebut untuk mengambilkan mereka minum.
"Maaf?"
Flow jelas saja sedikit bingung, dia pikir aku tidak inginkan kedua orang itu memperkenalkan diri mereka? Dia yang memperkenalkan dirinya tapi cukup takut jika dia salah.
Flow tidak berani sembarangan meninggalkan Arsen, mengingat bagaimana pesan yang disampaikan oleh kak Vivian dan mommy Arsen, jika dia dilarang untuk keluar dari ruangan tersebut, jika membutuhkan sesuatu dia hanya tinggal mereka meninggal dan beberapa perawat akan datang untuk membantunya termasuk untuk urusan makan dan minum.
"Aku tidak bisa meninggalkan ruangan, aku akan meminta perawat untuk mengambil nya"
Flow bicara perlahan, dia berniat untuk menekan panggilan ke ruang perawatan, namun mendengar ucapan flow seketika membuat wanita itu langsung mengurutkan Kening nya kemudian tiba-tiba saja wanita itu langsung marah-marah.
"Bukankah kau seorang pelayan? Bagaimana bisa kau menolak permintaanku? Apakah kau tidak tahu siapa aku dan perempuan yang ada di hadapan ini Arsen saat ini?"
"Kau digaji dan dibayar oleh keluarga Petlers Peterson untuk melayani orang-orang seperti kami, ditambah lagi seharusnya kau tahu jika putriku adalah tunangannya Arsen"
Selanjutnya lagi sebari berkacak pinggang ke hadapan Flow.
Mendengar ucapan wanita tersebut jelas saja membuat Flow cukup terkejut.
"Ya?"
Tunangan?!.
Bayangkan bagaimana ekspresi dari situ saat ini ketika dia mendengar wanita itu berkata perempuan yang duduk di samping Arsen adalah tunangan Arsen.
Jadi dia cukup bingung untuk menjawab ucapan wanita yang ada dihadapan nya itu.
Dia tidak mungkin berkata soal dirinya saat ini, tidak mengerti apa maksud dari kata tunangan Arsen tersebut.
Flow mencoba untuk menebak-nebak.
"Ibu sudahlah, kau bisa pergi mengambil kan minuman nya pelayan"
Perempuan disamping Arsen bicara cepat, kemudian dia membuang pandangannya.
Hah?!.
Flow pikir kenapa anak dan ibu mulutnya sama saja? Sama-sama pedas.
"Orang-orang miskin sekarang benar-benar tidak tahu diri, bekerja dengan orang kaya tapi seolah-olah dia yang kaya raya, lihatlah bahkan dia tidak mau menyediakan minuman untuk kita? Jelas-jelas kita adalah tamu yang mengunjungi pasien, bahkan kita termasuk akan menjadi salah satu keluarga besar Oxtone, benar-benar pembantu baru yang tidak tahu diri"
Oceh wanita tersebut panjang lebar hingga membuat Flow terus mengerutkan keningnya, dia pikir kenapa mulut wanita itu sama sekali tidak ada remnya? Ini benar-benar gila pikirnya.
"Cepat ambilkan kami minum tanpa harus berpikir dua tiga kali atau kami akan bicara kepada tuan Oxtone dan...."
Wanita itu baru akan menyelesaikan kalimatnya namun tiba-tiba satu suara mengejutkan dirinya.
"Tidak bisa kah kamu berlaku sedikit sopan, bibi?"
Satu suara mengejutkan mereka semua, Arsen langsung membuka bola matanya.
"Apa bibi telah kehilangan sopan santun dan juga akhlak bibi? Anda bilang mengunjungi orang yang sakit tapi apa bibi tidak sadar, suara dan kata-kata bibi semakin membuatku sakit dan marah saat ini..."
Seketika Arsen meninggikan suara nya, dia menoleh kearah kanan nya, memilih untuk duduk secara perlahan, kepalanya benar-benar terasa pening tapi dia sangat marah mendengar ocehan wanita tersebut sejak tadi.
Perempuan disamping Arsen terlihat diam, dia langsung memundurkan tubuhnya dengan sedikit panik.
"Arsen?"
"Arsen bukan seperti itu"
Wanita itu bicara dengan perasaan tidak enak, dia bergerak mencoba mendekati Arsen.
"Tunangan? Apa kalian gila? Aku telah memutuskan pertunangan kami sejak 3 bulan yang lalu, dan kau bibi, berani sekali kau bicara tidak sopan dengan calon istri Ku?"
Sang arsen mengucapkan kata-kata tersebut dengan pasar sepertiga kedua orang tua itu langsung membulatkan bola mata mereka.
"Apa?"
Tanya mereka dengan perasaan terkejut Dan panik.