Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Diam dan lakukan



Eden tampak mengulumkan senyuman nya sambil menatap dalam kearah bola mata perempuan itu, tangan kanan laki-laki itu tampak mulai menyuapkan makanan ke mulut Ramira secara perlahan.


Mereka sejak tadi hanya diam didalam keheningan, memilih menikmati suasana Tanpa kebisingan untuk beberapa waktu, saling merangkai dan mempersiapkan kata yang mungkin akan keluar dari bibir mereka nantinya.


Cukup lama Eden menyuapi Ramira, memastikan semua makanan yang ada di lahap oleh perempuan itu tanpa sisa, membiarkan Ramira menghabiskan susu nya lantas membantu perempuan itu mulai beranjak dan duduk di kursi sofa.


"Sudah memeriksakan kembali kandungan nya ke dokter?"


Kali ini Eden benar-benar berusaha membuka percakapan di antara mereka.


Ramira Tampak mengangguk kan kepalanya.


"Mereka bilang Berapa bulan? sudah bergerak kah?"


Eden mulai antusias bertanya, mencoba menyentuh perut Ramira untuk beberapa waktu.


"Ini belum memasuki usia 18 Minggu, dokter bilang normal nya janin bergerak sejak usia kandungan 18 Minggu ke atas"


Jawab Ramira pelan.


"Kapan itu terjadi?"


Bola mata Eden tampak berkaca-kaca.


"Jika tidak salah hitung Minggu depan"


Jawab perempuan itu pelan.


Dia refleks terkejut saat Eden tiba-tiba meletakkan kepalanya di perut Ramira, laki-laki itu menyandarkan kepalanya disana sambil mulai berbisik.


"Merindukan Daddy sayang?"


Tanya eden sambil mencium lembut perut Ramira yang dilapisi pakaian nya.


Perempuan itu refleks menyentuh lembut kepala Aland, seketika sadar dan berusaha untuk menyingkir kan tangannya tapi Eden tiba-tiba meraih tanganny, menggenggam nya dengan hangat sambil meletakkan telapak tangan itu ke pipi kanan nya.


"Aku sangat merindukan kalian, bahkan sangat merindukan kamu"


Ucap Eden sambil memejamkan bola matanya, menikmati tangan Ramira sambil mencium telapak tangan itu secara perlahan.


"Kenapa membiarkan orang-orang salah menilai kamu? membiarkan semua orang membenci kamu termasuk pada dunia?. seolah-olah kamu begitu rendah dan hina di mata Semua orang?"


Saat Eden menanyakan soal itu, seketika Ramira menatap wajah sendu dan sedih itu untuk beberapa waktu.


"Bukankah untuk menjadi baik tidak perlu menampakkan nya pada dunia?"


Tanya Ramira tiba-tiba.


Eden membuka perlahan bola matanya.


"Pernah mendengar sebuah istilah? bersedekah atau memberi kepada orang yang tidak mampu namun tidak berpahala dan menimbulkan dosa?"


Ramira kembali bertanya pada Eden.


"Niat hati ingin membantu orang lain, tapi malah menghantarkan kita pada jalan menuju ke neraka, karena kita berbuat kebaikan tapi mengumbarnya pada dunia baik melalui dunia sosial atau bahkan sengaja pamer kepada orang-orang yang kita kenal kemana-mana"


"Seolah-olah kita begitu hebat setelah memberikan harta kita pada mereka kemudian terkesan merendahkan harga diri mereka"


"Memberi itu tidak harus mengumbar bukan? sama halnya seperti kita membantu seseorang, cukup diam dan lakukan, saat orang-orang salah paham biarkan lah, karena yang lebih tahu Realita nya hanya Tuhan, sebab ketika kita memejamkan mata kelak di akhirat ,Tuhan akan menghitung nya sendiri kebaikan kita di hari akhir"


"Sebab yang menghantarkan kita Menuju ke surga atau neraka itu diri kita sendiri, bukan orang lain, bukan tangan orang lain apalagi pandangan orang lain"


"Bahkan ketika orang lain membicarakan kita, itu akan menjadi amal tersendiri yang diselipkan Tuhan untuk diri kita"


Ucap Ramira sambil melebarkan senyuman nya.


Eden tampak diam, menatap wajah Ramira dengan pandangan berkaca-kaca.


Kau tahu kenapa aku jatuh cinta pada kamu sayang? Aku suka kamu yang lebih banyak bertindak dari pada berbicara, kamu yang bahkan tidak peduli dengan cemoohan orang lain, berjalan lurus sesui kata hati, tidak peduli betapa orang-orang membenci kamu tapi kamu tetap tersenyum dan berkata semua baik-baik saja.


Bahkan kamu tidak enggan membantu orang lain padahal bisa jadi kamu berada didalam masa Sulit dimana kamu sebenarnya lebih membutuhkan bantuan dari pada semua orang.


Dan kamu yah.... adalah kamu yang tidak akan mungkin aku temukan pada sosok orang lain disekitar ku.


******


Catatan \=


Jangan lah marah jika ciri khas author Membuat novel dengan menyelipkan ilmu dan pembelajaran.


Outhor tidak begitu paham istilah amalan di luar agama Islam meskipun keluarga besar author agama nya beraneka ragam, bhinneka tunggal Ika.


Jadi outhor terangkan secara global dengan pemahaman di atas.👆


Untuk umat Islam ingat satu ayat di bawah ini.


dalam Surat Baqarah ayat 264


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian."


Al-Baqarah ayat 262,


"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahinya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka."


Pengingat lainnya untuk pembelajaran.


Jika seseorang memberikan kebaikan kepada orang lain, maka kebaikan itu akan kembali kepadanya. Siapa saja yang memberi, maka suatu saat juga akan mendapatkan. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak pernah memberi sesuatu miliknya maka juga tidak akan mendapatkan dari orang lain. Kebaikan yang diterima seseorang pada hakekatnya adalah miliknya sendiri.


Tapi ingatlah 1 nasehat.


Berbuat baik itu Membantumu untuk merasa lebih ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan apapun.


Dan jangan lupa.


Salah satu 'penyakit' hati saat melakukan kebaikan yang perlu diwaspadai adalah kesombongan yang muncul bahwa dirinya sudah lebih baik dari orang lain.


BERBUAT BAIK ITU CUKUP DALAM DIAM, TIDAK PERLU MENGUMBAR KARENA BISA MENJADI PENYAKIT HATI DAN MERUSAK AMALAN.


Karena itu author ciptakan karakter Ramira disini, cukup diam tanpa harus mengumbar kebaikan.