
Ramira menggeliat sejenak, tidak tahu kenapa tapi dari seluruh tidur panjang nya seakan-akan hari ini yang paling terasa nyaman, seolah-olah ada sesuatu yang membuat dia terus tenggelam didalam tidurnya, begitu hangat dan nyaman yang telah lama tidak lagi dia dapat kan.
Dia bisa merasakan Sebuah sentuhan lembut terasa begitu hangat dibalik bibir nya, menenggelamkan diri kedalam satu mimpi indah dimana satu-satunya orang yang pernah memberikan dirinya sentuhan itu adalah Eden nya.
Begitu hangat, lembut, membuat dia terbuai begitu lama, dia takut terbangun dari mimpi panjang nya, dia takut rasa itu hilang ketika dia mulai membuka bola matanya.
Sebuah bisikan lembut terasa menyeruak masuk kedalam gendang telinga nya, suara yang dia rindu kan itu seakan-akan hadir didalam mimpi indahnya.
Oh... tidak tahu kenapa bahkan aroma khas itu tahu-tahu menyeruak melewati hidung nya, aroma parfum coklat yang begitu dia rindukan, yang selalu laki-laki itu gunakan selama bersama dirinya, aroma itu menemani nya selama bertahun-tahun tanpa pernah bisa hilang dari ingatan nya.
Ramira terus menenggelamkan dirinya, membiarkan bola matanya terus terpejam, membiarkan mimpi indah itu terus menemani nya.
Dia benar-benar merindukan nya, seolah-olah kulit nya benar-benar menyentuh sosok bayangan yang terus menghantuinya selama berhari-hari ini.
Tiba-tiba rasa sedih bergelayut didalam dirinya, sedih.. begitu sedih sekali, dia takut ketika dia membuka matanya apa yang dia rasakan menghilang begitu saja, persis seperti angin yang akan membawa harapan dan mimpinya terseret kemanapun angin suka.
Sejenak air mata Ramira tumpah, perempuan itu terisak didalam mimpi nya, dia kembali menenggelamkan dirinya didalam tidur panjang sambil mengeratkan pelukannya pada apapun yang ada dihadapan nya.
******
Eden menatap ekspresi wajah Ramira yang tertidur pulas, perempuan itu tampak bergerak, menggeliat masuk ke dalam dekapan nya untuk beberapa waktu.
Bisa dia lihat betapa gelisah nya tubuh dan wajah itu dikala tertidur, seolah-olah ada sesuatu yang membuat nya takut didalam sana, Eden mencoba menautkan sejenak bibir mereka, membisikkan kata jika semua baik-baik saja.
Lantas laki-laki itu mengencangkan pelukan nya, mengelus lembut punggung itu agar kembali terlelap dalam tidur nya.
Bisa dia dengar isakan lirih didalam tidur perempuan itu, begitu lirih nyaris tidak terdengar.
Sepersekian detik kemudian Ramira mengencangkan pelukan, perempuan itu kembali terlelap didalam tidurnya.
Laki-laki itu tampak tersenyum, membiarkan tubuh didalam dekapannya itu terus terlelap hingga warna langit mulai menggelap.
*******
Ramira mencoba membuka bola matanya sejenak ketika dia sadar hari seperti nya mulai menggelap.
Dia berusaha membiasakan bola matanya dari silau nya lampu dikamar miliknya, sejenak dia memejamkan kembali bola matanya sambil berfikir kapan dia menyalakan lampu dikamar nya itu?.
Ramira fikir dia belum menyalakan lampu itu sejak di pagi hari tadi.
Perempuan itu kembali membuka bola matanya, menatap lurus kesamping sebab tubuh nya tidur dalam posisi miring ke arah kanan.
Sejenak bola matanya membulat saat sadar dia tidak sendirian didalam kamarnya, seseorang tampak tidur dengan posisi miring menghadap diri nya, menumpu kepalanya dengan telapak tangan nya.
"Apa tidur nya nyenyak?"
Tanya laki-laki itu lantas menyentuh lembut wajahnya, sebuah senyuman merekah dibalik wajah tampan itu.
Sejenak Ramira membeku, jantung nya berdetak puluhan kali lebih cepat dari biasanya, bola matanya tiba-tiba terasa hangat.
Tiba-tiba Eden melesatkan ciuman hangat nya ke bibir Ramira, cukup lama menautkan bibir mereka dengan gerakan lembut dan penuh cinta.
Ramira tampak membeku, menahan tangannya, menggenggam erat lengan Eden untuk waktu yang cukup lama masih dengan jutaan rasa terkejut nya.