
Ramira langsung melesat turun dari mobil nya begitu dia baru kembali dari menyelesaikan urusan Edo dan Vio sejak pagi tadi.
Yah dia dan Farhan mau tidak mau meminta Edo mengikat vio sebelum semua menjadi semakin menggila, sebab sejatinya setan memang lebih gila dari manusia, jadi menurut Ramira jika suatu hal yang tidak di inginkan terjadi, 2 orang itu telah sah menjadi suami istri.
Mau bagaimana pun tinggal 1 apartemen itu bukan lagi beban untuk mereka jika khilaf nantinya.
Kedepannya tinggal Edo fikirkan bagaimana cara menyakinkan orang tua Vio dan orang tua Edo sendiri soal hubungan mereka.
Sejenak Ramira menarik panjang nafasnya, niat hati nya langsung melesat masuk ke kamar apartemen nya tapi tiba-tiba handphone nya berdering tanpa henti.
Dia melirik ke arah handphone nya itu untuk beberapa waktu, ada nama Eden yang terpampang di barisan nama belakang orang yang menelpon nya malam-malam begini, dan secepat kilatperempuan itu mengangkat nya.
"Halo, Belle"
Perempuan itu bicara dengan cepat, dia seolah-olah tahu apa yang terjadi tiap kali nomor laki-laki itu menghubungi dirinya.
Sejenak Ramira diam, dia membeku tanpa kata-kata, sepersekian detik kemudian secepat kilat Ramira kembali masuk ke dalam mobil nya dan langsung tancap gas pergi dari sana.
Mobil nya jelas melaju dengan sempurna, menembus pekat nya malam tanpa peduli lagi apa yang dilintasi nya baik disisi kiri dan kanan nya.
*******
Dengan langkah kaki tergesa-gesa Ramira secepat kilat lari menyusuri lorong rumah sakit, mencari dimana ruangan yang selalu dia kunjungi tiap akhir Minggu biasa nya.
Saat dia memasuki ruangan VVIP elite room itu, Tampak beberapa dokter tengah sibuk dengan berbagai macam alat di sekitar mereka, seorang wanita tua tampak terbaring tak berdaya disana, suara mesin monitor pengontrol detak jantung di sisi kanan dimana wanita itu tidur terus mengeluarkan suara bising yang memekikkan telinga.
Lagi...Lagi...!
Hal seperti itu sudah sering terjadi, mama Kevin (Eden Al Jaber palsu) sering melewati masa kritis seperti ini, bertarung nyawa di antata hidup dan mati.
Seorang gadis cantik begitu melihat kedatangan Ramira langsung melesat masuk ke dalam pelukan nya.
"Kak"
Belle gadis yang menghubungi nya tadi secepat kilat masuk ke dalam pelukan Ramira.
"Dimana eden?"
Ramira bertanya sambil berbisik pelan, memeluk erat tubuh Belle sambil mengusap-usap punggung gadis kecil itu.
Ramira jelas kehilangan kata-kata nya, dia fikir entah sudah berapa kali mereka melewati masa seperti ini, kadangkala hati ingin menyerah saja, tapi fikiran selalu berkata yakinlah langit akan terang pada waktu nya.
Dia tahu eden pasti selalu menepikan diri, bersembunyi di ruangan gelap sambil menangis seorang diri, laki-laki itu tidak punya tempat atau teman untuk berbagi atau berpegangan tangan kecuali pada diri nya.
Ramira membuka secara perlahan pintu gudang rumah sakit yang selalu di pakai untuk menyimpan barang-barang, perempuan itu melangkah pelan mendekati satu sosok laki-laki yang bahu nya sejak tadi bergetar.
Meskipun tidak pernah bicara soal kesedihan nya, dia tahu laki-laki itu begitu terluka dan tertekan, karena itu saat Farhan berkata bisakah dia meninggal kan Eden?
Maafkan aku!
Ramira hanya bisa menggelengkan kepalanya secara perlahan.
Ramira berdiri tepat dibelakang Eden, dia memeluk perlahan punggung laki-laki itu, mencoba mendengar kan tangisan yang keluar dari bibir laki-laki itu.
"Aku mulai ingin menyerah"
Sebaris kalimat itu meluncur dari balik bibir Eden.
"No...kamu tidak boleh menyerah, berperang lah Hingga tetes darah terakhir, bahkan jika sudah sekarat sekalipun tetaplah bertahan, aku akan selalu menggenggam erat tangan mu, memastikan orang-orang meraih diri mu dan menyelamatkan kamu hingga titik akhir nafas ku, Eden"
Ucap Ramira pelan, dia membalikkan tubuh Eden agar menghadap ke arah dirinya, bisa dia lihat betapa terluka nya laki-laki dihadapan itu, entah berapa lama Eden menangis, tapi dia bisa melihat betapa memerah nya bola mata Eden.
Ramira menyentuh perlahan wajah Eden
"Tunggulah Waktu nya, tunggulah lah saat kebahagiaan menjadi bonus atas kesabaran kamu hmm"
Ucap Ramira sambil menjatuhkan air matanya.
"Jika tidak ada yang kuat menggenggam erat tangan mu, ada aku yang tidak akan pernah melepaskan tangan ku dari mu"
*******
Catatan \= Di episode awal sudah outhor jelaskan tapi masih banyak yang bingung
Tor kenapa kisah Vio masih SMA sih sebelum PPMD putri perawan milik Daddy? lah kok Lea tau-tau udah nikah?
Jadi kisah Vio memang di masa lalu awal mula bagaimana dia dan uncle Edo nya sampai bisa punya hubungan hareudang di PPMD dan perjalanan lika-liku perjuangan mereka untuk direstui.
Sedangkan kisah Vio di masa depan setelah PPMD dimana terkuat semua asal muasal keluarga Karlos Al Jaber mulai hancur dan sikap Karl yang bikin Gedeg
Nah kisah Ramira dan Farhan?
full ada di semua kisah mereka, di Edo dan Vio kisah mereka dibahas tuntas soal perjuangan mereka dalam menggiring Selena, aland, Eden dan lain nya hingga bisa membuka siapa pelaku yang bikin Mereka bersitegang dan salah paham di masa lalu.
Kemudian di kisah Lea dan luck bagaimana mereka menggiring Lea untuk menuntaskan orang yang membuat Daddy nya berubah dan menghancurkan keluarga nya.