Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Pembeda langkah "Tidak lagi se arah"



Saat laki-laki itu menghempaskan tubuh Ramira ke atas kasur, perempuan itu berusaha menekan kesadaran nya, dengan sekuat tenaga Ramira mencoba untuk beranjak pegi tapi tidak tahu kenapa seluruh tenaga, energi, kekuatan nya seolah-olah mati, bergerak pun rasanya sulit sekali.


Dia bisa merasakan pupil matanya mulai mengecil, tubuh nya melemas, bahkan untuk memukul seekor nyamuk pun Ramira tidak sanggup.


Bahkan dia hanya bisa menjerit dan menangis dalam hati saat laki-laki diatas nya itu mulai menarik nya ke tengah kasur dan mulai menindih tubuh nya.


No...mom...mom...bantu aku...!!


Ramira berusaha berteriak dalam hati, air matanya turun perlahan.


Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Ramira benci jika seseorang menyentuh tubuh nya, tidak ada yang pernah menyentuh dirinya kecuali Eden, bahkan meskipun dia dan Murat pernah bersama dan bertunangan sejak SMP kelas 3, sekalipn Murat tidak pernah menyentuh nya, bahkan Farhan selalu tahu batasan nya, lalu bagaimana mungkin dia mengizinkan seseorang yang tidak dia kenal menjelajahi tubuh nya.


Tidak...jangan sentuh aku...aku hancur jika dia menyentuh aku...Edo..dimana kamu?


Ramira berusaha untuk memukul laki-laki dihadapan nya itu tapi berapa kali dia mencoba memukul nya semua hanya sia-sia.


Laki-laki itu menggenggam erat tangan nya, menaikkan tangan Ramira tepat di atas kepalanya, bibir laki-laki itu berbisik di samping telinga kiri Ramira.


"Sebenarnya saat mendapat kan perintah dari wanita itu, perasaan ku begitu senang sekali, aku memang menginginkan tubuh ini sejak dulu"


Ucap laki-laki itu sambil mengeluarkan satu alat yang Ramira tidak tahu apa, lantas tiba-tiba terdengar suara laki-laki dan perempuan yang saling bersahutan menikmati rasa bercinta didalam nya.


Itu rekaman de..sahan dimana suara perempuan nya begitu mirip dengan suara nya.


Adakah seseorang sedang berusaha menjebak ku?


Batin Ramira.


"Suara nya terdengar menggoda bukan?"


Bisik Laki-laki itu lagi lantas langsung menyesap lembut daun telinga Ramira.


"Sudah lama aku mengincar kamu, tapi selalu ada Eden dan Farhan yang terus melindungi kamu"


Setelah berkata begitu, secara perlahan laki-laki itu mulai menelusuri bagian leher Ramira, menyapunya dengan cara begitu indah, mengabsen nya bahkan menyesap nya dengan sempurna.


Satu tangan nya menggenggam dan menahan kedua tangan Ramira di atas kepalanya, satu tangan nya mulai membuka paksa pakaian Ramira, sedangkan kedua kakinya menahan tubuh Ramira.


Perempuan itu benar-benar menangis didalam hatinya, dia berusaha untuk bergerak dan merontah, realita nya tubuh nya seolah-olah mati tanpa bisa dia gerakkan.


Mom...mom...no...tolong aku..Tuhan.. apakah engkau benar-benar menginginkan kehancuran ku?.


Jerit Ramira didalam hatinya.


*******


Eden cukup terpaku saat dia menerobos kedalam satu kamar yang tidak terkunci, Seperti kata sang penelepon Ramira benar-benar ada disana, tengah menikmati kebersamaan, ber..cumbu dengan laki-laki yang entah siapa.


Suara de..sahan mengalun indah dari dalam sana, bisa dia lihat perempuan yang dia cintai selama ini tengah menikmati kebersamaan dan berada di bawah Kungkungan laki-laki lain dan terlihat begitu menjijikkan.


Eden menggenggam erat telapak tangan kanan nya, cincin lamaran yang dia bawa di telapak tangan kirinya seketika terjatuh di lantai bersama kotak beludru berwarna putih mendominasi, dengan perasaan hancur dan rasa jijik yang bercampur aduk menjadi satu, Eden langsung memalingkan wajahnya dan beranjak pergi dari sana.


*******


Disisi lainnya lagi.


Edo yang baru tiba bersama Vio seketika membulatkan bola matanya saat salah satu pelayan klub yang dia kenal baik berkata, seseorang membawa Ramira menuju ke kamar lantai atas, memboyong perempuan itu yang kehilangan tenaganya.


"Aku fikir ini sedikit aneh, laki-laki itu membawa Ramira dengan cara memaksa, seperti nya kondisi Ramira tidak cukup baik, sebab laki-laki itu mencoba menyeret langkah Ramira yang ½ tidak sadarkan diri"


"Berikan aku nomor kamar nya"


Ucap Edo penuh kemarahan.


Setelah mendapatkan nomor kamar nya, Edo dan Vio secepat kilat melesat naik ke atas tanpa aba-aba.


Tidak sayang, kau terlalu banyak menderita, jika masih ada yang ingin menciptakan penderitaan baru untuk mu, bisa aku bilang orang itu tidak kurang dari pada seekor bi..natang.


Umpat Edo dengan bola mata berkaca-kaca.


Mereka hanya melihat cover luar mu yang buruk, mereka tidak tahu betapa indahnya isi dalam hati mu, kebaikan mu, pengorbanan mu bahkan bagaimana cara kamu memberikan banyak kebahagiaan untuk orang-orang di sekitar mu.


Jika kali ini Tuhan masih membuat perkara buruk dalam ujian nya untuk mu, aku benar-benar kehilangan kata-kata, sejatinya kamu pantas bahagia bukan lagi ditambah penderitaan nya.


Bertahan lah, jika tidak ada yang mampu melindungi kamu, ada aku yang akan melindungi kamu dari semua nya, bertahanlah hingga aku tiba di atas sana.


Aku benar-benar akan membunuh siapapun yang berani-beraninya menyakiti kamu.


Edo bicara dalam hati sambil berusaha menahan air matanya yang akan tumpah.


Aku tidak pernah merasa simpati pada siapapun kecuali pada diri mu, jangan membuat ku menangis karena menyesali diri jika terlambat membantu mu kali ini.


Edo Fikir menggunakan tangga darurat akan lebih cepat ketimbang menggunakan elevator yang mungkin bisa menghambat langkah mereka saat ini.


Sepersekian detik kemudian ketika Edo dan Vio berlarian naik ke arah tangga darurat, dari dalam pintu elevator Eden keluar dengan wajah penuh kemarahan.