
"Uncle berhenti melakukan itu"
Vio merengek manja saat Edo terus menggodanya sejak tadi, laki-laki itu tidak berhenti mengusik kegiatan belajarnya.
perempuan itu tampak berguling di atas kasur sambil menghadapi berbagai macam buku mata pelajaran serta sebuah laptop disana.
Vio Fikir dia harus menyelesaikan Tugas sekolah nya sebelum malam tiba, sebab besok adalah weekend dan dia ingin keluar bersama teman-teman nya untuk menghabiskan waktu di mall.
Bukankah anak sekolah menyukai nya? tempat itu adalah tempat terbaik untuk nongkrong di hari Minggu, duduk santai, nonton bioskop, ngerumpi dan ber halu ria.
Ohhh senang nya.
Batin vio sambil mengulum senyumannya.
Tapi apalah daya baru ½ jalan vio menyelesai kan tugasnya, sang suami terus menggodanya.
"Uncle...."
"Kemarilah"
"Tidak mau"
"Sayang"
"Akhhhh aku pasti tidak jadi mengerjakan PR nya, aku jamin kita akan melakukan sesi panas dalam beberapa ronde hingga malam hari nanti"
Vio bicara sambil memicingkan Bola matanya.
Mendengar celotehan vio seketika Edo terkekeh.
"Sayang aku belum memintanya*
"Tapi sebentar lagi uncle pasti memintanya"
"Ckckckck fikiran nya"
Edo menjentikkan jari telunjuknya ke kening vio.
"Akhhh"
Vio meringis pelan.
"Tunggu sebentar"
Ucap Edo lantas beranjak dari kasur nya, menuju ke arah walk in closed, laki-laki itu tampak berusaha mengeluarkan sesuatu.
"Pejamkan mata mu"
Pinta Edo sambil mengintip ke arah Vio.
"Ahhhh itu mencurigakan, apa yang uncle sembunyikan dari ku?"
Tanya Vio dengan jutaan rasa penasaran.
"Baiklah"
Buru-buru vio memejamkan bola matanya, menunggu dengan berdebar-debar apa yang akan sang suami berikan kepada nya.
Dan sepersekian detik kemudian Edo tiba-tiba memasang kan sesuatu keleher nya, buru-buru vio membuka bola matanya, tampak sebuah kalung indah telah menempel di sana.
kemudian tiba-tiba Edo memberikan buket coklat dan Snack untuk nya.
"Apa ini haru khusus?"
Tanya Vio kaget, dia terkekeh senang, saking senangnya langsung berbalik dan menyambar tubuh Edo secepat kilat.
"Tidak mesti hari khusus untuk memberikan istri tercinta hadiah kan?"
Ucap laki-laki itu sambil mengulum senyuman.
Tiba-tiba Vio membuang buketnya, secepat kilat menyambar bibir Edo, mendorong laki-laki itu hingga jatuh ke atas kasur.
"Sayang kata nya tidak mau melakukan nya?"
"Hmmmm aku jadi menginginkan nya"
"Oh god..."
Edo terus terkekeh.
Seketika suasana kamar tiba-tiba menjadi panas, mereka mulai saling menautkan bibir mereka, bahkan saling membelit lidah, ciuman itu bahkan mulai menjalar kemana-mana, menuju ke leher, dada.
Tangan Vio bahkan bergerak lebih lincah begitu pula tangan Edo, dengan has..rat yang menggebu mereka tampak terbawa alur yang begitu berge..lora, saling melepas kan pakaian satu persatu dan mulai bergumul dalam hasrat yang hampir tidak dapat terbendung lagi.
Tapi saat mereka mulai terbawa arus panas yang mendominasi seisi ruangan, Dimana suara sesapan saling berlomba dengan suara rengekan dan de..Sahan menggoda dari balik bibir Vio, tiba-tiba terdengar suara penuh amarah di arah pintu kamar mereka.
"Vio...Edo..."
Teriakan histeris yang mengejutkan sepasang suami-istri itu, seketika kegiatan itu berhenti begitu saja, suasana panas karena rasa menggebu akibat hasrat yang memuncak tiba-tiba langsung berubah menjadi rasa panas penuh kekecewaan, kemarahan dan penuh emosi yang mendalam.
Vio dan Edo jelas tercekat saat melihat siapa yang ada di pintu kamar mereka.
Untungnya Pakaian vio dan Edo belum terlepas semua, dan Edo baru ingat 2 sosok dihadapan mereka itu hapal berapa nomor kode intercom apartemen nya.
Jika mereka mati-matian menyembunyikan hubungan ini selama beberapa waktu, kali ini jelas mereka tidak bisa lagi menyembunyikan nya.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba laki-laki itu berjalan melesat cepat menuju kearah Edo dan.
Bugggggg.
Bugggggg.
"Akhhhh"
Vio berteriak histeris saat bogem mentah itu di Lesatkan Dengan kasar beberapa kali ke wajah Edo oleh laki-laki yang begitu dia hormati itu.