Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Seketika mencekam



Winda melesat naik ke atas kapal, mengejar orang-orang yang membawa Ramira dan Liliana, dengan gerakan cepat dia menaiki satu persatu anak tangga kapal.


Tampak ada cukup banyak orang yang memaksa Ramira dan Liliana agar masuk ke sebuah ruangan yang Winda tidak tahu apa, begitu orang-orang memaksa masuk liliana kedalam ruangan tersebut Tanpa ada istilah basa-basi Winda langsung menyerang orang-orang yang ada di hadapannya itu.


Seketika orang-orang Alestor yang ada di hadapan Ramira terkejut, Ramira yang melihat seorang perempuan menghajar para kawanan Alestor dan orang-orang di sekitar nya lengah secepat kilat perempuan itu ikut memukul orang-orang Alestor dengan gerakan cepat dan melumpuhkan mereka.


Winda dan Ramira saling menghajar orang-orang yang ada dihadapan mereka itu hingga babak belur.



...(Hanya visual)...


...Bayangkan ini adalah Ramira 😜🀭...


Seketika mereka saling menoleh setelah melumpuhkan kawanan Alestor.


"Wawww"


Winda tampak terkejut saat Ramira bisa bertarung dengan cukup baik.


"Aku cukup terkejut istri Eden bisa bertarung'


Ucap Winda dengan pandangan tidak percaya.


"Ya?"


Mendengar Winda menyebut jika dia istri Eden, Ramira seketika terkejut.


"Aku bukan..."


Belum sempat Ramira menyelesaikan kata-katanya, Winda secepat kilat memotong.


"Keluarkan adik mu, kita harus bergegas"


"Ah iya"


Ramira bicara masih dengan ekspresi bingung.


Dia fikir perempuan di depan nya mungkin telah salah paham soal hubungan nya dengan Eden.


Ingin sekali dia berkata jika dia bukan istri Eden, tapi tidak tahu kenapa saat dia ingin menyebutkan soal itu, perutnya tiba-tiba terasa begitu tidak enak dan bergejolak.


Sepersekian detik kemudian Ramira langsung membuka pintu kamar dimana Liliana di paksa masuk kedalam tadi, Tampak sang adik masih dengan ekspresi bingung dan panik menatap Ramira dengan pandangan penuh kesedihan.


"Semua baik-baik saja"


Ucap Ramires lantas memeluk Liliana untuk beberapa Waktu, Liliana langsung memeluk leher Ramira dengan erat sambil menangis terisak.


"Maafkan aku, kak"


"No .. jangan minta maaf pada ku"


Ucap Ramira lantas melepaskan pelukannya, dia menggenggam erat wajah Liliana sambil menatap perempuan itu dengan pandangan berkaca-kaca.


"Kita akan pergi jauh setelah ini, semua akan baik-baik saja, kita akan meninggalkan Manhattan begitu semua usai"


Ucap Ramira cepat, kembali memeluk Liliana Sejenak, Lantas sepersekian detik kemudian Ramira langsung membantu membopong Liliana untuk segera pergi dari sana bersama Winda.


Ketika mereka menuruni anak tangga satu persatu, tiba-tiba bola mata mereka tertuju ke arah Farhan dibawah sana yang masih bertarung dengan beberapa anak buah Alestor


Winda secepat kilat turun untuk membantu Farhan menghabisi sisa anak buah Alestor, Liliana sejenak menatap sosok Farhan dengan jutaan pandangan yang sulit dimengerti, namun tiba-tiba sepersekian detik kemudian bola mata perempuan itu menangkap satu sosok yang berdiri di ujung kapal, tampak mulai mengokang pistol nya dan bersiap menembak ke arah Farhan.


"No...!."


Seketika Liliana berteriak panik.


Ramira mengerut kan dahinya saat mendengar teriakkan Liliana, tiba-tiba sang adik melesat lari ke bawah dengan cepat.



...(Hanya visual)...


...Bayangkan ini adalah Liliana 😭😭πŸ₯ΊπŸ₯Ί...


"Liliana"


Beberapa waktu kemudian dengan kecepatan penuh Liliana langsung melesat menuju ke arah Farhan, tanpa basa-basi Liliana berteriak panik ke arah Farhan.


"Farhan Lari....larii ..."


seketika bagaikan adegan slow motion Farhan menatap kedatangan Liliana yang melesat lari ke arah dirinya, awalnya cukup terkejut lantas tiba-tiba sebuah senyuman tampil dari balik wajah Farhan namun tahu-tahu dalam hitungan detik Liliana melesat masuk ke dalam pelukan Farhan dan...


Doorrrrrr


Doorrrrrr


2 tembakan menghujani punggung Liliana tanpa ampun.


Seketika ekspresi Farhan berubah, dia memeluk tubuh perempuan itu dengan tatapan tidak percaya, ketika Farhan menyentuh punggung Liliana terasa begitu jelas rembasan darah memenuhi Seluruh telapak tangan nya.


"Lili....."


Teriak Farhan memecah kesunyian malam


"Liliana"


Ramira ikut berteriak histeris.


Dooorrrrr


Dooorrrrr


Dooorrrrr



...(Hanya visual)...


...Bayangkan ini adalah Winda menembak penuh kemarahan 😑😑...


Dari arah samping Winda langsung menembak laki-laki yang ada di ujung sana tanpa ampun.


Liliana terjatuh kelantai Secara perlahan dimana 2 lengan kokoh Farhan menggenggam erat tubuh itu, telapak tangan Liliana menyentuh lembut wajah Farhan dengan bola mata berkaca-kaca.


"Aku harap semua hutang ku pada mu lunas"


Ucap perempuan itu sambil tersenyum senang sambil menahan rasa sakit.


"Aku sangat merindukan wajah ini"


Ucap Liliana dengan tatapan penuh kerinduan.


Farhan langsung berteriak sambil terisak.


"No..no..."


Ucap Farhan sambil menggelengkan kepalanya.


Seketika ketegangan mencekam di Antara mereka, Ramira berlarian ke arah Liliana, tangisan perempuan itu tumpah diiringi jeritan histeris yang keluar dari bibir indah itu.


"No.....bangun....bertanhanlahhhh, aku tidak punya siapa-siapa lagi, jangan lakukan ini..."


Teriak Ramira histeris sambil mencoba meraih tubuh Liliana dengan keadaan panik.


Dari arah luar sana terdengar suara sirine polisi dan ambulance yang saling sahut menyahut, Bern, luck, Murat, Bahrat melesat masuk kedalam dan seketika membeku menyaksikan pemandangan yang tidak terduga tersebut.


Eden ikut melesat masuk dan Seketika terhenyak melihat Liliana yang mulai memejamkan bola matanya dengan bersimbah darah.


Ramira terus berteriak panik, mencoba berdiri saat mendengar suara ambulance didepan sana, namun Sepersekian detik kemudian tiba-tiba.


Bbruugggg


Seketika tubuh perempuan itu tumbang begitu saja.


"Ramira"


Eden berteriak histeris, meraih tubuh perempuan itu dengan gerakan refleks.