Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Gadis yang gampang akrab dengan siapapun



Secepat kilat Mina memperbaiki posisi nya, masih berpegangan pada lengan Emir dia mencoba membenahi posisi berdiri nya.


"Maafkan aku, kak"


Mina bicara sambil menundukkan kepalanya.


"Hmm"


Emir hanya menjawab seadanya.


Mina buru-buru melepaskan heels nya, seolah takut jika dia kembali tergelincir karena sandal tinggi itu. Dia duduk di atas kursi yang ada dibelakang nya diikuti oleh Emir.


Laki-laki itu tiba-tiba Ikut melepas kan sepatu nya, secara perlahan memberikan nya pada Mina.


"Eh?"


Mina menatap Emil dengan perasaan bingung.


"Cuacanya cukup dingin, gunakan lah"


"Tapi..."


Alih-alih peduli ucapan Mina, laki-laki itu menjongkok kan tubuhnya dengan cepat lantas memakaikan nya ke kaki Mina.


Tunggu dulu... bukan kah ini sedikit berlebihan?


Tanya Mina Dalam hati.


Wajahnya seketika memerah karena perlakuan laki-laki itu.


"Dia cukup kebesaran"


Emir Tampak tertawa kecil, menatap kaki indah itu yang terlihat lucu menggunakan sepatu miliknya.


"Kakak yang kedinginan"


Protes Mina kemudian.


"Itu bukan masalah"


Setelah berkata begitu Emir duduk tepat disamping Mina.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba beberapa pelayan mengantarkan makanan dan minuman ke arah mereka.


Aihhhh????


Mina jelaa bingung.


Ada apa ini?.


Bola matanya menatap beberapa pelayan yang meletakkan makanan di Antara mereka.


"Ini bagaimana?"


Tanya Mina pelan.


"Bukankah kamu tidak suka berpesta didalam? mencoba untuk lari dari keramaian?"


Tanya Emir tiba-tiba.


"Ya? ah iya.."


Sumpah ini benar-benar membuat ku bingung.


Ucap Mina dalam hati dengan perasaan Bingung, bola matanya terus memperhatikan banyak makanan yang diletakkan di depan mereka.


"Aku cukup butuh teman bicara, kamu mungkin butuh teman bicara juga"


Emir bicara sambil mengembangkan senyuman nya.


Sejenak Mina menatap dalam wajah laki-laki itu.


"Aku jadi merasa seperti Cinderella"


Canda Mina kemudian.


"Sepatu pangeran"


Mina bicara sambil menggerak-gerakkan kaki nya.


"Dan jamuan istimewa"


Ucap nya sambil terkekeh.


"Jangan bilang setelah ini akan ada cincin lamaran?"


Ucap Mina lagi sambil terkekeh.


Realitanya gadis itu memang ramah, begitu unik dan suka bercanda. Karena itu tidak heran kakak Zumra yang ke dua begitu senang berada didekat nya.


"Aku fikir lebih dulu kita harus mencoba menghabiskan waktu berdansa ala pangeran dan Cinderella"


Ucap Emir tiba-tiba.


Jawab Mina cepat.


"Mau mencoba nya?"


Tanya Emir tiba-tiba, laki-laki itu langsung menghidupkan lagu dari handphone nya lantas tahu-tahu berdiri kemudian membungkuk kan perlahan tubuh nya sambil mengulurkan tangannya, menunggu Mina menyambut uluran tangan nya.


"Ya?"


Seketika Mina terkejut.


"Aku hanya bercanda"


Ucap Mina cepat.


"Tapi aku benar-benar serius soal itu"


Emir bicara masih menunggu uluran tangan Mina.


"Oh no... kak aku tidak sungguh-sungguh, ini membuat ku malu"


Mina terkekeh lantas langsung menerima uluran tangan Emir, dia menoleh ke arah kakinya, mencoba melepaskan sepatu milik Emir dari kakinya.


"Bukankah cukup aneh,kita berdansa di tempat terbuka seperti ini?"


Mina bertanya sambil bola matanya menelusuri setiap deck kapal, sepertinya hanya ada mereka disisi itu, ada di sudut paling ujung sana sepasang kekasih yang entah tengah membicarakan apa.


"Tidak juga, anggap saja kita sedang menikmati keindahan malam di kapal pesiar"


Emir bicara lantas menarik lembut punggung Mina, seketika tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukan nya"


Eh?.


Mina refleks kaget, gadis itu menggenggam erat lengan Emir karena terkejut.


Mina masih mencoba menetralisir keterkejutan nya, tapi tangan kanan Emir buru-buru meraih telapak tangan kiri Mina, sedangkan tangan kiri Emir memeluk erat tubuh Mina.


Seketika mereka benar-benar tidak memiliki jarak, Mina yang cukup terbiasa mengikuti kegiatan dansa dan lomba menari tampak rileks menatap wajah Emir.


"Aku seperti sedang mengikuti acara lomba bersama rekan baru ku"


Mina tampak mengulas senyuman, bicara sambil mulai mengikuti langkah laki-laki di hadapannya itu.


"Hmmm pantas dia tidak Canggung menghadapi orang baru"


Ucap Emir sambil menelisik dalam wajah Mina.


Garis rahang menawan dengan bola mata indah, bulu mata lentik, bibir merah muda dan senyuman yang menggoda itu cukup membuat Emir tidak ingin melepas kan pandangan nya, jatuh cintakah dia pada gadis ramah dan suka tersenyum dan tertawa lepas itu?


Entahlah.


Tapi dia begitu menyukainya.


Dan lucu memang, Mina yang terbiasa bersikap cuek dengan laki-laki itu Tampak begitu rileks menghadapi laki-laki dihadapan nya itu, dia kadang mengajak laki-laki itu bercanda terkadang Mina mengajak Emir tertawa renyah.


"Pernah berkencan sebelumnya?"


Tanya Emir tiba-tiba, mereka masih tampak asik berdansa.


"Kakak tahu? Aku punya 2 kakak laki-laki, mereka berkata begini saat ada laki-laki yang mendekati aku Jangan coba-coba bermain dibelakang kami, jika tidak maka habislah laki-laki itu"


Mina Tampak tertawa renyah.


"Saat SMA pernah ada yang mengajak ku berkencan, kakak pertama ku sampai-sampai harus meninggalkan urusan nya demi ingin mengebiri laki-laki tersebut"


Mina kali ini terkekeh.


Seketika Emir ikut terkekeh.


"Waw... itu cukup mengerikan"


"Sangat"


Mina bicara setengah berbisik.


"Aku baru tahu ada kakak laki-laki seperti itu"


"Zumra tidak?"


Mina bertanya cepat.


"Aku tidak bisa menjadi sesadis itu, tapi insting seorang kakak pasti selalu berjalan, saat keanehan terjadi, kami akan mengikuti langkahnya lantas memberi sedikit peringatan"


"Ahhh aku bisa melihat nya, kakak dan kakak ku punya karakter yang cukup jauh berbeda"


"Misal nya?"


"2 kakak laki-laki ku terlalu serius, tapi kakak aku fikir cukup rileks saat menghadapi sesuatu"


"Hmmm bisa jadi"


Mina kembali melebarkan senyumannya, mereka terus berdansa menghabiskan waktu di antara pekat nya langit malam dan dinginnya udara malam.