Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Bertemu setelah sekian lama



Dimasa luck dan Lea.


Vue Sur Coupole


Paris



Bola mata Aishe terus bergerak kesana-kemari mencari keberadaan perempuan yang akan mereka temui, Murat tampak duduk begitu santai sambil tangan kanan nya menyesap minuman nya sedangkan tangan kirinya terus memeluk erat tubuh sang istri sambil mengelus lembut perut Aishe yang benar-benar sudah membesar.


"Sayang mereka akan tiba sebentar lagi"


Ucap Murat sambil meletakkan gelas coffee nya, dia kembali bersandar di kursi sofa kafe tersebut, lantas mencium lembut puncak kepala sang istri.


"Daddy"


"Sayang berhentilah memanggil ku daddy, mereka fikir kita sugar baby dan Daddy "


Protes Murat cepat.


Seketika Aishe terkekeh.


"Aku sulit sekali mengubah panggilan nya"


"Panggil dengan sebutan yang manis-manis"


"Misal nya?"


"Yang cukup unik didengar"


"Ahhh aku tahu Sweety oh sweety..."


Seketika Murat memencet hidung Aishe.


"Dia benar-benar suka mengerjai suami nya.


"Sweety lihat ini"


"Nope aku terdengar seperti transgender cantik dengan panggilan seperti itu"


Protes Murat.


"Tapi itu cukup imut"


Aishee terus menggoda sang suaminya.


Saat candaan mereka terus terdengar, tiba-tiba Ramira dan farhan muncul di hadapan mereka.


"Akkhhhhh"


Aishe secepat kilat berdiri dari duduknya, memeluk erat Ramira dengan penuh kerinduan.


"Kenapa lama sekali?"


Tanya Aishe cepat.


"Aku cukup kesulitan membujuk grandma Stephard agar membiarkan aku keluar sebentar"


"Dia menjadi menantu utama kesayangan keluarga Stephard"


"Sedikit longgar, sebab sekarang perhatikan nya sedikit terpecah pada Lea, anak itu juga sama pandai nya mengambil hati grandma, dia dipaksa hamil dalam waktu dekat"


Seketika Murat terkekeh.


"Aku fikir grandma benar-benar menginginkan seorang cucu"


"Seperti yang bisa kamu tebak"


Setelah itu semua orang tampak langsung duduk di atas kursi sofa.


"Jadi sudah mendapatkan informasi soal Brenda dan liliana?"


"Kamu bisa menanyakan nya pada Bern, mereka akan tiba sebentar lagi"


Murat bicara sambil melirik ke arah jam tangan nya, kemudian bola matanya menatap ke arah pintu masuk depan.


"Itu mereka"


Ucap Murat lagi.


Seketika semua orang menoleh, Ramira tampak mengembangkan senyuman nya dengan begitu manis, dia langsung berdiri dan menyambut kehadiran Belle adik Eden yang begitu dia rindukan itu.


"untie"


Belle langsung menyambar tubuh perempuan yang selalu ada untuk nya itu sebelum ada kak Asha nya, Ramira jelas selalu ada untuk dirinya dimasa kemarin dikala suka maupun duka.


Meskipun agak kecewa perempuan itu tidak menikah dengan kakak nya, tapi Belle fikir memang sudah jalan nya seperti itu.


"Hey kawan lama"


Ucap Bern dengan suara khasnya, Farhan tampak tersenyum.


Dua laki-laki itu saling mengadu tinju secara perlahan, mereka saling merangkul sejenak lantas saling melepas kan.


Kemudian semua orang mulai duduk di atas kursi sofa dan mulai berdiskusi panjang bersama.


"So sudah mendapatkan informasi soal Brenda dan Liliana?"


Tanya Farhan kemudian.


"Kau akan cukup terkejut mendengar nya"


Ucap Bern cepat sambil menoleh kearah Ramira, lantas laki-laki itu menepuk-nepuk lembut kepala perempuan itu.


"Dia benar-benar memiliki hubungan dimasa lalu dengan daddy mu"


Bern bicara lantas menyodorkan sebuah map ke arah Ramira.


"Cukup sulit mengorek informasi masa lalunya, sebab dia berada di bawah naungan hillatop pada masa itu, bahkan dia mengubah identitas aali nya untuk waktu yang sudah sangat lama"


Lanjut Bern.


Ramira meraih map itu secara perlahan, tangan nya terlihat gemetaran, dia mencoba membuka map itu sedikit demi sedikit.


Bagitu dia melihat isi nya, seketika bola mata Ramira membulat sepersekian detik kemudian air matanya tumpah seketika.


Tidak mungkin.