Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Kau tidak akan paham sebelum menyelami hati seseorang



Dimasa Luck dan Lea.


Secara perlahan Ramira melangkah keluar dari ruangan kerjanya, perlahan turun dari elevator dan berjalan menuju ke arah parkiran mobil dimana dia memarkirkan mobil miliknya tadi, sejenak perempuan itu mengerutkan keningnya saat sadar mobilnya telah menghilang dari posisi nya.


"Eh?"


Perempuan itu tampak Bing dengan keadaan, mencoba menekan tombol kunci nya tapi dia tidak juga mendengarkan suara mobil nya disana.


Ada apa ini?


Tinnnnn


Tinnnnn


Tiba-tiba seseorang mengejutkan dirinya dari arah samping, seseorang menekan suara klskson mobil hingga membuat Ramires melonjak kaget dan menoleh ke samping.


"Farhan?"


Dia mengerutkan keningnya.


"Aku pasti di kerjai lagi"


Ucap Ramira seolah-olah sadar apa yang terjadi.


Laki-laki itu terkekeh, langsung turun dari mobilnya lantas mendekati perempuan itu dengan cepat.


"Mencari sesuatu?"


Tanya Farhan sambil menatap dalam bola mata perempuan itu.


Ramira memiringkan kepalanya.


"Ishhh dia benar-benar pandai mengerjai ku"


Ucap Ramira lantas berusaha membelokkan tubuh nya, mencoba menjauhi Farhan. Tapi laki-laki itu dengan cekatan mengangkat tubuh Ramira.


"Akhhhh Farhan....apa yang kamu lakukan?"


Ramira langsung memegang leher laki-laki itu karena takut terjatuh.


"Hmmm mungkin menculik mu menuju ke kediaman mansion utama Farhan Stephard"


Goda laki-laki itu sambil membawa masuk Ramira agar duduk disamping kemudi didalam mobil nya.


"Ini penculikan?"


"Aku sudah bilang barusan"


Ucap Farhan sambil memasangkan safety belt ke tubuh Ramira.


"Aku akan menuntut mu"


Ramira pura-pura marah.


"Boleh, aku akan minta mereka langsung menikahkan kita"


Laki-laki itu bicara lantas melesatkan ciuman nya ke bibir perempuan itu.


"Isshhh dia selalu begitu"


Rutuk Ramira.


Laki-laki itu terkekeh, lantas memutar tubuhnya dan masuk ke arah kursi kemudi.


*********


Beberapa waktu sebelumnya.


Bola mata Liliana sejenak terpaku saat dia melihat satu sosok wajah dan tubuh yang begitu dia kenal berjalan di ujung perusahaan Acselic construction, jantung nya jelas berdetak begitu kencang saat dia menyadari soal sesuatu.


Farhan .... Farhan ...?!


Tubuh Liliana jelas bergetar, dia berusaha mengejar langkah laki-laki itu sekuat tenaganya, mencari keberadaan laki-laki itu bagaikan orang gila.


"Ada apa?"


Brenda sang Mommy bertanya sambil mengerutkan keningnya, seharusnya ini jam pulang mereka, tapi putri nya bertingkah tidak jelas tiba-tiba.


"Mommy melihat nya?"


Tanya Liliana dengan suara bergetar.


"Siapa?"


Brenda terus mengerutkan keningnya.


Siapa lagi? siapa lagi jika bukan Farhan? laki-laki yang bahkan hingga kini terus menjadi kenangan paling menyedihkan untuk nya.


Liliana mencintai laki-laki itu untuk waktu yang begitu lama, tapi Farhan tidak pernah mencintai dirinya, laki-laki itu mempermainkan perasaan nya, karena itu saat Mommy nya meminta dia mendekati Luck, Liliana rela melakukan nya.


Dia tidak tahu sama sekali jika luck adalah adik kandung Farhan, dia bermain api hingga membuat laki-laki itu semakin jijik padanya, beranggapan jika dia bisa dipakai oleh siapa saja,bahkan kejadian malam itu di sebuah hotel xxxxxxx di Paris semakin semakin membuat Farhan membenci diri nya,saat mereka mendapatkan Liliana masuk ke kamar hotel bersama Paman termuda keluarga Stephard Lionel.


Liliana bahkan rela melakukan apapun agar laki-laki itu kembali pada nya tapi laki-laki itu sedikit pun enggan menatap diri nya, seolah-olah diri nya adalah debu yang sama sekali tidak berarti.


Liliana fikir seandainya saja, seandainya saja sja bisa mengulang waktu, tidak mengikuti permainan Mommy nya, dia dan Farhan tidak akan seperti ini.


Liliana sudah tidak bisa mundur lagi dari permainan yang Mommy nya ciptakan, tapi realita nya dia tidak pernah bisa melupakan laki-laki itu meskipun dia harus berpura-pura mencintai luck dalam berbagai cara.


Hingga akhirnya Farhan semakin jijik pada nya dan Luck mulai membenci nya.


"Liliana, apa yang kamu lakukan?"


"Aku melihat nya, aku melihat nya Mommy"


"Kau bicara apa?"


Brenda jelas membentak kesal kearah putri nya, dia fikir sesuatu yang salah telah terjadi pada putrinya.


"Itu Farhan, aku melihat nya Mommy"


Liliana terus bicara Panik, kaki nya melangkah cepat menuju ke salah satu pintu keluar Acselic construction.


"Dia kenapa disini? apa dia mencari ku? Mommy lihat? itu Farhan"


Liliana berteriak panik saat bola matanya tidak lagi mendapati sosok itu.


"Apa?"


Seketika Brenda membeku, menatap putri nya dengan bola mata yang hampir keluar.


"Kau masih mengingat nya?"


Seketika amarah brenda memuncak.


"Liliana"


"Mommy aku harus mengejarnya"


Perempuan itu terus berusaha melangkah, tapi Sepersekian detik kemudian tiba-tiba


plaakkkk


Sebuah tamparan kencang mendarat di pipi Liliana.


Seketika perempuan itu membeku dan terdiam.


"Mom?"


Liliana memegang pelan pipinya, seketika bola matanya berkaca-kaca.


"Aku sudah bilang kan? berhenti menggunakan hati mu dalam permainan ini, kita akan mendapatkan sisa saham Karl Al Jaber dalam 2 bulan kedepan, setelah itu kita akan keluar dari negara ini secepatnya, berhenti menggunakan hati mu pada laki-laki itu, kau hanya terbawa emosi sesaat soal cinta masa lalu dan masa kini mu"


"Pulang sekarang dan jangan bercanda dengan Mommy"


Setelah berkata begitu Brenda langsung beranjak pergi dari hadapan Liliana, meninggalkan perempuan itu dalam keheningan.


Beberapa karyawan yang tersisa tampak membeku saat melihat adegan ibu dan anak itu.


Liliana menelan Saliva nya, seketika air matanya tumpah, dengan jutaan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, dia berjalan menyusul langkah Mommy nya dari arah belakang.


Sekelabat ingatan pembicaraan nya dengan seseorang tiba-tiba datang.


Katakan pada ku, farhan dan luck, siapa cinta pertama mu?


Farhan.


Kapan pertama kali kalian bertemu?


Saat aku SMP, aku belum tahu dia putra keluarga Stephard, dan dia tidak tahu aku putri Brenda.


💯% terbagi antara mereka?


80-20.


Dia laki-laki pertama yang tidur bersama mu?


Hmmm


Liliana mengangguk sambil memejamkan bola matanya.


Kenapa kamu begitu mencintai Farhan?


Kau tidak akan paham sebelum menyelami hati seseorang.


Cinta itu rumit, bahkan kau tidak akan pernah tahu kemana dia akan berlabuh.