
"Darah nya begitu banyak, nona kenapa memegang pisau? Seharusnya biar bibi saja melakukan nya"
Mendengar ucapan bibi pelayan membuat Lea diam, perempuan tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, membiarkan sang pelayannya untuk membersihkan luka dan membalutnya.
Pikiran Lea saat ini berkelana entah ke mana, seolah ada satu kejadian yang sama sekali dia tidak pahami yang membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya, bahkan seolah-olah ada satu kekhawatiran dan juga kesedihan yang menghantam menjadi satu.
Ada apa?.
Dia tanpa khawatir sembari bergumam di dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
Lea menunggu bibi pelayan nya membalutkan luka nya hingga akhir, meyakinkan diri jika darahnya tidak lagi keluar dari jemarinya, setelah itu Lea memutuskan untuk meraih handphonenya, dia pikir sebaiknya dia menghubungi Luck Stephard suami nya itu sekarang juga.
"Biar Bibi yang menyelesaikan semuanya, nona bisa kembali ke kamar, jika selesai bibi akan memanggil Nona atau membawa makanannya ke dalam kamar"
Wanita tersebut Bicara cepat kearah Lea, Membiarkan perempuan itu pergi meninggalkan dirinya.
"he em"
Lea mengangguk kan kepalanya dengan cepat, dia memilih bergerak menjauhi wanita tersebut sembari tangannya mencoba menghubungi suaminya.
Berkali-kali dia mencoba untuk menghubungi Luck, namun sayangnya suaminya tersebut sama sekali tidak mengangkat panggilannya.
Lea menjadi semakin gelisah dengan keadaan.
"ada apa?"
Batin nya dalam hati.
Dia terus mencoba untuk menghubungi Luck hingga akhirnya Lea yang memutuskan untuk menghentikan panggilannya saat dia mendengar bell pintu di depan berbunyi.
Perempuan itu memutuskan untuk berbelok dan mencoba untuk membuka pintu.
"Biarkan aku saja bibi"
Lea bicara cepat saat dia melihat Bibi pelayan bergerak tergopoh-gopo mendekati dirinya dan berencana untuk membuka pintu lebih dulu.
Mendengar ucapan majikannya seketika wanita itu menundukkan kepalanya lantas kembali berbalik ke arah belakang.
Lea terus berjalan ke arah depan menuju ke arah pintu, dia membuka pintu tersebut secara perlahan, seketika bola mata Lea membulat saat ia menyadari siapa yang ada di hadapan yaitu.
"Oh god"
Lea terlihat bahagia saat sadar siapa yang ada di hadapannya tersebut, buru-buru dia memeluk sosok yang ada di depannya itu.
"kak Ramira?"
Dia memeluk perempuan yang adalah Ramira dengan perasaan bahagia.
"ohhh aku benar-benar merindukan kakak"
Ucap Lea lagi.
Ramira jelas langsung memeluk balik perempuan tersebut, dia mengembangkan senyuman terbaiknya dan merasa begitu bahagia bertemu dengan Lea.
Setelah mereka saling melepaskan pelukan Lea langsung menuntun Ramira agar segera masuk ke dalam rumahnya.
Bisa dia lihat perut kak Ramira nya itu mulai membesar, sudah jauh lebih besar dari terakhir mereka bertemu di Swiss.
"Katakan padaku kenapa kakak sendirian kemari? Dimana kak Eden?"
Lea bertanya sambil mencari keberadaan laki-laki tersebut.
"Dia hanya mengantar ku sampai gerbang depan, cukup sibuk dengan urusan pernikahan nya"
Jawab Ramira cepat.
Mendengar ucapan kak Ramira nya seketika membuat Lea terkekeh kecil.
"Persiapan pernikahan membuat laki-laki jauh lebih repot dari perempuan"
Ramira ikut terkekeh.
"Kaka Eden mu bilang biar dia yang mengurus sisa nya, dia tidak ingin kakak terlalu lelah"
"Ohhh dia benar-benar laki-laki penuh pengertian"
Lea bicara kemudian tiba-tiba dia menyentuh lembut perut kak Ramira nya.
"Dedek bayi sehat saja bukan?"
Lea bertanya dengan antusias, seolah-olah dia memiliki teman untuk membicarakan soal bayi mereka.
"He em, hanya sedikit bertingkah, Daddy nya sering merasa tersiksa karena keinginan nya"
Bayi Ramira jauh lebih bertingkah dari bayi Lea, kehamilan perempuan tersebut menyiksa pihak laki-laki, jika biasa perempuan yang mengidam, lain hal nya dengan Ramira dan Eden.
Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Memang, hal ini dapat membuat seorang pria mengalami gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, dan lainnya.
Eden harus menahan semua nya hingga berbulan-bulan sampai sekarang, mereka pikir itu tidak akan lama, realita nya hal itu berlangsung sangat lama.
"Kak Eden gampang marah?"
Lea Bertanya cepat, menatap kearah Ramira.
"dia mana pernah marah pada ku, sejak dulu hingga sekarang selalu mengalah, dia tahu bagaimana aku"
Ramira terkekeh kecil, mengingat bagaimana Eden terus mengalah pada nya dengan sikap keras kepala nya.
"Itu artinya kak Eden begitu mencintai kakak"
Lea bicara cepat.
Dia tahu laki-laki tersebut selalu bersikap manis pada kak Ramira nya, dulu saat Kak Ramira nya pernah bertunangan dengan kak murat nya, laki-laki tersebut terlihat begitu marah, tapi tidak pernah mengeluarkan amarah nya, dia bahkan pernah melihat laki-laki itu menangis seorang diri karena kak Ramira nya.
Perjalanan cinta kedua orang tersebut begitu rumit dan sulit, dia tidak pernah menyangka jika pada akhirnya kedua orang itu akan menikah juga.
Dari seluruh hubungan di keluarga Al Jaber, hubungan kak Eden dan juga kak Ramira nya yang paling rumit, mereka berdua menyimpan perasaan cinta yang sama tapi berusaha untuk mengalah demi banyak orang lain bahkan memiliki banyak sekali pengorbanan di sisi kiri dan kanan mereka.
Berpisah sejak kecil kembali bertemu setelah dewasa namun selalu tidak mengenal di antara satu dengan yang lain, kisah cinta nyaris tragis yang orang-orang pikir mereka tidak mungkin akan bersatu seperti hari ini.
Bahkan kak Eden nya mulai menyerah, menikahi gadis lain atas satu sandiwara mengerikan dari orang lain juga.
Kisah cinta kedua orang tersebut sangat kompleks, mungkin jika itu adalah Lea, dia mana mungkin sanggup melewati nya.
Melepaskan orang yang dicintai demi kebahagiaan orang lain nya.
Mendengar Lea berkata Eden begitu mencintai nya, seketika membuat Ramira mengulum senyuman nya.
"Dia tidak pernah berubah sejak dulu, selalu seperti itu"
Jawab Ramira pelan.
"Kak Eden melewati masa sulit sebelum mendapat kan kembali kakak, aku tidak bisa memberikannya support kala itu, dimana aku pun membutuhkan support untuk diriku sendiri setelah kematian daddy dan kasus nya terangkat, bahkan aku nyaris gila karena banyak nya tekanan disisi kiri dan kanan"
Ucap Lea pelan.
Mendengar ucapan Lea seketika ramira meraih telapak tangan perempuan tersebut.
"Waktu itu kita melewati masa yang sama, kita tidak bisa saling mensuport antara satu dengan yang lainnya, karena kita tahu kita sama-sama berada di titik paling terendah"
Ramira berkata pelan sambil menepuk-nepuk punggung tangan Lea.
Lea mengangguk kan kepalanya perlahan, setuju dengan ucapan perempuan tersebut.
"ngomong-ngomong, apa kakak tahu soal kak Aries?"
Sejenak Lea bertanya kearah kak Ramira nya.
Mendengar pertanyaan Lea seketika membuat Ramira menaikkan ujung alisnya.
"Mereka bilang dia telah mengubah wajahnya dan masuk ke keluarga Patlers Paterson menjadi laki-laki bersama Arsen"
Dia bercerita cepat kearah kak Ramira nya.
"Aku ingin bertemu dengan nya, tapi tidak punya akses untuk masuk ke dalam keluarga tersebut"
Ucap Lea sambil menundukkan kepalanya.
"Patlers Paterson? Kakak jelas mengenal keluarga itu dengan baik, daddy dan mommy sering berkunjung ke sana, aku baru saja bertemu putra satu-satunya Minggu kemarin, dia Aries? Bagaimana mungkin?"
Ramira jelas bertanya sambil mengerutkan keningnya.
Mendengar kata-kata Ramira seketika Lea membulatkan bola matanya.
"Apa? Kakak mengenal baik keluarga mereka?"
"Tentu saja, bukankah saudara perempuan Arsen menikah dengan salah satu keluarga Hurairah? Kakak dan dia sering bersama untuk banyak acara belakangan selama di Swiss"
Lea seketika langsung menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.
"oh my god, bisakah kakak menghubungkan aku dengan mereka?"
"Tentu saja, itu bukan masalah"
Ramira masih mengerutkan keningnya.
"Apa Arsen adalah Aries? Bagaimana bisa?"
Dia jelas terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Lea.