
"Aku tidak bisa mentolerir nya lagi"
Ucap Vio tiba-tiba pada Edo.
Perempuan itu tampak mondar-mandir menggigit bibir bawahnya didalam kamar mereka.
"Aku fikir kita harus bicara pada Uncle Eden"
Tambah nya lagi.
"Aku yakin 💯% Untie Ramira hamil anak Uncle Eden, untie Ramira hanya belum menyadari nya"
Vio menghela kasar nafasnya.
Jutaan kekhawatiran jelas menghantam Vio, dia hanya tidak rela perempuan sebaik untie Ramira nya harus menderita. Mereka bahkan merasakan bagaimana untie Ramira nya berkorban begitu banyak pada mereka demi menyatukan diri nya dan uncle Edo nya, menyakinkan Mommy dan Daddy Vio soal hubungan mereka.
Jadi Vio fikir bagaimana mungkin dia mengabaikan hubungan rumit dua orang itu, mereka harus bergerak dengan cepat untuk membantu mereka.
"Kita hanya akan menghancurkan hubungan Eden dan Asha, jangan bercanda"
Protes Edo cepat.
"Tapi realita nya Uncle Eden tidak mencintai untie Asha, lalu bagaimana bisa kita mengatakan hubungan pernikahan mereka akan berkembang atau hancur begitu saja?"
"Vio hubungan ini tidak akan berjalan sesuai keinginan kita, mere sudah terlanjur bersama, saling melepas kan dan memilih untuk mendapatkan pasangan masing-masing sesuai pilihan mereka"
Ucap Eden sambil berusaha menurunkan suara nya, laki-laki itu berusaha menggenggam erat bahu Vio.
"Keluarga Stephard sudah mempersiapkan pernikahan Ramira dan Farhan, 65% telah berjalan sesuai kemauan, tinggal sedikit lagi hingga undangan mulai disebarkan"
"Karena itu kita harus menghentikan nya sekarang juga"
Sela vio cepat.
"Dan Eden jelas telah menikah dengan Asha vio, mereka sudah menikah"
"Jika untie Asha tahu bagaimana cara mereka bisa menikah, yakin untie Asha akan mempertahankan uncle Eden?"
"Sayang ini rumit, jangan berfikir macam-macam"
Alih-alih peduli ocehan Edo, perempuan itu secepat kilat mencoba menghubungi seseorang.
"Aku mulai kehilangan kesabaran"
Ucap Vio cepat dengan perasaan kesal.
"Sayang"
"Aku akan mengubah keadaan, aku akan mengembalikan semua nya ke tempat seharus nya mereka berada"
Ucap perempuan itu tegas.
"Vio"
"Jangan halangi aku uncle"
"sayang"
Edo sedikit merasa keberatan, tapi Vio tetap mengabaikan nya.
Tiba-tiba seseorang menyahut dari seberang sana.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan"
Ucap Vio kemudian.
********
Mansion utama Murat Al Jaber
Indonesian
"Sayang"
Ucap Aishe cepat, menunggu sang suami naik ke atas kasur mereka, membenamkan tubuhnya di samping dirinya.
"Hmmm?"
"Kita pergi ke makam Mommy dan Daddy besok yah"
Aishe bicara sambil menatap dalam bola mata Murat.
"Boleh, aku fikir kita belum kesana lagi setelah sekian lama"
Jawab laki-laki itu cepat sambil tangan kiri nya mengelus lembut rambut sang istri.
"Ngomong-ngomong, apa kak Eden dan kak Asha benar-benar akan pergi ke Itali?"
Tanya Aishe lagi cepat.
"Mereka bilang akan pergi dalam beberapa waktu ini, akhir Minggu ini acara kumpul keluarga kita, nanti kita bisa bertanya lebih detail soal keberangkatan mereka"
"He em"
Aisha mengangguk cepat.
"Bagaimana rasanya?"
Murat tiba-tiba menyentuh lembut perut sang istri yang jelas telah membuncit.
"Apa masih merasa tidak nyaman?"
"Tidak begitu, hanya saja belakangan sering merasa lelah"
Keluh Aishe pelan.
"Benarkah?"
Tanya Murat cepat, laki-laki langsung menggeser posisi nya, dia duduk lantas menyentuh lembut kepala Aishe.
"Kemari, biar aku berikan pijatan lembut disekitar sini"
Ucap laki-laki itu sambil menyentuh pelipis kiri dan kanan Aishe.
"Setelah itu aku akan memijat di bagian kaki"
Lanjut Murat lagi.
"Yakin?"
Aishe bertanya cepat.
"Dia mulai meragukan kemampuan ku dalam memijat"
Ejek Murat sambil memencet hidung Aishe.
"Akhhhh sayang"
Aishe merengek kesal, menyentuh hidung nya sambil sedikit memunyungkan bibirnya.
Seketika Murat terkekeh lantas langsung memijat lembut pelipis Aishe.
Namun Sepersekian detik kemudian tiba-tiba handphone laki-laki itu berdering, Aishe secepat kilat meraih handphone tersebut yang berada tidak jauh dari posisi mereka.
"Siapa?"
Murat bertanya cepat.
"Dokter Edo"
Jawab Aishe sambil menyerahkan handphone itu ke tangan Murat.
"Tumben dia menghubungi ku di jam segini?"
Murat bicara sambil mengerutkan keningnya lantas dia mengangkat panggilan nya.
"Halo?"
Murat tampak semakin mengerutkan keningnya saat tahu yang menghubungi nya adakah istri dari Edo.
"Ada apa?"