
Farhan tetap terlihat biasa saja, menghela nafas nya beberapa waktu sambil menyesap minuman miliknya, kadang dia mendengarkan apa yang Selena ucapkan, kadang dia begitu terlihat dingin dan biasa-biasa saja.
Seperti memikul sebuah beban besar baginya saat harus pura-pura mencintai gadis yang sama sekali tidak dia cintai demi mengikuti permainan yang kadang membuat dirinya lelah.
Dan heran nya seberapa buruk kelakuan nya selama ini Selena tetap ingin juga bertahan disampingnya, cap Casanova benar-benar melekat di pundak nya Demi membuat Selena jatuh bangun bersama dirinya, bahkan berapa kali Selena melihat dia tidur dengan perempuan lain yang selalu dibayar nya untuk terus berpura-pura bersama nya, gadis itu selalu percaya dia akan berubah.
Jelas sekali ketakutan terburuk Farhan kedepannya, gadis itu yang tidak ingin melepas kan dirinya seperti apa yang dia rencanakan sebelumnya.
Sejenak sebuah pesan masuk muncul, secara perlahan farhan menggeser layar handphone nya.
Tersenyumlah 🙏🤗, Kamu begitu jelek saat merengut.
Ramira mengirimkan sebuah pesan untuk laki-laki itu.
Farhan tampak diam sejenak, lalu sebuah senyuman manis terlihat mengambang dibalik bibirnya.
Dia mulai mengetik sesuatu disana.
Buat aku tersenyum lebih banyak
Terlihat Ramira sedang mengetik diseberang sana.
Ada pepatah mengatakan selama janur kuning belum melengkung, aku akan tetap berusaha mendapatkanmu. Tapi jika janurnya sudah melengkung, maka akan aku setrika biar lurus😁🤭 Ye...a..🥳
Seketika Farhan terkekeh
Selena langsung menoleh kearah Farhan, gadis itu menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa?"
Tanya gadis itu kemudian.
Buru-buru Farhan menutup handphone nya, ekspresi nya kembali berubah begitu datar.
"Bukan apa-apa"
Setelah berkata begitu Farhan berusaha menelusuri pandangan nya, mencari seseorang yang dia tunggu dari tadi.
Tampak Edo berjalan dari arah pintu masuk Menuju ke arah mereka, membawa Vio disampingnya.
Farhan secepat kilat menaikkan sebelah tangannya.
"Kamu janjian dengan teman?"
Tanya Selena kemudian.
"Hmm"
Dan itu yang Selena tidak suka dari Farhan, laki-laki itu selalu memutuskan sesuatu tanpa pernah bertanya dulu pada nya, apakah dia suka atau tidak sama sekali, apakah dia setuju atau tidak juga sama sekali jelas Farhan tidak peduli.
Karena itu menjalin hubungan dengan Farhan terasa begitu kompleks, seakan-akan mereka bersama tapi hati dan fikiran mereka tidak tahu kemana.
Selena Tampak menarik pelan nafasnya saat dia melihat seorang laki-laki seumuran Farhan mendekati mereka sambil membawa gadis kecil seusia Lea, gadis itu masih menggunakan pakaian SMA nya.
Saat Selena melirik bet sekolah nya rupanya memang satu sekolah dengan Lea.
Laki-laki itu saling beradu tinju dengan Farhan, sedangkan gadis kecil itu tampak mengulum senyuman, menundukkan pelan kepalanya ke arah Farhan dan Selena sambil menyalami Selena.
"SMA ........ benar? 1 kelas dengan Lea Al Jaber?"
Selena bertanya begitu anak itu duduk di kursi nya.
Seketika bola mata Vio membulat.
"Kami teman dekat, dia anak yang begitu kocak, tidak ada yang tidak tertawa terbahak-bahak ketika bersama Lea"
Cerita Vio begitu antusias.
"Itu bagus, dia memang anak yang begitu ceria, kami begitu bangga memiliki keponakan Seperti dia"
Ucap Selena bangga soal keponakan nya itu, lantas dia menoleh ke arah Farhan dan laki-laki! disamping kekasih nya itu.
"Dan dia?"
"Edoardo Smitt, dia seorang dokter spesialis dalam, kamu bisa berkonsultasi dengan nya jika butuh bantuan soal banyak hal di rumah sakit......... jika dalam keadaan terdesak"
"Ahh..."
Selena mengangguk-angguk kan kepala nya.
"Bahkan bisa berkonsultasi soal hati"
Goda Edo tiba-tiba sambil terkekeh.
Mendengar godaan Edo, Vio langsung mencubit pinggang uncle nya sambil memunyungkan bibirnya.
Farhan hanya menaikkan ujung bibirnya, berusaha mencari sosok Ramira di ujung sana.
Selena tampak diam, seolah-olah kata dokter dan nama rumah sakit yang disebut Farhan membuat dia ingat soal saudara perempuan nya yang meninggal belasan tahun yang lalu.
Selena menatap Edo untuk beberapa waktu.
Bisakah dia membawa ku untuk mencari sebuah kebenaran?