Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Benar-benar terhubung dimasa lalu



Masih di masa lalu


Beberapa waktu sebelum ayah Kevin (Eden KW) dibunuh.


Jakarta.


Asna menangis terisak sambil memeluk erat tubuh Ramira untuk beberapa waktu, kemudian dia melepaskan pelukannya sambil berkata dengan air mata masih terus membasahi wajah nya.


Gadis kecil yang baru duduk di sekolah dasar itu tidak paham dengan situasi, dia ikut menangis ketika perempuan yang sudah seperti Mommy nya sendiri itu bicara sambil menangis menatap nya.


"Aira Suka makanan manis, dia akan kesulitan makan makanan pedas persis seperti Kevin, jadi jangan berikan dia makanan yang pedas-pedas"


"Dia jika tidur harus di Elus punggung nya untuk beberapa waktu, meskipun tidak bicara kamu bisa melihat sendiri nanti bagaimana type nya, saat kamu mengelus punggung nya, dia akan semakin tenggelam dalam tidur nya"


Perempuan itu bicara sambil berusaha menahan tangisan nya tapi tidak bisa.


"Dia tidak pernah mengeluh persis seperti Kevin saat menginginkan sesuatu, dia tidak akan mengeluh meskipun keadaan begitu sulit, bahkan dia akan mengalah saat kamu meminta nya mengalah, dia benar-benar persis seperti Kevin"


Ucap perempuan itu lagi sambil membenahi jaket dingin Ramira.


Mama kevin bicara pada perempuan muda yang tengah menangis dibelakang ramira, itu adalah adik bungsu dari Mommy ramira.


"Saat dikapal perhatikan tidur nya, Aira tidak bisa terlalu banyak terkena angin dingin jika tidak alergi nya akan muncul secara tiba-tiba"


Ucap nya lagi sambil membenahi rambut Ramira, memasang kan topi pada gadis kecil itu dan memastikan seluruh pakaiannya telah menutupi gadis kecil itu.


Adik perempuan Mommy Ramira mengangguk, mencoba menghapus air mata nya dengan cepat.


"Kevin akan mengantar kalian hingga ke pelabuhan, setelah itu berjanjilah pada kami, saat keadaan mulai mendingin, kirimkan kami kabar kalian dari sana"


Perempuan muda itu mengangguk cepat.


"pergilah sejauh mungkin, sebelum laki-laki itu menemukan kalian"


Eden muda memandangi Ramira untuk beberapa waktu, dia menatap gadis kecil yang selalu dia genggam erat tangan nya itu sejak hampir 7 tahun yang lalu.


Kali ini suka tidak suka dia harus melepaskan genggaman nya, tidak tahu kenapa tapi kehidupan keluarga gadis kecil itu begitu pelik.


Dia baru saja kehilangan Daddy dan Mommy nya, kini harus melesat pergi menghindari orang-orang yang mengincar keberadaan nya.


Laki-laki muda itu memeluk erat Ramira untuk beberapa waktu.


"Aku akan tetap menjadi seorang pilot, Jika aku besar, aku akan terbang mencari mu bersama Aliya dan orang tua ku"


Ucap eden cepat.


Ramira mengangguk kan cepat kepalanya sambil melebarkan senyuman.


"Jika aku tidak bisa mengenali wajah kakak, apa yang harus aku lakukan?"


Tanya gadis kecil itu sambil mengerutkan keningnya.


"Jika mata kita tidak bisa saling mengenali, maka disini akan saling mengenali"


Ucap Eden muda sambil menyentuh bagian atas dada Ramira dan dadanya, kemudian dia mengembangkan senyumannya.


Ramira menatap bola mata itu untuk beberapa waktu, kemudian dia mengangguk kan kepala nya dengan cepat.


"He em"


Ucap nya sambil ikut mengembangkan senyuman nya.


Adik mommy nya terus menggenggam erat tangan Ramira, mengajaknya untuk mulai naik menuju ke arah jalan dimana para penumpang yang berjalan kaki akan lewat.


Ramira masih berusaha menoleh kebelakang, melambaikan tangan kecilnya ke arah Eden untuk waktu yang cukup lama.



...(Hanya visual)...


...Bayangkan saja ini Ramira kecil...


********


Beberapa waktu sebelum Ayah Kevin (Eden KW} dibunuh


Pusat konstruksi bangunan Al Jaber


Alestor menggenggam erat wajah burja, dua pengawal nya menahan tangan kiri dan kanan laki-laki tersebut.


Dia begitu marah ketika tahu laki-laki itu terlibat dalam misi penyelamatan putri kedua Ibrahim putra Ghanem.


Dan lebih marah lagi hingga hari ini Alestor tidak bisa melacak keberadaan bocah itu yang menghilang entah kemana.


"Aku akan membiarkan kamu hidup namun dengan syarat, katakan dimana gadis kecil itu berada?"


Alestor menekan tiap kata-kata nya, dia membutuhkan gadis kecil yang tidak dia tahu siapa nama nya, dia butuh gadis itu untuk bisa dia kendalikan kehidupan nya di keluarga Hurairah.


Sebab istri Ghanem, Violet mulai resah terhadap dirinya, acapkali perempuan tua itu bertanya hal yang tidak dia pahami seolah-olah menggiring nya dengan pertanyaan jebakan karena wanita itu curiga dia bukan putra kandungnya.


Alestor fikir, jika dia bisa mendapatkan putri tertua Ibrahim, dia bisa membuat gadis itu yakin jika dia adalah Daddy kandungnya, kemudian berencana mengendalikan nya dari belakang persisi seperti sebuah boneka.


Tapi sayangnya, beberapa anak buah nya berkata, gadis kecil itu pergi dibawah seorang bocah laki-laki dan gadis muda menuju ke pelabuhan beberapa hari yang lalu, yang dia ketahui belakangan jika gadis muda itu adik dari istri Ibrahim dan bicah laki-laki itu adalah putra burja.


Dia ingin tahu, kemana mereka membawa gadis kecil itu kemarin.


Tapi burja lebih memilih bungkam seribu bahasa.


"Baiklah, kau sendiri yang memilih hari kematian mu untuk melindungi cucu pertama Hurairah"


Hingga akhirnya kemarahan laki-laki itu membuncah, dalam sekali cekikan dia menghabisi nyawa laki-laki itu tanpa ampun.


"Buat seolah-olah Burja meninggal dunia karena kecelakaan di proyek konstruksi Al Jaber, biarkan Karl berfikir sendiri bagaimana dia menyingkirkan manyat Burja nantinya"


Alestor bicara Cepat ke arah 2 orang kepercayaan nya sambil mengeratkan rahangnya.


********


Catatan \=


Kebiasaan Kevin (Eden KW) Dan Ramira


Ingatan nyonya Burja soal eden


di putri perawan milik Daddy season 2


episode 64


Bukan laki-laki kuat.