Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Untuk terakhir kalinya



Beberapa hari sebelum peperangan


di putri perawan milik Daddy.


Setelah melewati pergumulan panjang dan malam panas bersama Ramira, Eden yang masih menggunakan handuk mandi dan dililit kan ke pinggang nya saja langsung duduk di atas kursi sofa sambil menyalakan rokok miliknya, menghisap nya secara perlahan sambil memperhatikan langkah perempuan itu yang Tampak sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.


Perasaan Eden saat ini benar-benar pecah setelah kejadian malam itu, saat pulang melihat pergumulan Ramira dengan sosok laki-laki yang tidak dia kenal, Eden langsung menghancurkan semua persiapan lamaran nya tanpa kata-kata.


Tidak ada yang berani buka suara saat Eden menghancurkan semua persiapan yang telah semua orang lakukan hari itu, meskipun ada yang ingin sekali bertanya ada apa, tapi tidak ada yang berani untuk mengajukan pertanyaan pada laki-laki itu.


Eden masih berharap Ramira memberikan penjelasan pada nya, tapi perempuan itu sama sekali tidak pernah buka suara, mencoba menjelaskan kemana dia malam itu saat dia mencoba menghubungi dirinya hingga pagi hari.


Dan hari ini tiba-tiba Ramira meminta nya datang ke apartemen Ramira, perempuan itu menjadi begitu manja, meminta Eden mengikuti keinginan nya, mengajak menghabiskan malam panas bersama tanpa alasan yang jelas.


Eden mengeratkan rahang nya sejenak, mencoba menetralisir perasaan nya terhadap perempuan di hadapannya itu, dia kembali menghisap rokoknya sejenak lantas mencoba menyesap minuman yang ada dihadapan nya itu.


Mungkin ini keterlaluan, tapi Eden fikir ini terakhir kali nya batas kesabaran dia berada, laki-laki itu mencoba membuka suaranya, ingin tahu apa yang ada didalam Fikiran Ramira.


"Bagaimana jika aku melamar Asha dan menikah dengan nya?"


Tanya Eden cepat sambil meletakkan gelas minumannya ke atas meja.


Ramira yang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka, memotong beberapa bahan makanan tanpa sengaja melukai jari telunjuk nya sendiri karena terkejut dengan ucapan Eden.


Dia merencanakan semua ini dengan baik, melawati malam terakhir dengan Eden dan mungkin akan meninggalkan Eden setelah hari ini.


Sejenak Ramira menggenggam jari telunjuknya yang berdarah, langsung Menuju ke wastafel cucian piring dan membiarkan air mengalir membasahi jari telunjuk nya yang dipenuhi oleh darah.


"Itu bagus"


Ucap Ramira sambil memejamkan bola matanya secara perlahan, dia berusaha untuk tidak menangis, menguatkan diri meskipun rasanya begitu sakit.


Mendengar Jawaban Ramira, Eden jelas semakin mengeratkan rahangnya.


Hah....!!


Dengan gerakan cepat dia kembali kekamar Ramira, meraih pakaian nya lantas menggunakan nya dengan cepat, tidak tahu kenapa tapi Amarah nya Kali ini sudah melampaui kapasitas nya, dia sudah kehilangan batasan nya dan dia mulai lelah.


"Aku tanya sekali lagi, apa kamu pernah mencintai aku sekali saja?"


Laki-laki itu menarik cepat tubuh Ramira, membiarkan gadis itu berbalik melihat diri nya.


Mendengar pertanyaan Eden, Ramira tampak menggenggam erat telapak tangan nya, hati nya bergetar.


"Aku tanya apa kamu pernah mencintai aku? sekali saja? meskipun hanya se ujung kuku?"


Eden kembali bertanya dengan Detakan jantung yang terus bergerak tidak beraturan.


Ramira masih diam, dia masih berusaha menahan perasaan nya, bahkan dia berusaha untuk menahan tangisannya, tangan nya Tampak gemetaran.


Ingin sekali dia berkata jika dia begitu mencintai laki-laki itu, tapi dia berusaha untuk menahan perasaan nya.


Ada terlalu banyak pertimbangan yang dia miliki saat ini.


janji nya pada valentine, menjaga perasaan Farhan, rasa kasihan nya pada Asha.


Semua itu seolah-olah menjadi beban untuk diri nya melangkah.


"Maafkan aku"


Ucap Ramira pelan.


Eden langsung menaikkan kedua tangan nya ke atas, dengan sejuta rasa kecewa dia berkata.


"Kamu benar-benar telah memutuskan nya, mari akhiri Semua nya, aku akan menikah dengan Asha"


Setelah berkata begitu Eden langsung membalikkan tubuhnya, berjalan cepat meninggalkan Ramira dalam keheningan.


Eden keluar dari apartemen itu dengan jutaan perasaan sambil menutup pintu kamar itu dengan gerakan kasar, begitu laki-laki itu keluar seketika Ramira terduduk di atas lantai, sepersekian detik kemudian dia menangis didalam diam.