
Setelah Luck selesai berkata kamu sedang memancing singa yang sedang tidur sayang.
Tahu-tahu laki-laki itu menautkan bibir mereka berdua, lea jelas terkejut gadis itu langsung mendorong dada lalu secepat kilat ke arah belakang.
tapi bukannya mundur, Luck malah semakin memperdalam ciumannya. Seketika dia merasa tidak bisa bernafas tidak tahu kenapa tapi Lea fikir rasanya begitu penuh dan mukanya memerah serta....
Lea mendorong paksa tubuh luck ke belakang.
"Gila....aku tidak bisa bernafas"
katanya dengan suara ngos-ngosan.
Lea menarik rakus nafasnya beberapa kali.
Fuhhh
Hahhhh
"Aku hampir tercekik dan mati, bagaimana jika aku mati muda gara-gara dicium oleh mu uncle?"
Oceh lea kemudian, menatap tajam bola mata luck, dua memunyungkan bibirnya.
"Kamu fikir orang ciuman bisa mati?"
"Bisa jadi....orang aku saja hampir mati"
Lea Manarik rambut luck kesal dari sisi kanan nya.
"Awhhh sayang"
Luck berteriak kecil.
"Kau kasar sekali"
Sejenak Lea menaikkan alisnya, baru infat jika luck berada di atas tubuh nya.
"Turun dari tubuh ku, uncle ini berat"
Oceh kemudian berusaha untuk menyingkir.
"Yakin tidak mau menyelesaikan sesi ciuman kita"
Ucap Luck lantas kembali memajukan wajahnya menuju ke arah Lea.
Seketika bola mata Lea berkedip-kedip untuk beberapa waktu.
Hmmmm hmmmm jika dilihat-lihat dia tampan juga.
Lea tampak cekikikan dalam hati.
Dilanjutkan apa tidak?.
Lea tampak memutar menaikkan bola mata nya, seolah-olah sedang berfikir dengan begitu keras.
"Aku harus berfikir dengan keras"
Ucap Lea kemudian.
"Ckckckck dia cukup banyak bicara dan banyak berfikir, lupakan saja"
Luck berusaha untuk kembali ke kursi kemudi nya.
Tapi...
Duaarrrrr
Suara petir menggelegar memecah kegelapan malam.
"Akhhhhhh mati orang sekuburan mommy....."
Begitu Lea berteriak histeris, seketika gadis itu berdiri dengan spontan dan memutar posisi luck dengan paksa, laki-laki langsung terhempas kebawah, sedangkan Lea memeluk erat tubuh luck dengan kencang.
Sekali lagi terdengar petir menggelegar
"Akhhhhhh Kanguru jalan lompat-lompaattt"
Lea kembali berteriak panik sambil memeluk Luck kencang-kencang.
Seketika Luck terkekeh mendengar teriakan panik Lea.
"Aku fikir dia berani dalam banyak hal, ternyata dia takut petir"
Luck terkekeh kecil sambil mengelus-elus lembut punggung Lea.
Gadis itu terus memeluk erat tubuh Luck, tidak peduli apa yang terjadi dia terus meringkuk naik di atas tubuh Luck untuk waktu yang cukup lama dengan tubuh gemetaran.
"Hey... petir nya sudah pergi"
Luck berusaha membangun kan Lea, meminta agar gadis itu segera beranjak dari tubuhnya.
"Belum...."
Lea menjawab panik masih meringkuk didalam dadanya, tetap memejamkan matanya sambil memeluk kencang tubuh laki-laki itu, terdengar isakan tangis gadis itu di atas dadanya.
"Sudah pergi dari tadi, kamu tidak dengar? suara nya sudah menghilang sejak tadi, cepat menyingkir dari tubuh ku, Lea"
Kali ini luck menelan kan suara nya
"Tidak mau..."
Lea menggelengkan kepalanya pelan.
Luck mencoba menyimak baik-baik keadaan gadis itu, coba Mendengar kan suara nya dengan benar sambil mengerutkan keningnya.
"Sayang, jangan bilang kamu benar-benar Gadis yang takut dengan petir? apa kamu memiliki phobia Astraphobia?"
Tanya laki-laki itu sambil berusaha menaikkan posisi kursi mobilnya, lantas Luck berusaha melepaskan Lea dari tubuhnya.
"Tidak mau... petir nya masih ada, mereka masih akan datang mengikuti, mereka akan membunuh ku"
Lea bicara dengan panik dan cemas, air mata Lea tampak tumpah membasahi seluruh wajahnya, tubuh Lea jelas gemetaran.
"Lea?"
Dan sial nya petir lagi-lagi terdengar menggelegar.
Duarrrrr
"Akhhhhhhhhhh"
Lea kali ini jelas lebih histeris, memeluk luck dengan sekuat tenaga, tanpa mau melepaskan nya.
Seketika Luck menelan salivanya, dia fikir awal tadi hanya candaan Lea, tapi siapa sangka anak itu benar-benar memiliki phobia Astraphobia
********
Catatan \=
phobia Astraphobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap guntur, petir, dan kilat. Fobia satu ini menjadi ketakutan yang sering terjadi pada orang-orang dari segala rentang usia. Namun, ini lebih sering terjadi pada anak-anak yang membawa penyakitnya hingga ke usia dewasa.
Seperti halnya berkeringat, gemetar, bahkan menangis selama badai petir terjadi, Rasa takut ini pun bisa meningkat apabila tengah sendirian dibandingkan bersama orang lain.
Sebagian ilmuwan percaya bahwa akar penyebab astraphobia berasal dari ketakutan bawaan terhadap suara keras atau trauma yang dimulai sejak kecil.
Meskipun memiliki rasa takut ini sebagai seorang anak normal terjadi, seiring tumbuh dewasa ini menjadi ketakutan yang tidak biasa.
Terjebak dalam badai petir atau menghadapi kondisi cuaca ekstrem dapat menimbulkan tingkat kecemasan atau ketakutan yang berlebih.
Pada orang dengan astrafobia, badai petir menyebabkan reaksi ekstrem yang sangat 'melelahkan'.
Ini merupakan bagian dari gangguan kecemasan dan membutuhkan pengobatan tertentu.