Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Dua sosok yang saling mengenal



Kembali ke Swiss


Rumah sakit Patlers Paterson


Vivian berlarian dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit milik keluarga Patlers Paterson tersebut, ekspresi wajah cemas penuh dengan kepanikan menghantam wajah cantik perempuan tersebut.


Langkah kaki yang tergesa-gesa saling memukul suara antara lantai dan heels tinggi yang digunakannya, berita yang disampaikan kepada dirinya soal arsen yang tertembak jelas membuat Vivian gelagapan setengah mati.


Bagaikan bisa?!.


Itu menjadi pertanyaan besar Vivian, bukankah ada para pengawal dan orang-orang kepercayaan Arsen, seharusnya ini tidak mungkin lagi terjadi.


"Apa semua baik-baik saja?"


Vivian bertanya pada dokter dihadapan nya, menarik kerah pakaian Dokter tersebut dengan kasar.


Selalu seperti itu, setiap kali dia khawatir Vivian bisa berada di luar pemikiran, bertindak penuh emosi dan pasti akan menghancurkan siapapun yang berani berkata Arsen tidak baik-baik saja.


Dokter dihadapan nya menelan salivanya, dia menatap Vivian sambil berusaha menahan nafasnya.


"Tuan tertembak di bagian dadanya"


Saat dia mendengar jawaban laki-laki di hadapan kita semua seketika Vivian membulatkan bola matanya.


"Siapa? Katakan pada ku siapa pelakunya?"


Teriak Vivian pada dokter tersebut.


Yang ditanya terlihat gemetaran, mencoba menetralisir detak jantung nya yang kemungkinan besar akan lepas tidak lama lagi.


Dia tidak berani menjawab nya sama sekali, sebab dia tahu saat Vivian tahu siapa pelakunya maka habislah sudah semuanya.


"Jackson Ville, apa yang akan kau lakukan pada laki-laki itu serta kamu tahu jika dialah yang mencelakai Arsen?"


Tiba-tiba saja satu suara menyerah diantara mereka dari arah belakang Vivian, mendengar suara seseorang disana, seketika Vivian menoleh.


Dia mengerutkan keningnya saat tahu siapa sosok yang barusan menjawab pertanyaan Vivian.


"Bern?"


Dia tahu itu adalah Bern, siapa yang tidak mengenal laki-laki tersebut selama ini?!.


Dia menyebutkan nama laki-laki itu dengan sangat rumit.


"Bern De Lucas?"


Perempuan tersebut membulatkan bola matanya.


"Aku Cukup terkejut kau ada disini, Bern"


Lanjut perempuan itu lagi.


Bern berjalan secara perlahan mendekati Vivian, melihat dua orang tersebut seketika rasanya ruangan itu mendadak menjadi suram dan gelap, dokter laki-laki yang ada di belakang Vivian seketika menelan salivanya.


Mereka tidak saling mengenal dalam keluarga besar, tapi saling mengenal di dalam dunia gelap, mungkin saat ini mereka sama-sama memilih untuk tidak menoleh ke dunia gelap mereka, tapi realita nya pada masa lalu mereka memiliki satu benang merah yang saling terhubung antara satu dengan yang lainnya.


Dokter laki-laki tersebut mencoba untuk memundurkan langkahnya, tidak ingin lagi terlibat urusan dengan kedua orang tersebut, bayangkan bagaimana di masa lalu dia selalu harus berhadapan dengan dua orang tersebut secara bergantian hanya untuk saling membalut luka ketika mereka saling terluka.


"Kau bilang apa? Jackson Ville?"


Seolah-olah dia mengabaikan perihal soal masa lalu di antara mereka, Vivian bertanya cepat ke arah Bern yang kini bergerak mendekati dirinya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Vivian, Bern malah berkata.


"Seharusnya sejak awal aku cukup curiga kenapa tiba-tiba Arsen tidak pernah kembali ke Black shadow, tiba-tiba menghilang untuk beberapa waktu bahkan beberapa tahun lamanya"


Bola mata laki-laki tersebut menatap tajam ke arah perempuan yang ada di hadapannya, dia menaikkan ujung alisnya sembari kembali berkata.


"Seharusnya aku juga merasa curiga bagaimana bisa karakter Arsen berubah setelah sekian tahun menghilang, dia yang begitu arogan dan suka berpetualang dari satu perempuan ke Perempuan yang lainnya tiba-tiba memiliki alergi Perempuan, dia yang begitu di benci banyak orang karena arogansi dan memiliki ambisi menguasai black shadow tiba-tiba saja jadi enggan terhubung dengan dunia kelam membuat ku berpikir dengan keras, ada apa dengan Arsen sebenarnya?"


Lanjut Bern lagi, laki-laki tersebut telah berdiri tepat dihadapan Vivian, dia bicara dengan kalimat yang terus ditekan, menatap ekspresi perempuan yang ada di hadapannya tersebut dengan lekat.


Vivian terlihat menatap tajam balik bola mata Bern, dia kemudian memejamkan sejenak bola mata nya.


"Bisa kau tidak mencampuri urusan keluarga ku?"


Tanya Vivian kemudian, dia lantas kembali membuka bola matanya, bisa dilihat kelihatan amarah dibalik bola mata perempuan itu saat ini.


"Kau terlalu jauh ingin masuk dalam kehidupan keluarga kami, arsen adalah adikku, siapapun dan apapun yang aku lakukan padanya itu bukan urusanmu"


Lanjut perempuan itu lagi dengan kalimat yang sangat ditekan, berharap agar Bern sadar posisinya dan cukup tahu diri untuk tidak terlibat dalam urusan keluarga mereka.


"Aku tahu seharusnya aku tidak masuk ke dalam kehidupan keluarga kalian, tapi apa kau tahu sesuatu Vivian?"


Tiba-tiba bareng bicara sembari memajukan kembali langkahnya hingga membuat perempuan di hadapannya tersebut sedikit memundurkan langkahnya.


"Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik untuk terlibat atau bahkan mencari tahu, tapi ada satu hal yang membuatku mau tidak mau ikut terlibat di dalam ini semua, mau aku beritahukan tentang sesuatu?"


Bern bicara dengan suara yang begitu datar dan dingin, dia menekankan pertanyaan pada kalimat terakhirnya hingga membuat Vivian menaikkan ujung alisnya.


"Laki-laki yang kau selamatkan dulu di dalam tragedi kecelakaan beberapa tahun yang lalu adalah Aries, dia sepupu ku dari keluarga Al Jaber, jadi bagaimana aku bisa mengabaikan soal Arsen yang sekarang, sedangkan yang aku tahu Arsen Petlers Peterson telah di makamkan di pemakaman mewah keluarga ternama yang kamu sembunyikan dari dunia"


Saat Bern berkata seperti itu, seketika hal tersebut membuat Vivian membulatkan bola matanya dengan sempurna.


"Apa?"


Perempuan itu bertanya sambil berusaha untuk menetralisir detak jantung.


"kau bilang apa?"


Tanya nya sekali lagi untuk meyakinkan pendengaran nya.


*****