Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Menunggu jawaban nya "Will you?"



Beberapa hari setelah


pernikahan Lea dan Luck


Villa utama Hurairah


Manhattan


Liliana tampak sibuk menata beberapa letak susunan bunga dimulai dari depan hingga keruangan dalam bersama dengan Farhan.


Sesekali mereka bercanda sambil terkekeh bersama, saling berbisik untuk beberapa hal.


"Dimana mereka?"


Tanya Liliana kearah Farhan sambil terus menyusun bunga di hadapan mereka.


"Mereka diperjalanan"


Jawab Farhan cepat.


"Sayang apakah meja nya sudah?"


Terdengar suara Ailee di arah ruang tengah.


"Hampir selesai"


Aland menyahut cepat.


"Kita harus buru-buru, mereka pasti tiba sebentar lagi"


Saat Farhan berkata begitu tiba-tiba terdengar suara mobil dari arah garasi mobil.


"Sayang mereka tiba"


Luck bicara dengan cepat dari arah Depan.


"Oh no..."


Ucap Liliana cepat sambil tangan nya buru-buru membereskan sisa beberapa barang.


"Tunggu dulu, aku hampir selesai"


Pekik Lea dari arah dalam, perempuan itu cukup kelabakan.


"Oh god, tidak bisakah dia sabaran? aku benar-benar hampir gila ini"


Pekik Lea panik.


"Oh no ..mereka naik, Lea buruan"


Pekik Liliana sambil berlarian ke arah depan.


"Semua sudah di posisi masing-masing? ingat jangan ada yang buka suara"


Ucap Aland cepat.


"Oke... mereka masuk"


Seketika suasana menjadi begitu hening, tidak ada pergerakan sama sekali, Aland tampak memeluk Ailee di belakang pintu, mencium puncak kepala perempuan itu berkali-kali.


"Sayang berhenti mengusili ku"


Ailee bicara sambil mencubit pinggang Aland beberapa waktu.


"Sayang kami benar-benar mencubit Ku"


Protes Aland cepat.


"Aku bisa menebak, apa yang akan daddy lakukan jika aku tidak mencubit Daddy"


Cibir Ailee kesal.


"Daddy"


"Ssstttt"


Sepersekian detik kemudian Ramira dan Eden tampak masuk dari arah pintu depan.


Perempuan itu tampak bingung saat melihat beberapa hiasan bunga bertebaran dimana-mana.



"Apa ada yang Habis menggelar acara sebelum nya?"


Tanya Ramira sambil menoleh ke arah Eden.


"Hmm"


Eden ber Hmm ria sambil mengembangkan senyuman nya.



Mereka melewati susunan bunga berwarna merah disisi kiri dan kanan menuju ke arah ruangan tengah.


Sejenak Ramira menggenggam erat tangan Eden, tidak tahu kenapa tapi rasanya begitu aneh baginya,tiba-tiba jantung nya berdetak begitu kencang.


Seketika saat mulai masuk ke ruang tengah, Ramira terlihat membeku saat di atas nya terdapat banyak sekali balon hati dimana di bawah nya di ikat foto didalam tiap balon nya.



Bola mata Ramira memperhatikan tiap foto-foto yang ada disana.


Seketika Ramira menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya, bola matanya mulai berkaca-kaca, dia menatap satu persatu foto-foto tersebut.


Itu adalah barisan foto diri nya dan Eden, entah sejak usia berapa dia mungkin nyaris lupa, pertemuan pertama, saling sapa, saling bicara, kebersamaan yang tidak terhitung lagi lama nya, tertawa, menangis, marah, cemberut, kesal, tangan yang saling menggandeng, pelukan hangat, kening yang menyatu, hidung yang saling menyatu,ciuman hangat dan entah berapa banyak kenangan yang mereka buat, yang Eden selalu abadikan sejak awal mereka bersama hingga saat ini.


Ramira Terus berjalan memperhatikan semua foto kenangan mereka satu persatu.


Dia fikir kenapa dia tidak menyadari alangkah banyaknya moment ketika mereka bersama.


Seketika semua kenangan bersama Eden tercetak di kepalanya.


Ada Jutaan kenangan manis bersama yang selalu membuat dia bahagia, kekonyolan Eden, canda tawa laki-laki itu, keusilan nya, sifat manisnya yang selalu membuat dia tersipu-sipu malu, godaan Eden yang selalu mengisi hari-hari nya dan membuat dirinya tersenyum begitu senang.


Dia hampir melupakan kenangan manis itu karena sebuah rasa bersalah pada valentine, rasa iba pada Asha, rasa takut dan berdosa pada Eden di masa lalu nya.


Semua kenangan manis itu tertutup jutaan kesedihan yang mendalam selama bertahun-tahun.


Lalu saat bola mata nya berakhir memandangi foto terakhir yang ada di hadapannya, tiba-tiba di ujung ruangan Tampak sesuatu yang membuat Ramira kehilangan kata-kata.



Seketika jantung Ramira terpompa 10x lipat lebih cepat dari biasanya, dia kehilangan kata-kata nya.


Belum juga dia bisa menetralisir detak jantung nya tiba-tiba Eden berlutut di hadapan nya.



...Hanya Visual...


...(Bayangkan ini Eden dan Ramira mak🤭😜🥰)...


Sejenak Ramira kehilangan kata-kata, dia menatap bola mata Eden yang menunggu nya dengan tatapan was-was.


Yah ketakutan Eden lagi-lagi Ramira menolak lamaran nya.


Ini entah sudah yang keberapa kalinya Eden tidak tahu, berapa kali Eden melamar Ramira, berapa kali juga perempuan itu menolak nya.


"Eden...aku.."


Ramira tampak menggeleng-gelengkan perlahan kepalanya karena bingung, bisa dilihat bagaimana ekspresi Ramira saat ini yang masih tidak tahu harus mengeluarkan jawaban apa.