
Ditengah guyuran hujan deras serta petir yang menggelegar ketika langit mendung dan hampir menggelap, ini adalah waktunya lea kembali dari kampusnya.
Seketika lea menganga saat membaca pesan WhatsApp nya, untuk berkata jika dia sudah ada di gerbang depan kampusnya.
"Ya?"
jelas saja Lea bingung, dia fikir kenapa laki-laki itu sejak malam kemarin jadi berubah.
Hahhh apa jangan-jangan Uncle luck sedang bener-bener meminta pertanggungjawaban dari ku?.
Batil Lea dalam hati.
buru-buru dia mengetik pesan whatsapp-nya.
Aku akan keluar dalam 2 menit.
Lea dengan gerakan cepat menyambar tas Dan beberapa bukunya diloker miliknya, lalu Lea berjalan ke depan menuruni anak tangga untuk menemui yang menjemputnya tapi ternyata tiba-tiba seseorang menarik lengannya lihat tersentak dan menoleh kebelakang ternyata itu adalah Selim.
"Selim?"
ucap Lea pelan dengan jantung yang berdetak kencang.
"Mau pulang bersama"
Tanya Selim padanya.
Lea diam sejenak lalu dia menarik pelan nafasnya
"Maafkan aku, Uncle sudah menjemputku Selim"
Ucap Lea dengan nada penuh penyesalan
Akhhhh seandainya saja uncle belum' menjemputku, bukan kah boncengan menggunakan motor di hari hujan begitu romantis??? hahahhaha
God khayalan mu Lea.
batin Lea dengan ekspresi yang begitu lucu.
Terlihat gurat kecewa dibalik wajah Salim.
"Bukan masalah"
Laki-laki itu berusaha tersenyum kearah Lea meskipun ada sejumput ke kecewaan di dalam hatinya.
mereka berjalan saling beriringan sesekali Selim melirik ke arah lea sambil menanyakan beberapa hal yang mungkin tidak begitu penting bagi Lia.
"Apa uncle baik padamu?"
tanya Selim pada Lea.
"baik tak baik, yeah cukup baik"
jawab lea asal .
"Hmm dia seperti apa ya, laki-laki itu sangat sulit sekali ditebak karakter nya, kadang bisa dibilang dia itu lemari pendingin berjalan atau kutub Utara yang tidak berpindah tempat atau dia itu seperti makhluk buas yang membeku, tapi kadang-kadang dia menjadi begitu baik tanpa alasan"
Keluh Lea kemudian.
Mendengar keluh kesah Lea Selim seketika terkekeh geli.
"Jangan terlalu diambil hati, semua pasti baik-baik saja"
"Kak Farhan bilang dia memang seperti itu"
Ucap laki-laki itu sambil menyentuh lembut kepala Lea, gadis itu menurunkan sedikit leher dan kepala nya.
sejenak ia terdiam menatap bola mata Selim untuk waktu yang cukup lama, mereka berhenti sejenak dari langkah kaki mereka.
Selim secara perlahan mencari payung yang ada di bagian pinggir pintu masuk sekolah, dimana ada tempat khusus menyimpan beberapa payung yang bisa dipakai oleh mahasiswa dan mahasiswi di kampus tersebut jika hujan.
dan tanpa mereka sadari tindakan selim terlihat oleh luck dari ujung sana, laki-laki itu tengah berada di dalam mobilnya dan bola matanya jelas tanpa sengaja menatap kedua sosok manusia tersebut.
Luck mengeratkan rahangnya, dia fikir bocah itu lagi.
apa dia mau cari mati?.
Geram luck dalam hati.
Laki-laki itu secepat kilat membuka kaca mobilnya dan menatap tajam ke arah Lea dan Selim dari dalam mobilnya, bisa dibayangkan bola mata Luck melotot seolah-olah ingin keluar melihat Selim menyentuh lembut kepala lea tadi.
"pulanglah"
Ucap selim kepada Lea.
"Uncle mu sudah menunggu di depan"
Tambah Selim lagi.
Hah...??!
Lea spontan terkejut langsung menoleh ke arah depan, bisa dia lihat bagaimana ekspresi lucu saat ini, dia yakin laki-laki itu terlihat marah ketika Selim menyentuh kepalanya.
gadis itu secepat membentang payungnya, pergi berlalu dari hadapan Selim menuju ke arah mobil Luck.
Buru-buru lea menutup payungnya masuk ke dalam mobil tepat di samping posisi mengemudi.
"aku pikir kalian berteman tapi rupanya begitu romantis"
sindir Luck lantas melajukan mobilnya menuju ke arah depan melewati gerbang kampus lantas berbelok dan menuju pulang ke mansion mereka.
"Ya?"
Lea menoleh sambil mengerutkan dahinya.