
"Kamu bisa menghubungi 911 jika kamu meragukan soal kami semua nona, bahkan jika kami memang berniat jahat pada laki-laki ini sejak tadi kami sudah membunuhmu atau bahkan mencelakaimu di tengah perjalanan sebelum kita sampai kemari"
pada akhirnya wanita itu menjelaskan dengan cepat ke arah gadis itu, dia jelas mencoba menjelaskannya dengan cara yang cukup masuk akal terhadap gadis yang ada di hadapan itu saat ini.
seandainya mereka memang ingin berencana jahat terhadap laki-laki itu, seharusnya sejak tadi mereka menghabisi gadis itu lebih dulu mengingat betapa lemah nya gadis itu saat ini sebenarnya, tapi mereka benar-benar harus membantu laki-laki itu secepatnya karena itu terjadi atas perintah dari seseorang.
mendengar ucapan wanita yang ada di hadapannya itu seketika membuat gadis itu terdiam, seolah-olah apa yang dikatakan wanita itu benar sebelum seandainya jika memang mereka ingin mencelakai laki-laki tersebut seharusnya sejak tadi mereka tinggal membinasakan dirinya dengan banyak cara mengingat dirinya hanya seorang diri dan dia juga hanya seorang gadis muda yang tidak memiliki daya kemampuan apapun.
pada akhirnya gadis itu memundurkan langkahnya sembari bola mata nya menatap laki-laki yang ada di depan sana di mana para tim dokter sudah mulai mempersiapkan diri untuk melakukan operasi.
gadis itu menatap laki-laki yang ada di ujung sana yang kini tergeletak tidak berdaya di atas kasur meja operasi tersebut, dengan sejuta perasaan di mata dirinya pada akhirnya gadis itu mengalah dan membiarkan semua orang untung melakukan apapun yang ingin mereka lakukan pada laki-laki yang kini tergeletak tidak berdaya tersebut di mana darah telah membasahi seluruh bagian pakaian laki-laki itu tanpa sisa.
"untuk memangkas keraguanmu, kamu bisa menunggu di dalam ruangan ini dan mencari sudut mana tempat kamu duduk yang paling nyaman dan tenang, atau bahkan kamu bisa menemui di luar dan mengintip dari bagian PC transparan yang ada di depan sana menuju ke arah dalam hingga operasinya selesai"
wanita itu berkata cepat kepada gadis tersebut sembari mencoba melebarkan senyumannya.
pada akhirnya gadis itu mengganggukan kepalanya Dan dia mencoba untuk memilih menunggu laki-laki itu di dalam ruangan tersebut dengan berbagai macam perasaan yang berkacamuk menjadi satu.
"aku akan menunggunya di sini"
Gadis itu menjawab dengan cepat kemudian dia membuang pandangannya dari wanita yang ada di hadapannya itu.
*****
Disisi lain
Masih di mansion utama Luck Stephard
Ruang kerja Luck.
"mereka bilang keberadaan terakhirnya ada di Swiss"
Ucap Luck Stephard cepat kearah Lea.
"tapi kita sama sekali tidak tahu di mana titik tepat keberadaannya"
lanjut lagi tersebut lagi sembari melirik kearah istri nya.
di dalam ruangan tersebut terlihat beberapa orang tengah duduk dan berfokus pada apa yang disampaikan oleh Luck.
semua orang saat ini mencoba untuk menyambung benang kusut yang terjadi pada kakak laki-laki Lea di masa kemarin.
"tidakkah kamu menaruh kecurigaan selama melihat Aries selama di keluarga Al Jaber?"
kedua orang tersebut terlihat diam, mereka seolah-olah berusaha untuk mengingat-ingat tentang Aries dimasa lalu, baik karena kebiasaan tingkah laku ataupun perbuatan laki-laki tersebut bahkan juga sosoknya.
"aku takut menebak tapi seingatku saat kejadian bersama Valentine, aku melihat sosok orang lain di dalam diri Aries"
Ucap Murat pelan.
"Ini membuat kepalaku berdenyut-denyut dalam mengurai benang kusutnya, siapa yang ditembak dan meninggal, kemudian siapa yang ada di Swiss? kau tahu rasanya kepalaku ingin pecah saat ini juga"
Murat bicara dengan cepat.
"Aku pikir bukan hanya kamu yang terbebani dengan segala pemikiran ini"
Tiba-tiba Aland bicara dengan cepat.
"aku bakal jauh lebih stres memikirkannya"
lanjut laki-laki itu lagi kemudian.
"Tunggu dulu"
tiba-tiba Eden bicara dengan cepat sembari menatap semua orang secara bergantian.
"ada yang ingat kejadian soal Valentine di masa lalu? aku pikir Ada yang berkata jika Aries masih di luar negeri pada malam itu, kemudian katakan padaku kenapa dia bisa ada di lokasi kejadian di Indonesia?"
Eden dengan cepat bertanya kepada semua orang.
mendengar ucapan laki-laki itu sejenak membuat semua orang langsung menetap ke arah Eden.
Lea yang terlihat diam sejak tadi ini langsung menoleh ke arah Eden.
"Aku pikir Aries yang selama ini memang bukan dirinya, aku tidak mengenal laki-laki itu sebagai kakakku karena aku merasa lebih benar-benar seperti orang asing yang tidak aku kenal"
ucap Lea cepat.
"aku tahu bagaimana cara nya untuk memastikan semuanya"
ucapannya kemudian secara tiba-tiba, hal tersebut jelas membuat semua orang langsung menoleh ke arah perempuan itu.
"Bagaimana?"
tanya semua orang dengan cepat.