
Najat mendorong paksa pintu kamar Vio dengan penuh kemarahan, Belle mundur beberapa langkah sambil meraih tubuh Vio, dia berusaha menghalang jalan jalan Daddy Vio untuk meraih tubuh gadis itu.
"Uncle..."
Ucap Belle sambil menggelengkan kepalanya,dia takut laki-laki itu akan memukul vio.
Eden berusaha mengejar langkah Najat, mempersiapkan diri jika-jika laki-laki itu bertindak di luar jangkauan.
"Kemasi barang-barang mu sekarang juga"
Suara najat seketika membuat vio meremang, dia dengan jutaan rasa takut mundur kebelakang sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Daddy...no... maafkan aku, tapi aku mencintai Uncle"
Ucap Vio sambil menangis terisak, dia terus menggeleng kan kepala nya dengan cepat, dia tidak mau beranjak pergi dari sana.
"Pulang sekarang, kemasi barang-barang mu"
Bentak Daddy nya lagi.
"Aku tidak mau..."
Vio Fikir saat dia melangkah keluar, dia takut tidak bisa bertemu Uncle nya lagi, dia takut Daddy nya akan memisahkan mereka.
"Aku tidak mau..."
Melihat ekspresi Vio jelas saja semakin membuat Najat membulat kan bola mata nya, dia fikir berani sekali putri nya menolak ajakan nya.
Secepat kilat laki-laki itu menyambar tangan Vio, dia mencoba menarik vio dengan gerakan yang begitu kasar.
Eden jelas tidak suka melihat perlakuan najat, secepat kilat laki-laki itu langsung menahan tubuh laki-laki itu.
"Brother, dia hanya anak-anak, coba berfikir dengan jernih, kamu tidak bisa memaksa nya dengan penuh kemarahan, tenang kan diri kamu dan coba beri jeda waktu sejenak untuk berfikir"
Ucap Eden cepat.
"Lepaskan aku Eden"
"Aku tahu, tapi bukan begini cara menghadapi masalah, kita bisa menggunakan kepala yang dingin untuk menyelesaikan semua nya"
"Kau fikir aku bisa menggunakan kepala dingin saat ini?"
Najat jelas menjadi begitu emosi, dia langsung membalikkan tubuhnya dan...
Bugggggg
Sebuah pukulan melesat di bibir kiri Eden.
"Akhhhhh"
"Daddy...."
"Najat..."
Semua orang berteriak histeris.
"Oh shi..t"
Eden mengumpat saat dia merasakan sebuah pukulan menghantam keras di pipi nya.
Tanpa berfikir dua tiga kali Eden langsung melesatkan pukulan nya juga.
Bugggggg
"Akhhhh"
Teriakan demi teriakan kembali terdengar.
"Kau fikir aku tidak bisa melakukan nya? kita Bahkan pernah berkelahi begitu hebat di masa SMA dan kuliah"
Eden terlihat bicara sambil menghela kasar nafasnya, dia mengendurkan dasi nya dengan perasaan yang bercampur aduk jadi satu.
Harus nya dia bukan berada di tengah persoalan ini, seharusnya saat ini dia berada di perusahaan tengah melakukan pertemuan bersama beberapa investor.
"Tapi aku menahan perlakuan dalam menghadapi sesuatu, kita bukan lagi anak-anak atau remaja di masa lalu, kita sudah cukup tua untuk berfikir dan mencoba memecahkan sebuah permasalahan"
Lanjut Eden lagi lantas menarik kerah baju najat dengan gerakan kasar.
"Seharusnya kamu bisa bersikap lebih lunak, menggunakan kepala dingin untuk berfikir, mencari solusi permasalahan bukan menambah permasalahan menjadi semakin runyam"
Sejenak semua orang tampak terdiam.
"Ketimbang menyalahkan keadaan, menyalah kan edo dan vio, seharusnya kalian berfikir dengan logika, kenapa menitipkan putri kalian pada laki-laki tua ini"
Oh shi..t laki-laki tua? kau fikir tidak tua?
Umpat Edo dalam hati.
"Seekor kucing kalian beri ikan asin? tentu saja di lahap, kalian fikir Edo malaikat? saat melihat gadis muda dengan tubuh sempurna, tidur bersama nya, dikamar yang sama bahkan di kasur yang sama? aku saja tidak mau tinggal satu apartemen dengan Belle adik ku, lalu berani-beraninya kalian menitipkan putri kalian pada laki-laki ini"
"Apalagi vio jelas mencintai Edo, apa kalian tidak menyadari nya Sejak dulu? lalu bagaimana perkara asmara bisa tidak terjadi di antara mereka?"
Seketika najat menelan Saliva nya, dia Fikir seharusnya dia menyadari tingkah putri nya, bahkan mungkin benar putri nya yang selalu menempel pada Edo.
"Vio masih berfikir kekanakan, dia putri mu, orang yang seharusnya kamu lindungi,dan dia ipar mu, adik dari istri mu juga uncle vio tapi... garis bawahi..ingat untuk di garis bawahi, mereka tidak sedarah, sedikit pun tidak memiliki hubungan, jadi tidak ada yang salah di antara mereka untuk saling mencintai"
"Alih-alih melakukan sesuatu yang merugikan, memisahkan mereka hingga akhirnya membuat vio frustasi dan mungkin melakukan hal yang tidak masuk akal sehingga menambah runyam keadaan, seharusnya kalian mencoba menenangkan keadaan, mencari solusi terbaik di antara persoalan ini"
"Come brother, kau seharusnya bisa menjadi kepala keluarga yang bisa membuat keputusan bijak, bukan membuat persoalan menjadi semakin menggila, minimal hargai uncle dan untie, Mereka sudah terlalu tua untuk melihat pertikaian mengerikan seperti ini"
Semua orang tampak diam mendengarkan ucapan Eden, Ramira sejenak melirik ke arah laki-laki itu, dia mengintip melalui sisi kiri tubuh Mommy vio, seketika senyuman manis mengambang di wajahnya, dia fikir laki-laki itu bahkan bisa menjadi begitu bijaksana saat menghadapi sebuah persoalan pelik untuk orang lain.