Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Bukan type pengatur "Sah milik nya"



Lea menatap luck beberapa waktu kemudian bola mata nya menatap tumpukan berkas yang ada dihadapan nya itu secara bergantian.


Tua Bangka dan surat pernikahan.


Hmmmmm seketika Lea menarik kasar nafasnya.


Akhhhhhh


Kepala Lea terasa ingin pecah.


Menikah tapi dengan si tua Bangka, tampan sih tapi kan tua, aku jelas masih anak-anak kan? kalau dia mati lebih dulu bagaimana? terus kalau dia tiba-tiba maksa ngajak MP juga bagaimana?


Lea tampak bicara dalam hati, dia berfikir sambil menaikkan bola matanya ke atas.


Bayangkan bagaimana tersiksa nya aku harus menahan pedang Laras panjang nya? yeah meskipun di buku-buku +21 yang aku baca bilang awalnya sakit kemudian akan berubah nikmat, meskipun Vio bilang juga begitu terus mereka bilang begitu, tapi kan tetap saja tidak seimbang??


Realita nya mulut nakal ku bilang begitu, aku kan belum tahu bagaimana kenyataan nya.


Lea terus mengomel dalam hati.


Gadis itu tampak mencoba membayangkan nya, imajinasi liarnya mulai menjalar kemana-mana.


Pedang Laras panjang yang menyabet buah apel kecil seukuran lingkaran jari telunjuk dan jempol nya.


Batin nya lagi


Ommo....!!


Seketika gadis itu tersentak kaget sendiri dengan imajinasi nya.


Hahhhh Hancur, pecah, Sobek?!!!


akhhhh bukankah itu mengerikan???


"Lea..."


Seketika suara luck memecah khayalan otak somplak nya.


Lagi-lagi Lea menoleh ke arah bawah sana, gadis itu menelan Saliva nya.


Oh god, tua dan pasti nya alot serta keras.


Yah Yah yah.


Barang tua kan memang begitu.


Lea menepuk-nepuk kedua belah pipinya.


Lea kau sudah gila.


"Lea...."


Luck mulai menggeram, sebab ocehan nya sejak tadi sama sekali tidak didengarkan.


"Ah iya"


Lea mengembangkan senyuman nya, menoleh ke arah luck sambil mengedip-ngedipkan bola mata nya.


"Hentikan ekspresi konyol mu itu, berhenti mengedipkan bola mata mu seperti itu"


Tidak tahu kenapa dia merasa cukup terganggu dengan gerakan Lea.


"Uncle kenapa kamu cerewet sekali?"


Tanya Lea sambil memutar tubuhnya, dia memunyungkan bibirnya dengan ekspresi kesal.


"Bukan kah akan terlihat malang sekali jika aku ini menikah dengan laki-laki yang cerewet?"


Oh god


Alih-alih menjawab umpatan Lea, luck tampak berdehem.


"He em"


Lalu tangannya dengan cepat menggeser berkas-berkas yang ada dihadapan nya itu dan memberi kan nya pada lea.


Sejenak lea menatap ke arah lembaran berkas didepan nya itu.


Seketika wajah Liliana memenuhi isi kepalanya.


No... dia jelas membenci perempuan itu, bagi Lea jika luck adalah milik Liliana itu artinya ini kesampatan dia Mulai mengambil apapun yang menjadi milik perempuan itu sebelumnya.


Terdengar jahat, tapi jika di telisik lebih dalam perempuan itu jelas lebih jahat pada keluarga mereka.


Jika bukan karena perempuan itu, Daddy nya jelas tidak akan membuang Mommy nya, menyia-nyiakan Mommy nya dan begitu gila menginginkan apapun milik Al Jaber.


Dimulai dari orang tua perempuan itu lah akar permasalahan dimana sifat Daddy nya mulai berubah.


Ketika perasaan Lea terhantam rasa bimbang yang luar biasa, tiba-tiba asisten pribadi luck memecah keheningan saat itu.


"Nona Liliana mencari Anda, tuan"


Ucap Perempuan itu pada luck.


Seketika bola mata Lea membulat, dia menoleh dengan perasaan yang cukup terkejut.


Kali ini tanpa fikir panjang lagi, Lea secepat kilat menyambar pena dan berkas-berkas dihadapan nya, dia langsung membubuhi tanda tangan disana dan cap 3 jari nya.


Sejenak luck menatap wajah Lea, karena cukup tidak menyangka gadis itu bisa dengan cepat menandatangani seluruh berkas-berkas pernikahan mereka.


Lea langsung menoleh dengan cepat ke arah luck.


Oh god, kenapa aku bisa menikahi laki-laki tua ini?


Rasanya Lea ingin menangis saja saat ini saat sadar dia telah sah menjadi istri si tua Bangka.


Seketika Lea ingat soal sesuatu.


"Saat menjadi seorang istri, apa aku boleh memutuskan sesuatu?"


Tanya Lea tiba-tiba.


"Ya?"


Luck tampak mengerutkan keningnya.


"Maksud ku apa aku punya hak untuk bicara? apa semua milik uncle berarti milik ku?Apa aku boleh memutuskan sesuatu saat aku tidak nyaman dan tidak suka dengan sesuatu?"


Lea mencoba memperbaiki pertanyaan nya dengan perasaan yang menggebu-gebu, ingatan nya soal Liliana benar-benar mengganggu akal sehatnya.


Luck menaikkan bahunya.


"Bebas bicara selama tidak membuat diri ku malu, Semuanya milik kamu, dan selagi itu tidak merugikan Aku, kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau"


Lea mengangguk dengan cepat.


"Pasang pintu mansion nya dengan password yang baru, aku tidak suka perempuan itu keluar masuk ke mansion kami seenak hatinya"


Ucap Lea cepat ke arah asisten pribadi luck itu.


"Katakan pada security nya, aku tidak suka dia bebas keluar masuk tanpa seizin ku"


Tambah Lea lagi dengan perasaan yang terus menggebu-gebu.


Perempuan itu menundukkan kepalanya perlahan.


"Baik nona"


Setelah berkata begitu Lea langsung melesat pergi dari hadapan luck.


Sejenak luck menoleh kearah asisten pribadi nya itu.


"Kenapa aku merasa jadi tidak enak?"


Ucap luck tiba-tiba sambil menyentuh pelan tengkuknya.


"Apa dia bakal jadi istri pengatur?"


Tanya nya lagi pada perempuan dihadapan nya itu.


Perempuan itu tampak mengulum senyuman.


"Saya rasa tidak, dia bukan type gadis seperti itu menurut tuan Eliot"