
Kembali ke masa lalu
Malam kelam mencekam.
Swiss.
Derap langkah kaki saling sahut menyahut memecah keheningan malam dimana Heels dan sepatu pantofel saling menghantam dipermukaan lantai rumah sakit, satu branker dorong di di dorong paksa oleh tim medis menuju ke ruangan operasi.
di atas branker dorong tersebut terlihat sebuah tubuh yang tergeletak di atasnya bersimbah dengan darah.
Vivian mengejar langkah dengan Wajah cemas, dimana tubuh nya juga bersimbah dengan darah yang masih basah, kedua belah pipinya telah dipenuhi dengan air mata di mana tubuhnya bahkan bergetar hebat karena berbagai macam perasaan yang menghantam menjadi satu saat ini.
ada rasa takut rasa sedih rasa hancur dan rasa apapun yang tidak bisa dia jabarkan satu persatu yang membuat dia berpikir apa sebaiknya dia mati saja karena keadaan.
bola matanya menatap sosok tubuh yang ada di atas breaker dorong, di mana sebenarnya kondisi tubuh Vivian tidak baik-baik saja saat ini.
dia terus mengejar langkah hingga pada akhirnya para tim dokter berhasil menyeret laki-laki yang ada di atas berkat dorong tersebut menuju ke sebuah ruangan operasi.
"Kita harus melakukan operasi nya sekarang"
satu dokter bicara cepat ke arah Vivian sembari menatap wajah perempuan tersebut.
mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu seketika membuat Vivian mengangguk kan Kepalanya.
"Biarkan aku melihat kondisi nya"
bicara dengan cepat kemudian tanpa berpikir bahwa tiga kali dia masuk ke dalam ruangan operasi tersebut yang telah berpindah ke atas meja operasi.
Sosok laki-laki tersebut tidak berdaya, bersimbah darah, sekarat tapi masih bisa mendengar dan bicara dibalik nafasnya yang sudah sengap-sengap.
Vivian mendekati dirinya pada sosok tersebut, menatap iba pada nya, kondisi tersebut terjadi karena Sejak awal ada banyak sekali orang-orang yang mengincar nyawa laki-laki tersebut.
tidak tahu siapa orang-orang itu tapi yang dia tahu laki-laki itu tidak baik-baik saja, dia mengenalnya cukup lama dan memperlakukan laki-laki itu layaknya seperti adiknya, dia mengenal laki-laki tersebut juga dari Arsen.
lalu tiba-tiba laki-laki tersebut menghilang beberapa waktu, kemudian Arsen mengalami tragedi berdarah karena sebuah kecelakaan hingga menyebabkan adiknya meninggal dunia, kematian adiknya yang tak tenduga membuat nya harus berbohong kepada orang tuanya jika adiknya baik-baik saja dan tengah mengambil perawatan atas insiden kecelakaan nya pada masa kemarin.
dia tidak siap mengatakan soal kenyataan tentang kematian Arsen, ditambah lagi jika kematian adiknya diumumkan maka itu artinya Patlers Paterson akan jatuh ke tangan keluarga lainnya.
Dan kini dia bertemu dengan laki-laki ini, dalam kondisi tak terduga dan tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Selamatkan aku, kak"
Dia ingat bagaimana laki-laki tersebut meminta tadi, dalam kesekaratan nya.
"setelah itu kau bisa mengubah aku menjadi adikku bahkan kau berhak untuk menenggelamkan seluruh ingatanku, aku memang sudah tidak ingin lagi mengingat satupun tentang kehidupanku pada masa lalu, karena itu selamatkan aku dan mari membuat sebuah kesepakatan saling menguntungkan"
laki-laki itu berucap sembari menatap dalam bola matanya.
"selamatkan aku dan berikan aku keluarga yang utuh, maka aku akan memberikan kehidupan baru pada keluarga kakak dan lakukan apapun perintahmu"
Ucap Laki-laki tersebut lagi.
Vivian menyentuh laki-laki dihadapan nya itu secara perlahan, mencoba Mendengarkan bisikan laki-laki tersebut dibalik telinganya.
"jangan pernah membuatku terlalu mengingat soal masa lalu, jika ingatan itu kembali melakukan segala cara untuk menenggelamkannya hingga aku melupakannya sampai mati"
******
Kembali ke masa kini.
"Hahhhh Oh god"
Vivian seketika tersentak dari tidurnya sembari menarik nafasnya panjang secara spontan, bola matanya terbuka dengan sempurna di mana dia menatap satu ruangan berdominasi berwarna putih di sekelilingnya.
"Kakak baik-baik saja?"
satu suara mengajarkan dirinya membuat pimpinan buru-buru menoleh ke asal suara tersebut.
Arsen terlihat bertanya sembari melatar cemas ke arah dirinya, adik lagi-laginya tersebut terlihat berbaring di atas kasur ruang inapnya sembari terus menetap ke arah Vivian.
bisa dirasakan oleh Vivian rembesan air mata mengalir di Bali kedua bola matanya tersebut, dia buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"apa kakak mimpi buruk?"
pertanyaan tersebut kembali berdasarkan oleh arsen dia berusaha untuk membenahi posisinya dan memilih untuk duduk lantas merupakan pinggir kasur di mana di rawat.
Vivian terlihat mengembangkan senyumannya, dia beringsut dari posisinya kemudian bergerak mendekati adik laki-lakinya tersebut.
"belakangan sering mimpi buruk, cukup takut jika kakak lagi-lagi kehilangan tamu"
Ucap perempuan itu cepat.
mendengar ucapan kakaknya seketika membuat arsen menatap wajah perempuan tersebut untuk beberapa waktu, kemudian secara perlahan laki-laki tersebut membiarkan dia memiringkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya pada bahu kiri kakaknya.
"belakangan aku juga sering bermimpi buruk"
laki-laki itu berucap pelan sembari memejamkan bola matanya.
"seburuk apa?"
Vivian bertanya gimana tangan kanannya dengan hangat mengelus lembut rambut adiknya itu.
"seolah-olah ada yang berusaha untuk memisahkan kita, aku melihat mommy menangis juga kakak menangis di dalam mimpiku"
ada kegelisahan dari balik ucapan yang dikatakan oleh laki-laki tersebut, seolah-olah kebahagiaan yang saat ini lambat laut akan menghilang, tidak tahu kenapa tapi kekhawatiran menghantam dirinya, seakan-akan mimpi buruk akan menghampiri mereka semua.
ada jutaan ketakutan yang menghantam dirinya hingga hari ini di mana dia selalu berpikir mungkin ada yang iri dengan kebahagiaan yang dimiliki olehnya bersama keluarganya mengingat beberapa orang terus mencoba untuk menculiknya atau bahkan ada yang berusaha untuk melenyapkan nyawanya.
dia tidak bisa mengingat banyak hal soal siapa yang menculiknya tempo hari dan kenapa orang-orang berusaha untuk mengejar dirinya, karena itu membuatnya khawatir jika dia kehilangan cara untuk melindungi diri kemudian dia direbut paksa dari keluarganya.
dia sudah sangat bahagia atas kehidupannya saat ini, Dan dia terkadang takut kehilangan kebahagiaan tersebut.
apalagi selama beberapa waktu ini mimpi buruk selalu mengancam dirinya di mana selalu ada wajah-wajah baru yang membuatnya takut untuk membuka bola matanya.
Vivian terlihat diam mendengar ucapan adiknya, dia masih mengelus kepala arsen kemudian dia berkata.
"aku mungkin bukan kakak yang baik untukmu, tapi percayalah siapapun yang mencoba untuk memisahkan kita akan kakak hancurkan satu persatu"
ucapan perempuan itu pelan sembari dia menyandarkan kepalanya di puncak kepala arsen lantas secara perlahan dia memejamkan bola matanya, menikmati kebersamaan antara kakak dan adik yang mungkin telah lama mereka lewati.