
Masa Vio dan Edo
Mari saling memberikan kelonggaran untuk berfikir sejenak.
Satu nasehat Eden yang panjang lebar cukup membuat Najat terdiam Tempo hari.
Meskipun ingin marah sekeras apapun atau bahkan ingin membunuh mereka sekalipun, realita nya najat dan atifa tidak bisa lagi mengulang waktu, memperbaiki keadaan, atau bahkan memisahkan Edo dan Vio.
Mereka benar-benar butuh waktu berfikir, mendinginkan kan keadaan bahkan mencoba mencari solusi dari permasalahan di masa kemarin.
Hingga akhirnya tercapai kesepakatan.
Merayakan pernikahan setelah Vio menyelesaikan SMA nya.
"Ingat jika kalian punya anak sebelum Vio lulus SMA aku bisa membunuh mu karena menghancurkan masa depan nya, tunda kehamilan, biarkan kehidupan vio berjalan layaknya anak gadis seumuran nya, rencanakan kuliah, baru boleh punya anak di saat vio benar-benar merasa siap lahir dan batin"
Daddy Vio bicara sambil melotot tajam ke arah Edo.
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika senyuman di wajah Edo merekah.
"Baik"
Jawab laki-laki itu cepat.
"Dan jangan senang dulu, kau pikir aku akan memberikan anak gadis ku secara gratis? tidak! aku ingin kamu memberikan aku mahar sebanyak 1 balok di bayar tanpa cicilan"
Ucap Najat cepat.
"What?"
Seketika Edo tercekat.
"Itu benar-benar bisa mencekik ku"
"Tidak sanggup? yah sudah kita bisa...."
"No...oke aku setuju, aku akan memberikan mahar nya di saat pembagian raport kenaikan kelas nanti"
Potong Edo cepat.
"Itu bagus"
Najat bicara dengan perasaan yang begitu puas.
Gila....1 balok? di bayar tunai?! yah yah menikahi anak perawan seseorang memang tidak murah, apalagi anak perawan Najat dan Atika.
Oh god...!!
Seketika Edo menghempas kan tubuhnya ke atas kursi sofa.
**********
Apartemen utama Edo
Jakarta
21.45 PM
Setelah melewati jam makan malam bersama, Najat, Edo dan Eden tampak sibuk mengobrol bersama di teras rumah, sedangkan para perempuan tampak sibuk bercerita di ruang tengah.
"Mari melakukan permainan catur hingga jam malam lewat"
Eden jelas menaikkan ujung alisnya, menatap penuh kecurigaan pada laki-laki itu.
Dia mengajak mereka bermain catur dengan menggunakan helm dan alat pemukul dalam permainan nya.
"Baik, aku akan mengambil catur dan helm nya"
Edo tampak ikut bersemangat mendapatkan tawaran itu, melesat pergi menjauh dari najat dan Eden.
"Jangan bilang kamu sengaja ingin melampiaskan kekesalan dengan permainan ini"
Eden bicara berbisik ke arah najat sambil menatap dalam wajah laki-laki dihadapan nya itu.
"Aku tidak punya cara untuk melampiaskan kekesalan pada nya, jadi aku fikir dengan permainan ini bukankah aku akan mendapatkan banyak kesempatan untuk memukul kepalanya yang bertahtakan helm dengan kayu pemukul?"
Ucap Najat sambil menampilkan ekspresi marah yang lucu.
"Aku benar-benar akan melampiaskan kemarahan ku sejenak pada calon menantu menyebalkan ku itu.
Seketika Eden terkekeh.
"Wow... baiklah, aku fikir perlu belajar trik ini untuk menghajar seseorang yang mungkin tidak aku sukai"
Ucap Laki-laki itu sambil menggelengkan kepalanya karena geli.
"Kenapa?'
Tiba-tiba Edo muncul dari arah belakang sambil membawa helm dan catur, lantas mulai kembali duduk di antara dua laki-laki itu.
"Tidak ada, aku sedang berfikir berapa banyak hukuman yang bisa diberikan tiap kali mendapatkan kekalahan"
Ucap Najat sambil mengembangkan senyuman licik nya.
"Jangan terlalu banyak,cukup satu pukulan setiap kali kalah'
Eden bicara sambil menyesap minuman nya.
"Tidak, aku fikir 3 pukulan cukup baik"
Sahut Najat sambil memainkan ujung alisnya.
Oh god, hubungan mertua dan menantu yang terlalu pelik.
Batin Eden sambil memijat-mijat kepalanya sejenak.
Untungnya aku belum punya anak, tidak bisa aku bayangkan bagaimana rasanya punya anak perempuan yang digoda laki-laki seumuran diri ku, ckckckck mungkin aku bisa menggila secara tiba-tiba.
Batin Eden lagi
Yah 3 pukulan tiap kali kalah cukup bisa membuat ku puas untuk menghajar mu, Edo!.
Ucap najat dalam hati sambil tertawa licik menatap Edo yang sejak tadi menampilkan wajah penuh kebahagiaan nya.
********
Entahlah saat outhor mendengar suara hati Eden, seketika outhor ingin tertawa terbahak-bahak πππππ€£π€£π€£
Belum tahu dia apa yang akan terjadi ke depan nyaπ€π€π€