
Mansion utama Bern.
"dia masih bersikeras untuk tidak mengakui jika Arsen adalah Aries"
Bern bicara Stephard, dia mencoba untuk membiarkan kedua tangannya bertumpu pada meja, bola matanya menatap ke arah laki-laki yang ada di hadapan nya tersebut, beberapa orang yang lainnya tempat duduk di atas kursi sofa mendominasi berwarna merah, entah masing-masing memikirkan apa yang jelas semua orang sedang berusaha memecahkan seluruh persoalan yang rumit saat ini.
"aku kesulitan untuk dapat bertemu dengan Aries karena seolah laki-laki itu memang diatur agar tidak sembarangan keluar ke manapun sehingga akan mempersulit kita atau siapapun agar sulit mendekatinya sejak awal, Vivian seolah-olah telah merencanakannya dengan baik dan benar, dia benar-benar sangat pintar dalam menyembunyikan seluruh kenyataan yang ada"
laki-laki tersebut bicara dengan cepat sembari menatap ke arah depannya untuk beberapa waktu.
"dia telah mengantisipasi sejak awal dan tahu beberapa orang akan menjadi ancaman untuk dirinya, aku tidak membenarkan apa yang dia lakukan tapi dia hanya berusaha untuk bertahan demi Patlers Paterson, karena jika ada yang mengetahui jika Arsen bukanlah Arsenal yang sesungguhnya dan orang-orang tahu laki-laki tersebut sudah meninggal maka kejayaan bukan lagi akan menjadi bagian daripada milik keluarga mereka dan dia mencoba untuk menghindari hal tersebut karena itu dia terus bersikeras perkata arsen bukanlah Aries."
Murat bicara diantara semua orang, mencoba untuk menenangkan keadaan dan menjelaskan bagaimana sudut pemikiran Vivian yang sebenarnya.
"tapi tetap saja dia salah ada orang lain yang merindukan laki-laki tersebut di mana laki-laki itu masih memiliki orang tua dan juga seorang adik"
Luck Stephard mengingat kan Murat, mungkin dia paham apa yang diinginkan oleh perempuan tersebut, dan dia paham apa yang menjadi rencana Vivian, namun tetap saja menurutnya itu bukan pemecahan masalah terbaik, perempuan itu sama saja hanya memikirkan tentang perasaannya saja dan keluarga nya saja tanpa memikirkan tentang perasaan orang lain juga ibu orang lain.
"aku tahu itu dan karena itulah membuat kepalaku terus berdenyut-denyut sejak tadi"
Jawab murat dengan cepat.
'aku tahu ini tidak akan mudah dan Vivian tidak akan pernah membuka suaranya bagaimanapun caranya, tapi kita harus memiliki rencana dan penghubung untuk bisa meluruskan semuanya dan membuat sebuah kesepakatan ditambah lagi laki-laki psikopat yang mengacaukan keadaan itu harus segera dimusnahkan"
Bern bicara cepat.
"Oh come apakah kita harus memusingkan soal ini sekarang? seharusnya kita semua memikirkan keselamatan Arsen, kau tahu dia berada dalam kondisi kritis nya, mari berdamai sejenak dalam situasi, ini membuat ku berdenyut-denyut"
Abigail menyeruak bicara, menyadarkan semua orang tentang keadaan.
"Sedikit mengalah, Eden sejak tadi dirumah sakit menunggu keadaan Arsen yang masih pada dua kemungkinan, kenapa kita disini harus memperdebatkan soal Vivian?"
Lanjut laki-laki tersebut lagi, dia mencoba mengingatkan semua orang saat ini yang menjadi persoalan mereka bukan Vivian tapi keselamatan Arsen.
"Oh god sejak kapan kalian lengah seperti ini? seharusnya kita kembali ke rumah sakit mencoba untuk memisahkan diri dan berusaha mencari tahu apa yang akan terjadi, berdoa agar Arsen alias Aries baik-baik saja"
Lanjut laki-laki itu lagi.
Yah seketika semua orang sadar, fokus mereka seharusnya pada keselamatan Arsen, setelah memastikan laki-laki tersebut baik-baik saja baru mereka memikirkan rencana selanjutnya.