
zurich switzerland
Swiss
jelang salju pertama kali jatuh
Ramira tampak berjalan keluar dari rumah sederhana keluarga kecil Mommy nya dengan langkah pelan, sebuah senyuman mengambang dari balik wajah nya.
Dia bahagia, sangat bahagia, untuk pertama kalinya selama seumur hidup nya, pertemuan dengan Mommy nya dan Daddy nya setelah sekian lama berpisah.
Satu kenyataan besar terjadi, dua sosok yang begitu dia cintai malam itu melarikan diri bersama bibi muda pengasuh nya dan paman baik hati, Daddy nya masih tetap mengalami lupa ingatan jangka panjang, tidak paham kenapa nyawa nya terancam.
Akhirnya menepi di zurich switzerland Swiss untuk waktu yang begitu lama, hingga akhirnya saat berita Karl pecah, Bern mencari informasi soal orang tua nya, laki-laki itu mendapatkan titik terang soal wanita yang tahu di mana orang tua nya.
Perjuangan panjang Bern mencari orang tua nya karena Daddy nya merupakan putra dari Ghanem Hurairah, Bern tidak bisa lepas tangan Karena hurairah dan de Lucas memiliki hubungan erat dimana saudara Daddy nya abraham menikah dengan putri De Lucas, meskipun mereka bercerai di masa lalu, tapi uncle Ibra de Lucas memiliki darah kental Hurairah.
Karena itu Bern harus bisa mendapatkan titik terang dimana Mommy dan Daddy nya berada bagaimana pun caranya.
Ingatannya dihari itu bagaimana dia menangis tersedu-sedu didepan pintu, dimana tubuhnya dipeluk oleh sang Mommy, tiba-tiba laki-laki tua menyeret langkah nya dengan kursi roda.
Seketika bola mata Ramira bertemu dengan bola mata laki-laki tua itu.
"Ahhhhhh?!"
Ramira berteriak tidak percaya saat tahu siapa yang ada dihadapan nya kala itu.
Yah itu adalah seseorang yang begitu spesial didalam hidup nya... seseorang yang ..
Air mata Ramira terus tumpah, perempuan itu beranjak dari posisinya, mendekati laki-laki tua itu yang memandangi wajah nya dengan tubuh gemetaran.
Sepersekian detik kemudian Ramira langsung menyambar tubuh tua tersebut.
Yah dia adalah Seseorang yang dimasa lalu pertama kali meraih tangan nya, seseorang yang menjadi cinta pertama nya saat anak-anak, seseorang yang pertama kali mencium dan memeluk nya, seseorang yang memiliki tangan yang begitu Kokoh, mengajarkan dirinya pertama kali berjalan, yang selalu berkata semua akan baik-baik saja, seseorang yang dulu selalu dia banggakan pada teman-teman sekolah nya, seseorang yang sosok nya tidak mungkin tergantikan oleh siapapun didalam hati nya.
"Dad....dad..."
Dia Fikir dirinya tidak akan pernah melihat sosok ini lagi, dia tidak mungkin menyentuh tubuh dan wajah itu lagi, sebab sosok itu telah terlalu lama menjadi bayangan didalam hidup nya, kala dia tidur hanya menjadi mimpi terindah nya, kala terbangun mimpi itu menghilang bagaikan bayangan semu yang tidak pernah lagi menjadi nyata.
Tapi hari ini..?!
Bagaimana bisa? tuhan apakah ini bonus dari puncak kesabaran ku? dari jutaan sakit yang menghantam diri ku dimana rasa sakit itu mengalahkan sakit nya ribuan jarum yang menghantam diri ku atau bahkan mengalahkan jutaan amunisi yang menerjang tubuh ku?.
Dimana rasa sakit itu telah menghilang seiring berjalan nya hidup melewati jutaan waktu, hingga membuat aku tidak lagi mengeluh atau bahkan meminta setitik kebahagiaan pun saking pasrah nya aku setelah engkau memperlakukan nasib ku.
Apakah ini bonus? atas jutaan kesabaran yang telah berganti menjadi lelah hingga membuat diri ku pasrah dengan takdir yang engkau coretkan di atas kertas putih didalam garisan tangan yang harus aku lewati?.
Jika iya maka aku benar-benar berterima kasih untuk bonus luar biasa hari ini, aku bersumpah tidak akan meminta kebahagiaan lain, sebab saat ini kebahagiaan ini sudah terasa luar biasa untuk ku, Mommy, Daddy dan Sesuatu yang terus berkembang didalam hidup ku, dan aku mohon saat aku bangun di ke esokan hari nya, jangan musnahkan mimpi ini, sebab jika tidak entah bagaimana aku bisa melewati hidup ku sekali lagi.
Langkah kaki perempuan itu terus bergerak menapaki jalanan kota zurich switzerland, dia melangkah mencari sebuah toko buku dimana belakangan dia mulai memiliki kebiasaan baru Membaca banyak sekali buku-buku di waktu senggang nya.
Sejenak dia mulai melangkah masuk menuju ke sebuah toko buku dengan bola mata yang menatap kagum pada susunan indah buku-buku yang di hadapannya itu.