
Mansion utama Hurairah
Setelah makan malam bersama
21.10 PM
Seketika Ramira membulat kan bola mata nya saat semua orang mulai membahas pernikahan mereka, Mommy dan daddy nya terlihat begitu serius bicara dengan Eden, bahkan Grandma dan Grandpa nya terus membicarakan soal beberapa persiapan yang katanya sudah di buat Sematang mungkin sejak bulan lalu.
Liliana membahas soal catering dan juga desainer pengantin mereka, mencoba bertanya gaun mana dari rekomendasi nya yang paling kakak nya itu sukai.
Farhan sibuk dengan urusan undangan, dia punya PR besar soal undangan nya.
Pernikahan mereka akan dilaksanakan lebih dulu dari Farhan dan liliana.
Ramira jelas tercekat, dia fikir artinya saat dia pergi ke Swiss Zurich Switzerland semua orang telah mengatur pernikahan mereka.
"Kamu membuat pernikahan kita tanpa sepengetahuan ku?"
Tanya Ramira setelah semua orang mulai memecah diri, duduk di posisi nyaman mereka masing-masing.
"Hmm"
Laki-laki itu hanya menjawab hmm, menyentuh lembut kepalanya lantas mengusap lembut kepala Ramira.
Sejenak Eden mencium puncak kepala Ramira, dia tersenyum sambil menyerahkan sesuatu kepada Ramira.
"Ini apa?"
Tanya Ramira sambil mengerutkan keningnya.
"Bukalah"
Jawab Eden pelan.
Secara perlahan Ramira membuka kertas yang diberikan oleh laki-laki itu pada nya.
Seketika bola matanya berkaca-kaca saat tahu apa isi didalam kertas tersebut.
Itu adalah undangan pernikahan mereka.
"Kamu menyukainya?"
"Kalian bahkan membuat undangan nya dari jauh-jauh hari?"
Tanya perempuan itu dengan tatapan berkaca-kaca.
Eden mengangguk pelan.
"Hmmm"
Ucap Eden pelan.
"Kamu masih ingat hal dan konsep yang aku sukai?"
Ramira menoleh cepat kearah Eden, seketika bola mata mereka saling bertemu.
"Selalu ingat dengan apa yang kamu sukai"
Laki-laki itu bicara setengah berbisik, sepersekian detik kemudian tiba-tiba Eden menyatukan hidung mereka.
"Aku melewati grandma dan Grandpa lebih dulu, meminta restu dari mereka terlebih dahulu, kemudian menemui uncle dan untie, meminta restu kembali setelah masa kanak-kanak dulu dimana aku pernah meminta kamu agar menjadi satu-satunya milik ku"
Jelas Eden sambil bola matanya terus menatap dalam bola mata perempuan yang ada dihadapan nya itu.
"Setelah memastikan mendapatkan restu, kami menyusun pernikahan nya, kemudian aku dengan jutaan kenekatan mencoba mengejar kamu ke Swiss Zurich Switzerland"
Lanjut Eden lagi.
"Kamu tahu? aku baru sadar aku menunggu begitu lama untuk bisa menggenggam erat tangan ini"
Seketika Eden menurunkan pandangan nya, dia menggenggam erat telapak tangan Ramira.
"Aku tidak pernah menyadari, bocah kecil yang melambaikan tangan nya pada ku untuk terakhir kalinya hari itu adalah gadis yang sama yang mendatangi ku pertama kali di keluarga Al Jaber"
Eden mencoba mengingat kan moment pertama ketika mereka bertemu dimasa lalu.
Kala itu Ramira datang sebagai calon menantu keluarga Al Jaber sebagai gadis yang akan dinikahkan dengan Murat.
Gadis cantik itu tersenyum begitu manis saat pertama kali melangkah kan kakinya ke kediaman utama Al Jaber.
Saat Murat berhadapan dengan sosok Ramira di lantai bawah, saat itu Eden menatap dalam wajah Ramira dari arah lantai atas, pandangan nya menukik tajam kearah gadis kecil itu, dan dalam hitungan detik bola mata mereka saling bertemu untuk waktu yang begitu lama.
Entah kelas berapa Ramira kala itu, yang jelas bagi Eden saat itu gadis yang dia lihat dibawah sana usia nya pasti terpaut begitu jauh dengan dirinya.