Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Merindukan mu begitu dalam



Mommy dan Daddy nya pergi ke Indonesia melihat Liliana, mereka bilang pernikahan sang adik dan Farhan semakin dekat, dia memilih tidak ikut, sebab mencoba menghindari Eden atas rasa takut yang menghantam dirinya.


Dia takut laki-laki itu semakin membenci dirinya atas peristiwa dimasa lalu yang menarik Keluarga Eden demi melindungi mereka.


Bagi Ramira seharusnya laki-laki itu telah bahagia bersama masa depan nya, bersama Asha, menikmati hari-hari mereka tanpa ada nama RAMIRA di antara dua orang tersebut.


Tangan perempuan itu meraih sebuah buku di rak tengah tepat dihadapan nya, sebuah novel lawas seri detektif menjadi bacaan kesenangan nya saat ini, dia fikir dia akan menghabiskan waktu membaca beberapa buku ****** tidur nya malam ini.


Dia mungkin akan bosan selama dirumah seorang diri sebab Mommy dan Daddy nya akan kembali untuk waktu yang cukup lama.


Setelah membayar buku yang dia pilih, Ramira melangkah pergi dari sana, kembali ke rumah sederhana yang belakangan menjadi tempat persinggahan ternyaman nya.


Saat kakinya melangkah masuk kedalam rumah, sejenak Ramira berjalan menuju ke arah dapur, membuka lemari pendingin dan mencari susu ibu hamil untuk dirinya, perempuan itu menghabiskan susu miliknya lantas mulai membasuh gelas bekas minum nya, setelah itu langkah kaki Ramira mulai berjalan melewati ruang tamu menuju ke arah tangga atas Menuju ke arah kamar miliknya.


Dia menghela pelan nafasnya ketika membuka handle pintu kamar nya, perempuan itu mencoba merebahkan diri nya ke atas kursi santai yang menghadap ke arah jendela, mencoba mencari posisi ternyaman nya disana sambil mulai membuka buku yang baru dia beli tadi.


Ramira tampak mencari sesuatu di bawah tempat duduknya, ditangan nya terdapat sebuah pulpen berwarna emas, dia mengembangkan senyuman nya, mencoba menulis sesuatu didalam buku tersebut ketika pertama kali dia membuka bungkusan plastik penutup nya.


Kemudian setelah itu Ramira meletakkan kembali pulpen tersebut, lalu dia mulai membaca buku tersebut ditemani keheningan udara zurich switzerland yang terasa mulai mendingin, hembusan angin yang menerpa melewati jendela terasa menepis lembut kearah wajah nya, dia ingin sekali menutup kaca jendela tersebut, tapi rasa enggan dan kantuknya mengalahkan seluruh keinginan hati nya.


Secara perlahan rasa lelah dan kantuk mulai menerjang dirinya, bola matanya tampak begitu sayu dan pelan-pelan mulai terpejam begitu saja.


Buku bacaan miliknya tampak bersandar manis dibalik perut nya yang mulai memadat bersama dengan kedua tangan nya yang terus memeluk erat buku tersebut.


Cukup lama posisi nya seperti itu, hingga tiba-tiba seseorang muncul dibalik lemari besar tepat disamping kasurnya, sosok laki-laki dengan tubuh besar tinggi nya tampak mengulumkan senyuman, berjalan kearah jendela lalu menutup nya secara perlahan, kemudian mendekati Ramira lantas menyentuh lembut rambut perempuan itu dengan jutaan kerinduan nya.


Laki-laki itu berjalan memutar, berdiri tepat di hadapan Ramira lantas mulai duduk bertumpu pada kedua kakinya, dia meraih buku di tangan Ramira, mencoba membaca tulisan yang di buat perempuan itu tadi.


Laki-laki itu mengulum senyuman nya.


Dia Fikir Ramira selalu berkata tidak mencintai dirinya, tapi diseluruh sudut kamar yang perempuan itu tempati terdapat foto mereka dan foto nya, nama nya terukir dimana-mana bahkan di kartu pemeriksaan kehamilan ada nama nya dengan gambar hati yang juga terukir disana.


Secara perlahan Tangan laki-laki itu menggenggam erat kedua tangan Ramira, lantas secara perlahan dia meletakkan tangan perempuan itu tepat ke pipi kanan nya, menggerakkan telapak tangan nya agar telapak tangan lembut itu mengelus pipi kanan nya


Jutaan kerinduan jelas terlihat dibalik bola mata nya, dia ingin sekali tertawa saat mengingat apa yang di ucapkan Mommy Ramira saat pertemuan mereka di Indonesia.


"Dia takut kamu membencinya karena keluarga kalian melindungi diri nya dan kami dimasa lalu, membuat Daddy mu tewas, membuat Mommy mu koma dalam waktu yang begitu lama, membuat kamu menderita, dan semua orang didekat mu juga menderita"


Bagi nya semua itu menjadi lembaran lama, laki-laki itu tidak lagi ingin melihat kebelakang saat ini, meskipun alasan keluarga nya hancur karena melindungi Ramira, tapi bagi nya garisan takdir sejak awal sudah dituliskan tuhan.


Kali ini dia hanya ingin menjemput kebahagiaan nya, dia ingin melupakan segala sesuatu dimasa lalu, tidak ada yang perlu dia ingat lagi soal hal yang lalu saat ini.


Fokusnya hanya pada Mama nya, Ailee, Belle, Ramira dan sesuatu yang berkembang didalam perut indah itu.


Dia menyentuh lembut perut Ramira, mencium perut itu secara perlahan.


Sepersekian detik kemudian laki-laki itu mulai meraih tubuh Ramira, menggendong nya dengan begitu perlahan karena takut membangun kan perempuan yang dia anggap begitu keras kepala itu menuju ke atas kasur yang mendominasi berwarna cream.


Dia meletakkan tubuh itu secara perlahan disana, lalu dia ikut memposisikan diri, tidur membelakangi tubuh Ramira, memeluk erat tubuh itu dari belakang dan bersumpah didalam hati jika dia tidak akan melepas kan lagi genggaman nya dari perempuan keras kepala itu didalam hidup nya.


"I love you"


Bisik laki-laki itu pelan sambil terus mengencangkan pelukannya pada Ramira, lalu dia ikut memejamkan perlahan bola matanya, menikmati waktu sore yang mulai mendingin jelang winter di kota zurich switzerland.