
Saat Arsen berkata begitu, seketika membuat Eden menaikkan ujung alisnya, laki-laki tersebut langsung menatap wajah Arsen.
Sejenak keheningan terjadi di antara semua orang di mana beberapa orang menatap ke arah Eden dengan cepat.
"benarkah?"
Ramira bertanya antusias, tidak menampilkan sisi terkejut nya, dia menatap Arsen sambil mengembangkan senyuman nya.
"sayang aku pikir muka mu sedikit pasaran"
Ramira menggoda suaminya, melirik kearah Eden dengan jahil.
Laki-laki tersebut tertawa kecil diikuti oleh yang lainnya.
"Suami kakak seperti seorang aktor, aku pikir dia mirip aktor Turki, apa aku salah?"
Flow bicara sambil tertawa manis.
"Ohhh dia benar-benar tampan, aku sedikit melayang-layang saat tahu suami ku mirip aktor, apa aku harus mengikat nya? aku khawatir akan ada banyak perempuan yang menyukainya"
Ucap Ramira dengan cepat.
Eden seketika menjadi maling dia meraih pinggang istrinya sembari membiarkan tangannya bergerak dengan nakal mencubit gemas istrinya tersebut, tangan kanan nya menyentuh tengkuknya pelan.
"Aku pikir mereka mirip"
Arsen bicara sambil mengulum senyuman nya, masih memperhatikan wajah Eden.
entahlah rasanya terlalu familiar, seolah-olah pernah bertemu beberapa kali entah kapan, tapi seolah-olah memang benar-benar pernah bertemu bahkan bicara bersama.
"suamimu memang tampan sayang, tidakkah kamu menyadarinya?"
Mommy Arsen bertanya cepat pada Ramira.
Yang ditanya terlihat malu-malu kucing.
"tidak perlu mengikatnya, laki-laki yang sudah cinta mati pada perempuannya akan sedikit sulit untuk berpaling dengan perempuan lain, dia mengejarmu dalam beberapa dekade, tepatnya dia jatuh bangun menginginkanmu bahkan melamarmu berkali-kali sebelumnya"
Nyonya Alexander bicara dengan cepat, di Swiss berita soal Ramira penerus Hurairah jelas terdengar begitu kencang kesana kemari, bahkan cerita soal para laki-laki yang mengejarnya dan tergila-gila pada perempuan tersebut terdengar di mana-mana.
dia tidak heran jika banyak yang menyukai Ramira, perempuan itu sangat pandai mengambil hati orang lain, sebenarnya nyonya Alexander mengenal ramira bukan dari keluarga Hurairah, tapi dia mengenal Ramira dari keluarga ayah angkatnya Archelic Construction,dia paham betul dan sangat tahu bagaimana karakter Ramira.
Anak itu benar-benar memiliki attitude dan kepribadian yang sangat disukai semua orang.
Dimasa lalu dia berharap Arsen mengenal Ramira, tapi putra nya masih terlalu sibuk dengan dunia kelam dan perempuan satu malam nya, sedangkan Ramira tidak suka pada laki-laki petualang, karena itu dia tidak pernah berhasil mendapat kan perempuan tersebut untuk dijadikan sebagai calon menantunya padahal dia jelas sangat mengharapkannya.
Dan satu hal mengejutkan dirinya saat dia tahu jika rame-rame merupakan ahli waris dari keluarga Hurairah di Swiss, hal tersebut semakin membuat nyonya Alexander merasa rugi tidak menjadikan perempuan itu sebagai menantu pilihannya.
"jadi tanpa perlu kamu ikat aku pikir suamimu tidak akan pernah berani beranjak ke mana-mana"
akhirnya wanita tersebut kembali menambahkan percakapan mereka.
"jadi jangan sesekali kamu menyia-nyiakan istrimu, nak. kau tahu Bibi pernah berharap dia menjadi menantuku, tapi mendapatkan istrimu tidak semudah membalikkan telapak tangan, dia cukup sudah untuk jatuh cinta pada orang lain, aku bilang kau beruntung menjadi pilihannya diantara banyak laki-laki yang menginginkannya"
setelah berkata seperti itu nyonya Alexander meletakkan buah yang ada di sisi kanannya atas meja di mana Ramira dan Eden berada, dia menatap laki-laki muda dihadapannya itu sambil mengembangkan senyumannya.
Eden terlihat tidak menjawab sama sekali ucapan dari wanita di hadapannya tersebut, dia hanya mengagumkan kepalanya kemudian mencoba untuk meraih telapak tangan Ramira dan menggenggamnya secara Erat.
laki-laki itu mengembangkan senyumannya ke arah istrinya.
dia mana mungkin menyia-nyiakan Ramira, untuk sampai pada titik ini dan mendapatkan istrinya bukan hal yang mudah, jatuh bangun jelas terus dia rasakan, bahkan perjalanan cinta mereka tidak semudah membalikan telapak tangan, ada berbagai macam perjuangan hingga mereka sampai pada titik ini.
dia bahkan harus berjuang mati-matian bersaing pada banyak orang, bahkan harus dibohongi dari berbagai macam sisi hingga dia melepaskan ramira di masa kemarin, ada banyak sekali penyesalan penyesalan yang terjadi pada dirinya, yang mungkin tidak bisa dia perbaiki di masa lalu tapi dia berjanji akan memperbaiki di masa yang sekarang dan masa akan datang juga tidak akan pernah menyia-nyiakan istrinya.
mendapatkan Ramira seperti hari ini bagaikan sebuah mimpi, bahkan bisa menikah dengan perempuan tersebut juga bagaikan sebuah halusinasi, dia fikir dia tidak mungkin sampai pada masa ini jika dia ingat apa yang terjadi di masa kemarin.
pernikahannya dengan Asha mantan istrinya yang telah dimanipulasi, ramira mengorbankan perasaannya demi orang tua Asha, perempuan itu diperlakukan dengan tidak adil demi untuk melepaskan dirinya hanya untuk gadis lain dan kebahagiaan ibu orang lain.
jika dia ingat bisa dia rasakan betapa sedihnya Ramira pada masa itu Dan dia bisa-bisanya berpikir jika ramerah menghianati dirinya dan bukan merupakan perempuan baik-baik sebagaimana apa yang dia lihat ketika ramaira dijebak oleh mama Asha.
laki-laki tersebut menghela nafasnya sembari dia masih terus menggenggam erat telapak tangan istrinya.
di tengah pemikiran Eden, arsen terus memperhatikan wajah Eden untuk beberapa waktu dimana Flow kini secara perlahan dan menyuapinya, laki-laki itu terus berpikir hingga pada akhirnya dia merasa kepalanya tiba-tiba tersentak sakit.
Arsen mencoba menahan sakit dikepala nya, dia pikir belakangan kepalanya sering berdiri tidak menentu di mana seolah-olah ada beberapa ingatan yang begitu asing masuk ke dalam kepalanya.
dia tidak berani bicara pada mommy nya atau kepada kakak perempuannya, takut jika kedua orang tersebut cemas melihat kondisinya, Arsen pikir dia hanya butuh minum obat sakit kepala, tapi bukannya menghilang tapi terkadang sakitnya malah semakin berdenyut-denyut tidak menentu.
kapan dia pertama kali merasakan sakit kepala yang begitu hebat hingga akhirnya berulang-ulang?.
pertemuannya dengan perempuan muda yang ada di toko perhiasan itu, aroma khas ya seolah-olah pernah dia cium sebelumnya dan juga wajah yang cukup mengganggu dirinya, belum lagi suara perempuan tersebut yang terasa sangat tidak asing dan seolah-olah menari-nari di atas kepalanya selama beberapa waktu.
pertemuan itu dia pikir biasa-biasa saja, namun semakin lama mulai mengganggu dirinya bersamaan dengan satu kalung yang ada di lehernya di mana kalung tersebut terukir nama Lea.
Dia tampak diam untuk beberapa waktu.
"Kamu baik-baik saja sayang?"
nyonya Alexander bertanya pada arsen sembari menatap kearah putranya dengan perasaan khawatir, dia pikir laki-laki itu sepertinya kurang baik-baik saja.