
Rumah sakit xxxxxxxx
Manhattan
04.40 pagi
Suara ambulance yang memekakkan telinga masih terdengar jelas di depan sana, beberapa dokter mulai membawa tubuh Liliana di atas branker dorong dengan cara di telungkup mengingat luka tembakan parah menembus punggung nya.
Farhan sudah nyaris seperti orang gila, mengejar keberadaan Liliana dengan gerakan panik dan bingung, bahkan luck tidak berhasil menenangkan dirinya sejak tadi.
Eden menggendong Ramira dengan cepat menuju ke arah ruang perawatan, bola matanya mencari seseorang disana, seorang dokter yang begitu familiar untuk dirinya.
"Eden?"
Seorang perempuan menatap heran ke arah Eden , secepat kilat dia memerintahkan beberapa perawat untuk meletakkan perempuan yang eden gendong dalam pelukan nya ke branker dorong.
"Apa dia baik-baik saja?"
Eden bertanya panik, berusaha menggenggam erat telapak tangan Ramira sambil bola mata nya menatap ke arah dokter perempuan yang ada dihadapan nya itu.
"Oke kita akan melihat nya, tarik nafas mu dan buang, jangan panik, kamu bisa menunggu di luar"
Ucap perempuan itu pelan sambil membiarkan 2 perawat membawa tubuh Ramira kedalam ruangan.
"No"
Eden jelas tidak mau, dia mulai hafal watak Ramira, dia jelas tidak ingin melepaskan genggaman nya kali ini pada perempuan itu.
Dia tahu, sekali lagi dia melepaskan genggaman Dan pandangan nya dia takut Ramira kembali menghilang dari kehidupan nya.
"Aku akan terus berada didekat nya"
Ucap Eden lagi.
"Dia istri mu?"
Eden tampak diam sejenak.
"Ya"
Jawab laki-laki itu cepat.
Perempuan itu bicara lantas membiarkan Beberapa perawat membawa masuk tubuh Ramira dan kedalaman diikuti Eden yang terus menggenggam erat tangan perempuan itu.
Cukup lama dokter perempuan itu berusaha memastikan keadaan Ramira dengan beberapa rangkaian pemeriksaan.
"Istri mu hamil trimester pertama?"
Tanya perempuan itu pada Eden.
"Ya?? aku Fikir iya"
Jawab Eden Cepat.
"Bayi nya terlihat baik dan sehat, hanya saja sang Mommy nya terlihat begitu lelah dan ..."
Perempuan itu menghentikan kata-kata nya.
"Aku fikir istri kamu mengalami rasa stres selama kehamilan"
Lanjut perempuan itu pelan.
"Kamu tahu Eden? tubuh ibu hamil akan memproduksi hormon stres yang bernama kortisol. Ketika jumlah hormon stres tersebut meningkat, pembuluh darah di dalam tubuh akan menyempit. Hal ini membuat aliran darah dan pasokan oksigen ke janin menjadi berkurang dan membuat tumbuh kembangnya terganggu, aku fikir istri mu butuh quality time terbaiknya, seperti kehidupan tenang tanpa ada gangguan"
Sejenak setelah mendengarkan ucapan sang teman, Eden menelan Saliva nya, jutaan rasa bersalah jelas menghantam dirinya.
Maafkan aku, maafkan aku.
Ucap Eden pelan sambil terus menggenggam erat tangan Ramira, kemudian laki-laki itu secara perlahan mencium punggung tangan Ramira dalam diam.
Disisi lain.
Asha sejenak membeku di atas kursi rodanya saat melihat sosok Eden yang berlarian dari arah depan menggendong erat tubuh Ramira, wajah tampan disertai kepanikan luar biasa itu terus menyusuri seluruh ruangan rumah sakit.
Saat seorang dokter perempuan dan beberapa perawat mendekati Eden, Asha bisa melihat laki-laki itu terus menggenggam erat tangan Ramira, sedikitpun tidak mau melepaskan nya, bahkan ketika dokter perempuan itu berkata...
"Oke kita akan melihat nya, tarik nafas mu dan buang, jangan panik, kamu bisa menunggu di luar"
Ucap perempuan itu pelan sambil membiarkan 2 perawat membawa tubuh Ramira kedalam ruangan.
"No"
Melihat ekspresi Eden Asha Tampak tidak bergeming.
"Aku akan terus berada didekat nya"
"Dia istri mu?"
"Ya, ah iya"
Dan seketika Asha menelan salivanya sejenak, Eden seperti nya tidak menyadari keberadaan nya saat ini, gadis itu menarik pelan nafasnya, sepersekian detik kemudian Asha tampak mengulas senyuman nya, dia membuang pandangannya dan melihat laki-laki orientasi di belakang nya tampak ikut melebarkan senyuman nya ke arah nya.
"Waktu Operasi mu semakin dekat hmm"
Ucap laki-laki itu lembut, mencium lembut puncak kepala Asha.
Gadis itu mengangguk, membiarkan laki-laki itu membawa nya kembali masuk ke dalam kamarnya jelang menunggu para dokter menjemput nya untuk melaksanakan prosedur operasi.
"Surat-surat nya sudah siap?"
Tanya Asha tiba-tiba.
"Hmmm"
Laki-laki itu mengangguk pelan.
"Aku akan menandatangani surat cerai nya sekarang, aku ingin saat aku sadar kami sudah tidak lagi memiliki status antara suami dan istri"
Ucap Asha sambil menatap dalam wajah laki-laki itu.
"Kau benar-benar yakin? tidak akan menyesali nya?"
Tanya laki-laki itu lantas langsung berjalan kehadapan Asha, dia langsung duduk tepat dihadapan gadis itu.
Asha tampak tersenyum.
"Bukan kah mencintai saja tidak cukup didalam pernikahan? Ketika aku adil pada hati orang lain, bukankah Tuhan juga akan adil pada hati ku nanti? aku tidak akan menyesali nya"
Ucap Asha pelan.
Laki-laki itu diam sejenak, lantas memeluk perlahan tubuh Asha.
Sepersekian detik kemudian Gadis itu menangis terisak di atas pundak nya.
"Meskipun rasa nya sakit, tapi entahlah rasa nya cukup lega setelah membuang beban berat beberapa waktu ini"
Ucap Asha masih terus terisak di atas bahu kekar laki-laki itu.
"Aku juga tidak rugi kok, aku masih seorang perawan"
Ucap Asha sambil terkekeh sejenak lantas kembali menangis didalam pelukan laki-laki itu.
Laki-laki itu ikut terkekeh sejenak, kemudian dia semakin mempererat pelukannya.
"Semua pasti baik-baik saja hmm"
Bisik nya sambil menepuk-nepuk punggung Asha.