Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Temukan yang nyaman lebih dulu



Beberapa hari berikutnya


Jelang pernikahan Arsen dan flow.


"Bagaimana? apakah pakaian nya cukup nyaman?"


Seseorang bertanya kearah Arsen, menatap kearah laki-laki tersebut lekat, berharap jika jas pengantin yang digunakan oleh Arsenal sesuai dengan apa yang diharapkan oleh laki-laki tersebut mengingat waktu sudah cukup terjepit pada pernikahan mereka.


jadi seandainya jika ingin diganti dan lain sebagainya itu sangat terjepit sekali dan juga sedikit tidak memungkinkan untuk melakukannya lagi.


Arsen masih belum menjawab sama sekali ucapan dari wanita yang ada di hadapannya tersebut, dia masih membiarkan seorang perempuan mengepaskannya ke tubuhnya dan arsen berusaha untuk memperhatikan dirinya tepat di hadapan sebuah cermin tersebut.


saat dia menatap dirinya di dalam cermin tersebut sejenak tanpa sengaja dia mengintip sosok flow yang terlihat bingung dengan pakaian miliknya, seulas senyuman mengambang dibalik wajah laki-laki tersebut, dia kemudian mengulum senyumannya.


"Kenapa?"


Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya, arsen menoleh.


Itu adalah kakak nya.


"Dia cantik?"


Vivian bertanya sambil sedikit berbisik.


mendengar pertanyaan dari kakak perempuan yang seketika membuat Lucas terlihat malu.


"kamu menatapnya dengan penuh cinta sayang"


Ucap Vivian sambil mengulum senyuman nya, dia bisa menebak jika adik laki-lakinya tersebut memang benar-benar jatuh cinta pada flow, dia bisa melihat tatapan dari bola mata laki-laki tersebut untuk gadis yang ada di ujung sana.


setiap kali arisan melihat flow seolah-olah bola matanya tidak ingin lepas dari gadis tersebut, mungkin flow memang bukan orang kaya, tapi ada satu sisi yang membuat beberapa laki-laki pasti akan jatuh cinta padanya dengan sosok gadis tersebut.


dan tidak heran jika arsen menyukai flow.


yang pertama jelas flow adalah sosok yang begitu cantik, berikutnya flow memiliki attitude yang baik, lantas gadis tersebut begitu lembut dan juga sangat Mandiri dalam banyak hal, di daerah akan ada banyak laki-laki yang memuji gadis tersebut.


Arsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan kakak perempuannya itu, dia pada akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan sembari meminta pendapat pada kakaknya.


"bukankah ini pas aku pikir tidak ada yang kurang?"


dia menanyakan soal jas yang digunakannya saat ini.


Vivian sejenak terlihat menatap arsen untuk beberapa waktu sembari dia memperhatikan apakah jas tersebut memiliki kekurangan atau tidak, bola mata perempuan itu menulis Arsen dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya.


"Aku pikir ini cukup"


pada akhirnya dia memberikan pendapat, menurutnya tidak ada yang kurang dan itu pas tidak kekecilan juga tidak kebesaran, sangat profesional di tubuh adiknya tersebut.


"apakah pakaian keluarga sudah semua?"


Arsen menanyakan hal tersebut juga kepada kakaknya.


Vivian langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Mommy Anda tidak suka dengan warnanya kamu tahu mommy suka dengan warna-warna sedikit terang dan cerah, tapi dia bilang daddy tidak menyukainya"


Vivian bercerita sedikit sembari terkekeh kecil.


"aku bisa menebaknya mereka pasti sedikit berdebat?"


"dan kamu pasti sudah tahu itu"


ucap Vivian dengan cepat sembari mengumumkan senyumannya kemudian dia menoleh ke arah flow.


"aku pikir calon istrimu sedikit kesulitan untuk mencari sepatu terbaik untuknya, pergilah ke sana dan berikan pendapatmu padanya"


sang kakak bicara dengan cepat mencoba untuk meminta Arsen mendekati calon istrinya tersebut.


laki-laki itu tidak menjawab dia hanya mengulang senyumannya kemudian dia berusaha untuk mendekati flow sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh kakak perempuannya itu.


laki-laki itu mendekati flow sembari menatap gadis tersebut untuk beberapa waktu, dia memilih tidak mengeluarkan suaranya sama sekali membiarkan tatapannya tidak berubah ke mana-mana, memuji apa yang ada di hadapannya dan membiarkan dirinya tidak melepaskan pandangannya.


dia hanya suka menatap sosok flow dan baginya itu membuatnya cukup bahagia, mungkin dia merupakan laki-laki yang sedikit murahan karena begitu gampang jatuh cinta dengan seorang gadis tapi itu hanya berlaku untuk lo dan tidak untuk perempuan atau gadis lainnya meskipun tidak dipungkiri sudah ada banyak gadis dan perempuan bisa untuk mendekati dirinya.


tidak tahu kenapa baginya flow seolah-olah mengingatkannya pada seseorang yang tidak bisa dijabarkan sedikitpun, seakan-akan saya sampai di situ adalah sosok yang begitu dia rindukan cukup sama persis dan mampu membuatnya berdebar-debar.


seketika Arsen tersentak dari pemikirannya dan juga pandangannya ketika bahunya tidak sengaja disentuh oleh seseorang.


"Anda bisa memberikan pendapat pada calon pengantin?"


satu perempuan bertanya sembari mengembangkan senyumanmu.


Arsen buru-buru menganggukan kepalanya kemudian dia mendekati flow dan memperhatikan beberapa sepatu yang telah berjajar dengan rapi di hadapan gadis tersebut .


"belum menemukan yang cocok?"


pada akhirnya Arsen bertanya pada flow, gadis tersebut langsung menggelengkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya.


"aku cukup bingung untuk memilihnya mana yang paling cocok untuk diriku"


gadis itu menjawab pelan sedikit gelisah dan malu karena baginya ini terlalu berlebihan mengingat siapa dirinya dan siapa arsen, mereka berbeda bagaikan langit dan bumi, dia yang hanya orang biasa sedangkan arsip memiliki segala-galanya.


terkadang dia malu dan dia takut ini hanya bagian daripada mimpinya, tapi setiap kali dia mencoba untuk mencoba tubuhnya atau pipinya realitanya ini semuanya nyata, dan dia cukup takut jika suatu hari dia terbangun dan tersentak dari tidur panjangnya.


" pilihlah sesuatu yang membuatmu nyaman terlebih dahulu"


pada akhirnya Arsen membuka suara, dia memperhatikan barisan sepatu yang ada di hadapannya.


"mana menurutmu yang paling nyaman di antara mereka? karena mahal saja tidak cukup, bahkan indah saja pun tidak cukup, sama seperti memilih pasangan mereka harus mampu membuatmu nyaman terlebih dahulu kemudian baru pokok yang lainnya hmmm"


Ucap laki-laki tersebut sembari mengembangkan senyumannya, membuat flow langsung menoleh ke arah arsir untuk beberapa waktu.


"Mari kita coba satu persatu dan kita lihat mana yang paling membuat kamu nyaman"


laki-laki tersebut memang seperti itu begitu sabar dan juga tidak gegabah, arsen cukup berhati-hati dan juga sangat lembut baginya, terkadang slow menjadi malu sendiri dengan tindakan laki-laki tersebut.


Arsen mengulur kan tangannya dan menunggu agar flow memilih salah satu diantara sepatu tersebut namun meminta flow untuk mengujinya satu persatu terlebih dahulu.


gadis itu pada akhirnya mengikuti saran arsen dan mencoba untuk memakai satu persatu sepatu-sepatu itu dan memastikan mana yang membuatnya nyaman di antara semua yang ada hingga pada akhirnya satu pilihan didapatkan oleh setelah pencarian yang cukup panjang.


"sudah yakin yang ini?"


Arsen kembali memastikan hingga berakhir pada anggur kan flow yang berkata dia telah memastikan pilihannya.


"Ya"